RADAR BOGOR – Sebanyak 50 pemuda desa mengikuti Pelatihan Pengembangan Kapasitas Pemuda Desa dalam Membangun Smart Agribusiness Ecosystem melalui Teknologi Fine Bubble, Hidroponik, dan Business Model Canvas (BMC).
Pelatihan digelar di Desa Cendikia ICMI, Desa Sadeng Kolot, Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor, Sabtu 9 Agustus 2026.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas generasi muda agar mampu mengembangkan usaha pertanian modern berbasis teknologi, inovasi, dan kewirausahaan.
Pelatihan tersebut menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi yang membahas berbagai materi.
Mulai dari pengembangan kapasitas pemuda desa, penerapan Plasma Fine Bubble Technology pada budidaya hortikultura, dasar-dasar hidroponik modern, hingga penyusunan Business Model Canvas (BMC) sebagai strategi membangun usaha agribisnis yang berkelanjutan.
Selain mendapatkan materi di kelas, peserta juga mengikuti demonstrasi dan praktik penggunaan Plasma Fine Bubble Technology pada produk hortikultura.
Baca Juga: Resep Nasi Capcay Goreng, Comfort Food Simpel yang Lezatnya Bisa Saingan Restoran
Teknologi ini menjadi salah satu inovasi pascapanen yang mampu membantu mengurangi residu pestisida sekaligus mempertahankan mutu, kesegaran, dan kualitas hasil pertanian sehingga memiliki daya saing lebih tinggi di pasar.
Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Desa Cendikia ICMI sekaligus ketua Dospulkam 2026, Warcito, mengatakan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari pengembangan Demfarm Smart Agribusiness Ecosystem.
Yaitu model pembelajaran lapangan yang mengintegrasikan teknologi budidaya, pengelolaan pascapanen, kewirausahaan, hingga akses pasar dalam satu ekosistem agribisnis.
"Kami ingin membangun ekosistem pertanian modern yang tidak hanya menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga melahirkan pemuda-pemuda desa yang mampu menjadi agripreneur," ujar Warcito.
"Melalui Demfarm Smart Agribusiness Ecosystem, peserta belajar dari praktik langsung, memanfaatkan teknologi, dan memahami bagaimana mengembangkan usaha pertanian yang berorientasi pasar," tambahnya.
Menurutnya, regenerasi petani menjadi salah satu tantangan utama pembangunan pertanian.
Oleh karena itu, pemuda perlu dibekali tidak hanya keterampilan budidaya, tetapi juga kemampuan memanfaatkan inovasi teknologi dan menyusun model bisnis yang mampu memberikan nilai tambah bagi hasil pertanian.
Salah satu materi yang mendapat perhatian peserta adalah pemanfaatan Plasma Fine Bubble Technology.
Teknologi ini memanfaatkan gelembung mikro dan nano yang menghasilkan spesies oksidatif aktif untuk membantu mengurangi residu pestisida pada produk hortikultura tanpa mengurangi kualitas fisik maupun kesegaran hasil panen.
Baca Juga: Polres Bogor Raih Juara 2 Ketahanan Pangan Polri, Inovasi Limbah Jadi Andalan
Selain dimanfaatkan pada tahap pascapanen, teknologi tersebut juga berpotensi meningkatkan kualitas air dalam sistem budidaya dan hidroponik.
Peserta juga memperoleh pelatihan mengenai hidroponik modern sebagai alternatif budidaya yang efisien dalam penggunaan lahan dan air.
Melalui sesi praktik, para pemuda mempelajari cara membangun instalasi hidroponik, mengelola nutrisi tanaman, hingga melakukan pemeliharaan sehingga mampu menghasilkan produk hortikultura berkualitas tinggi.
Untuk memperkuat aspek kewirausahaan, seluruh peserta diajak menyusun Business Model Canvas (BMC).
Melalui pendekatan ini, peserta belajar mengidentifikasi segmen pelanggan, merumuskan nilai tambah produk, menentukan strategi pemasaran, membangun kemitraan, hingga menyusun struktur biaya dan sumber pendapatan usaha.
Materi tersebut diharapkan dapat mengubah pola pikir peserta dari sekadar menjadi produsen hasil pertanian menjadi pelaku usaha agribisnis yang mampu mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam mencetak generasi muda yang siap menjadi penggerak transformasi pertanian di pedesaan.
Baca Juga: Pencairan Bansos PKH Tahap 3 Mulai Masuk Pada Sebagian KPM, Begini Cara Memeriksanya
Kolaborasi antara masyarakat, perguruan tinggi, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan diharapkan mampu memperkuat implementasi Smart Agribusiness Ecosystem.
Sistem itu sebagai model pemberdayaan pemuda berbasis inovasi, teknologi, dan kewirausahaan yang mendorong peningkatan produktivitas, keamanan pangan, serta kesejahteraan masyarakat desa. (***)
Editor : Yosep Awaludin