Maba Pascasarjana IPB Diminta Berani Temukan Ilmu Baru

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 06:35 WIB
Mendiktisaintek, Brian Yuliarto.
Mendiktisaintek, Brian Yuliarto.

RADAR BOGOR - Memulai pendidikan pascasarjana di Institut Pertanian Bogor (IPB) University, bukan hanya soal menambah gelar di belakang nama. 

Di jenjang ini, mahasiswa mulai dituntut keluar dari posisi sebagai penerima ilmu dan berani mengambil peran sebagai pencipta pengetahuan.

Pesan tersebut mengemuka dalam Kuliah Umum Mahasiswa Baru Sekolah Pascasarjana IPB University yang digelar di Grha Widya Wisuda, Kampus IPB Dramaga, Kabupaten Bogor, Rabu (13/8/2026).

Suasana kuliah umum itu menjadi ruang bagi mahasiswa baru untuk memahami tantangan yang akan mereka hadapi. 

Baca Juga: PKH Tahap 3 Bank Mandiri Cair Agustus 2026, KPM Bisa Cek KKS Berkala

Riset tidak lagi sekadar tugas akademik untuk menyelesaikan studi, tetapi diharapkan mampu menjawab persoalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pascasarjana Bukan Sekadar Mengejar Gelar

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) RI, Brian Yuliarto menekankan, unsur kebaruan atau novelty harus menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang peneliti.

Menurut Brian, mahasiswa pascasarjana perlu memandang penelitian sebagai perjalanan untuk menemukan sesuatu yang sebelumnya belum diketahui. 

Karena itu, rasa ingin tahu harus terus dipelihara selama menjalani proses akademik.

“Di dunia ilmu pengetahuan, kita tidak cukup hanya memiliki orang yang tahu. Kita harus menemukan sesuatu yang belum kita tahu. Itulah yang disebut novelty,” ujar Brian Yuliarto dalam Kuliah Umum Mahasiswa Baru Sekolah Pascasarjana IPB University.

Ia mendorong, mahasiswa agar tidak bersikap pasif dan hanya menunggu arahan dari dosen atau profesor. 

Kemampuan membaca jurnal, berpikir kritis dan kreatif, menjaga integritas akademik, memanfaatkan lingkungan kampus, serta membangun kolaborasi menjadi modal penting bagi mahasiswa untuk berkembang sebagai peneliti.

“Jangan selalu menunggu dari profesor atau dosen Anda. Anda harus menetapkan, Anda mau apa. Anda harus membaca,” tegasnya dikutip dari laman resmi IPB.

Laut Jadi Laboratorium Besar untuk Riset

Pesan mengenai pentingnya penelitian juga disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Wahyu Sakti Trenggono. 

Ia mengajak, mahasiswa pascasarjana melihat laut bukan hanya sebagai sumber daya alam, tetapi juga sebagai ruang penelitian yang masih menyimpan banyak peluang.

Baca Juga: Promo Danamon Semarak HUT ke-81 RI, Ada Cashback hingga Rp181 Ribu dan Penawaran Menarik

Menurut Wahyu, laut memiliki potensi besar untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus menjadi sumber material baru yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai bidang, termasuk farmasi dan energi.

“Laut sebagai wilayah sumber pangan yang baru, sumber material yang perlu diteliti yang kemudian bisa berdaya guna untuk kepentingan banyak hal, seperti untuk farmasi, untuk energi dan lain sebagainya. Ini butuh penelitian,” tuturnya.

Ia menyebut, masih banyak persoalan kelautan yang membutuhkan sentuhan riset. Konservasi, mikroplastik, budi daya, teknologi kapal, hingga pengelolaan masyarakat pesisir menjadi sejumlah bidang yang dapat dikembangkan melalui penelitian mahasiswa magister maupun doktor.

Dari Konsumen Ilmu Menjadi Pencipta Pengetahuan

Rektor IPB University, Dr. Alim Setiawan Slamet, mengingatkan mahasiswa bahwa memasuki jenjang pascasarjana berarti memasuki tahap baru dalam perjalanan akademik.

Jika mahasiswa sarjana lebih banyak berada pada posisi menerima dan mempelajari pengetahuan yang telah tersedia, mahasiswa pascasarjana mulai dituntut menghasilkan gagasan serta pengetahuan baru.

“Di bangku sarjana, seorang mahasiswa masih menjadi konsumen ilmu. Tapi di jenjang pascasarjana, Saudara mulai mengambil tanggung jawab untuk menghasilkan pengetahuan baru, menguji batasnya, dan juga menerjemahkannya menjadi solusi,” ujar Dr. Alim Setiawan Slamet.

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak pada penelitian yang hanya terlihat kuat dari sisi metode, tetapi minim keterkaitan dengan kebutuhan masyarakat.

“Bahaya terbesarnya adalah menghasilkan karya yang rapi secara metodologi, namun sunyi dari relevansi,” katanya.

Baca Juga: PKH Tahap 3 Agustus 2026 Mulai Cair di Bank Mandiri, KPM Diminta Cek KKS

Karena itu, mahasiswa didorong untuk berani membuka ruang kolaborasi lintas disiplin. Salah satunya melalui pengembangan visi Agromaritim 5.0 yang mempertemukan berbagai bidang, mulai dari pangan, sumber daya hayati, kelautan hingga teknologi digital.

Tesis dan Disertasi Harus Punya Dampak

Dekan Sekolah Pascasarjana IPB University, Prof. Yusli Wardiatno, menambahkan bahwa keberhasilan pendidikan pascasarjana tidak semestinya hanya diukur dari selesainya tesis atau disertasi.

Menurutnya, karya ilmiah mahasiswa perlu diarahkan agar dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan sekaligus membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat dan bangsa.

“Pendidikan pascasarjana tidak cukup hanya berorientasi pada penyelesaian studi, tetapi juga diarahkan pada pengembangan ilmu pengetahuan, pengembangan inovasi, pemecahan persoalan nyata bangsa, serta penciptaan dampak,” ujar Prof. Yusli Wardiatno.

Pesan dari para narasumber tersebut menjadi bekal awal bagi mahasiswa baru Sekolah Pascasarjana IPB University. 

Perjalanan akademik yang mereka mulai tidak hanya akan diisi dengan membaca, menulis, dan melakukan penelitian, tetapi juga ditantang untuk menemukan sesuatu yang baru dan memastikan pengetahuan tersebut memiliki arti di luar ruang akademik. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
ipb Wahyu Sakti Trenggono institut pertanian bogor Brian Yuliarto kabupaten bogor