RADAR BOGOR – Tembok rumah biasanya menjadi bagian dari privasi sebuah hunian tetapi pemandangan berbeda terlihat di Desa Pasir Laja, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Rabu, 12 Agustus 2026.
Alih-alih dibiarkan polos, tembok rumah Ketua RT setempat, Ade Irawan, justru disulap menjadi kanvas kreativitas anak-anak muda.
Beragam gambar menghiasi dinding tersebut, mulai dari karakter One Piece, tangan yang menggenggam bendera, hingga sosok tikus berdasi yang tengah memegang koper dan uang.
Mural itu bukan sekadar gambar penghias tembok, ada pesan kritik sosial yang sengaja disisipkan di dalamnya.
Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah tulisan Kami Independent yang berada di gambar koper tikus berdasi.
Baca Juga: Pertandingan Sepak Bola Tarkam di Sukajaya Bogor Berakhir Ricuh
Di bagian lainnya, terdapat kutipan dari lagu Iwan Fals berjudul Awang-Awang, yang termuat dalam album Orang Gila tahun 1994, kutipan tersebut berbunyi, Jika kata tak lagi bermakna, lebih baik diam saja.
Bagi Ade, kalimat tersebut memiliki makna tersendiri, ia menilai pesan itu relevan dengan kondisi Indonesia saat ini.
“Ini kan salah satu petikan lagu Iwan Fals, jika kata tak lagi bermakna, lebih baik diam saja, kita kan sekarang banyak bicara, tapi enggak ada arti di depan mereka, lebih baik ya diam saja,” ujarnya kepada Radar Bogor, Rabu, 12 Agustus 2026.
Ade mengaku tidak memiliki konsep khusus mengenai mural tersebut, ia justru memberikan kebebasan kepada anak-anak muda untuk menentukan gambar maupun pesan yang ingin dituangkan.
Menurutnya, para pemuda di lingkungan tersebut memang rutin membuat mural setiap tahun, momentum Agustus menjadi salah satu kesempatan bagi mereka untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus menyampaikan keresahan melalui karya visual.
“Kita kalau ada rezeki saya kasih, ini kekurangannya beli apa, beli apa. Kita cuma mensupport saja, anak-anak maunya seperti apa,” imbuhnya
Ia menjelaskan, mural juga menjadi cara sederhana untuk membuka ruang kreativitas bagi generasi muda.
Ade tidak ingin terlalu banyak mengatur isi karya yang dibuat selama tetap menjadi bagian dari ekspresi dan kreativitas anak-anak muda di lingkungannya.
“Ini juga tahun kemarin kritik sosial juga,” ungkapnya.
Yang menarik, kanvas mural tersebut bukan berada di ruang publik khusus atau tembok kosong milik pemerintah, melainkan di tembok rumah Ade sendiri.
Ia mengaku tidak keberatan rumahnya dijadikan tempat berkreasi. Apalagi, posisi tembok tersebut cukup strategis karena berada di akses yang mudah dilihat masyarakat.
“Enggak apa-apa, ini kan aksesnya enak, strategis dilihat orang,” katanya.
Demi memberikan ruang bagi kreativitas tersebut, Ade bahkan harus memindahkan tempat jemurannya untuk sementara waktu.
“Tadinya kan di sini jemuran saya. Saya ambil, pindah dulu ke belakang selama bulan Agustus,” tuturnya.
Bagi warga setempat, tembok rumah itu akhirnya bukan sekadar bagian dari bangunan.
Ia berubah menjadi ruang ekspresi terbuka, tempat anak muda menuangkan imajinasi, menyampaikan kritik, sekaligus meramaikan suasana kemerdekaan dengan cara mereka sendiri.
Di antara warna-warni mural, gambar tikus berdasi, dan karakter One Piece, terselip satu pesan yang terasa sederhana tetapi menggelitik, ketika kata-kata tak lagi bermakna, mungkin sebuah gambar justru mampu berbicara lebih banyak. (Cr1)
Editor : Eka Rahmawati