RADAR BOGOR - Belasan tahun dijalani Raden Mohamad Aliyudin Diponegoro untuk mencari garis keturunan keluarganya yang selaras dengan Pangeran Diponegoro.
Perjalanan itu dilakukan setelah mendapat pesan dari sang ayah yang menyebut keluarganya memiliki hubungan dengan trah Pangeran Diponegoro.
Aliyudin yang kini berusia 58 tahun itu mulai tinggal di Cibinong sejak 2003. Namun, saat itu ia belum mengetahui secara pasti mengenai garis keturunan keluarganya.
Petunjuk tersebut baru didapatnya setelah sang ayah meninggal dunia pada 2005. Sebelum meninggal, sang ayah sempat berpesan agar Aliyudin mencari keluarga mereka yang berasal dari Jawa.
Baca Juga: Jumat Berkah Polsek Citeureup Bogor Disambut Antusias, Bagikan 400 Paket Nasi
“Belum ketemu, perjalanannya sendiri aja, baru ketemunya pas 2017, saat almarhum bapak saya sebelum meninggal tahun 2005 bilang, kamu cari, keluarga kamu ada yang dari Jawa,” kata Aliyudin.
Pesan tersebut sempat membuatnya kebingungan, terlebih, hubungan dengan keluarga dari pihak ayah sudah terputus dan tidak banyak yang mempercayai bahwa keluarganya memiliki hubungan dengan keluarga Pangeran Diponegoro.
“Saya juga bingung pas 2006 bapak saya meninggal saya bingung harus mencari ke mana, karena semuanya diputus, keluarga dari bapak saya tidak ada yang percaya kalau kita itu keluarga Diponegoro,” ujarnya.
Aliyudin kemudian mencoba mencari informasi melalui internet, dari penelusuran itu, ia menemukan nama kakek dan uyutnya yang kemudian menjadi petunjuk awal untuk melacak silsilah keluarganya.
“Sampai akhirnya saya cari digoogle, ketemu saya klik nama kakek saya, tiba tiba muncul nama kakek saya, kakek saya dan uyut saya. Saya cari nomor kontak, ketemu dengan keluarga, Diponegoro yang ada di Jakarta awalnya,” jelasnya.
Pada 2017, Aliyudin mulai bergabung dengan keluarga besar Diponegoro yang berada di Jakarta dan ikut dalam kegiatan Hari Pahlawan dan pawai yang digelar di sana.
Setelah itu, pencariannya berlanjut hingga menemukan keluarga Diponegoro di Bogor sekitar 2018 atau 2019. Ia kemudian bertemu dengan keluarga di kawasan Pasir Kuda yang memiliki catatan silsilah cukup panjang.
Dari catatan tersebut, Aliyudin menemukan nama kakeknya beserta saudara-saudaranya, temuan itu kemudian kembali ia telusuri untuk memastikan kebenarannya.
“Di situ juga tertera nama kakek saya dan adik-adiknya, kan gak mungkin nama kakek dan adik adiknya sama, saya coba browsing lagi dan ternyata bener,” tuturnya.
Aliyudin mengaku tidak ingin sembarangan mengklaim dirinya sebagai bagian dari trah Pangeran Diponegoro. Baginya, garis keturunan harus memiliki bukti dan catatan yang jelas.
“Karena saya juga tidak mau ngaku-ngaku kan dosa kita kalau ngaku-ngaku, tapi kalau ada catatan tertulis dan asli saya bisa enak tampil ke mana-mana, ikut aktivitas,” katanya.
Keluarga yang ditemuinya di Pasir Kuda diketahui merupakan keturunan langsung dari Mbah Djonet. Dari sanalah Aliyudin mendapatkan informasi yang semakin menguatkan pencariannya mengenai hubungan keluarganya dengan trah Pangeran Diponegoro.
Mbah Djonet sendiri dikenal sebagai Pangeran Raden Harjo Dipomenggolo atau Abah Kulon dan Pangeran Abdul Manar Dipomenggolo atau Abah Wetan.
Pertemuannya dengan keluarga tersebut juga membuat Aliyudin dapat mengetahui lebih jauh mengenai keberadaan makam yang berkaitan dengan keluarganya. Saat ia datang, makam tersebut sudah tertata dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya.
Aliyudin juga menemukan keterkaitan lokasi keluarganya di kawasan Gunung Batu, tepatnya Gang Wates. Di depan lokasi tersebut terdapat anak dari Mbah Djonet yang dikenal dengan sebutan Ayah Kulot dan Ayah Wetan.
Pangeran Diponegoro sendiri lahir di Yogyakarta pada 11 November 1785 dan wafat di Makassar pada 8 Januari 1855. Sosoknya dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan Indonesia melalui Perang Jawa.
Bagi Aliyudin, perjalanan mencari garis keturunan tersebut bukan sekadar untuk mendapatkan pengakuan. Ia ingin memastikan sejarah keluarganya berdasarkan catatan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kini, setelah belasan tahun menelusuri berbagai petunjuk, Aliyudin memilih menjalani aktivitas dengan berbagi dan memberikan manfaat bagi masyarakat. (bay)
Editor : Eka Rahmawati