
RADAR BOGOR - Warga Desa Pasirlaja, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, mendesak perbaikan jalan milik Marga Sarana Jabar (MSJ) yang kondisinya rusak parah dan minim penerangan.
Kerusakan jalan tersebut telah berlangsung bertahun-tahun dan dikeluhkan karena mengganggu aktivitas masyarakat sekaligus meningkatkan risiko kecelakaan, terutama saat hujan.
Sejumlah titik jalan mengalami lubang, permukaan tidak rata hingga licin, kondisi tersebut membuat sebagian pengendara sepeda motor memilih naik ke trotoar untuk menghindari jalan yang rusak.
Selain kerusakan, minimnya penerangan pada malam hari juga menjadi kekhawatiran warga. Terlebih, warga mengaku kerap mendengar adanya dugaan tindak kriminal seperti pembegalan di kawasan tersebut.
Salah seorang warga, Ujang Aep (71), mengatakan kerusakan jalan sudah terjadi selama bertahun-tahun, namun belum mendapat penanganan menyeluruh dari pihak MSJ.
Baca Juga: RSUD Bakti Pajajaran Bogor Hadirkan Poliklinik Spesialis Onkologi, Tangani Penyakit Tumor Kanker
"Sekitar lima tahunan ada, lalu sekitar tiga tahunan ada tambal sulam, tapi tambal sulamnya asal-asalan saja," ujarnya kepada Radar Bogor, Rabu, 12 Agustus 2026.
Ujang juga menceritakan, belum lama ini terdapat aspal yang tumpah dari kendaraan yang melintas, warga kemudian memanfaatkan aspal tersebut untuk menutup sebagian kerusakan jalan.
Ia juga mengungkapkan pernah terjadi kecelakaan yang dialami seorang warga akibat jalan berlubang, korban merupakan seorang perempuan yang pulang bekerja pada malam hari dalam kondisi hujan.
"Tetangga saya minggu kemarin pulang kerja jam sebelas malam posisi hujan. Di situ kan ada lubang, dia lari (ngebut), maklum namanya perempuan, takut jalan tengah malam. Pas kena lubang itu dia terjatuh," ungkapnya.
Tak hanya kecelakaan, minimnya penerangan juga membuat warga merasa tidak aman. Ia menyebut, warga yang pulang bekerja hingga larut malam harus melintasi jalan yang gelap.
"Penerangan juga kurang, ada orang jauh yang lewat sini, yang kerja pulang jam 12 malam, kadang ada yang nyegat di sini, begal," ucapnya.
Ia mengaku pernah melihat warga, khususnya perempuan, menangis setelah mengalami kejadian yang diduga begal.
"Tahu-tahu ada perempuan berdua nangis di situ, seperti motor, HP, apa saja mungkin (diambil begal)," katanya.
Menurutnya, kondisi jalan yang gelap dan rusak semakin meningkatkan rasa khawatir warga ketika melintas pada malam hari.
Ujang berharap ada perhatian serius terhadap kondisi jalan tersebut. Sebab, akses tersebut tidak hanya digunakan warga Desa Pasir Laja, tetapi juga masyarakat dari berbagai wilayah.
"Sebagai warga setempat tidak nyaman lah jalan seperti ini, tidak seperti jalan-jalan lain," tuturnya.
Ia menjelaskan, jalan tersebut menjadi akses vital yang ramai digunakan hampir 24 jam. Terlebih, kawasan sekitar kini berkembang dengan banyak aktivitas perusahaan dan industri hingga perumahan.
"Kalau dari Depok, yang dari Cimanggis, yang dari Jakarta pun ada yang lewat sini. Dari Warung Jambu jalurnya, kalau mengambil jalan pintas dekat, lewat sini," bebernya.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Zar Kasih (56) mengatakan kondisi jalan sangat tidak nyaman, terutama bagi warga yang berjalan kaki.
Zar yang kerap berolahraga dengan berjalan kaki di kawasan tersebut mengaku justru sering membantu warga yang mengalami masalah saat melintas.
Ia menyebut sejumlah bekas coran pembangunan membuat permukaan jalan semakin licin, terutama ketika hujan.
"Ini kan banyak coran-coran di sini, bekas dulu ada pembangunan jalan. Ini penuh di sini, licin, apalagi musim hujan," imbuhnya.
Ia menambahkan kondisi tersebut membuat warga harus memilih berjalan di bagian pinggir jalan atau trotoar.
"Tiap pagi itu ada saja yang jatuh di sini, apalagi perempuan yang mau kerja, lalu-lalang di sini," tuturnya.
Ia memastikan usulan dari masyarakat terkait perbaikan jalan sudah pernah disampaikan. Sementara itu, warga berharap realisasi CSR dari MSJ dapat diarahkan untuk membantu memperbaiki akses tersebut.
Pasalnya, status jalan yang merupakan milik MSJ membuat Pemerintah Desa Pasirlaja, Kecamatan Sukaraja hingga Pemerintah Kabupaten Bogor tidak dapat melakukan perbaikan secara langsung.
Warga berharap persoalan tersebut segera mendapat respons karena kerusakan jalan dan minimnya penerangan dinilai bukan hanya menyangkut kenyamanan, tetapi juga keselamatan serta keamanan masyarakat yang menggunakan akses tersebut setiap hari. (Cr1)
Editor : Eka Rahmawati