RADAR BOGOR - Pemandangan paus atau lumba-lumba yang terdampar di pesisir, selalu mengundang perhatian.
Di balik kejadian tersebut, ternyata ada rangkaian persoalan yang tidak sederhana.
Mamalia laut bisa terdampar karena perpaduan faktor biologis, perubahan kondisi lingkungan, hingga aktivitas manusia yang memengaruhi ekosistem laut.
Dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Meutia Ismet menjelaskan, tidak ada satu penyebab yang dapat digunakan untuk menjelaskan seluruh kasus terdamparnya mamalia laut.
Baca Juga: PKH Tahap 3 Bank Mandiri Cair Agustus 2026, KPM Bisa Cek KKS Berkala
Menurutnya, hasil berbagai penelitian selama dua dekade terakhir menunjukkan bahwa setiap kejadian dapat memiliki pemicu berbeda dan sejumlah faktor tersebut dapat saling berkaitan.
“Penelitian dalam dua dekade terakhir menunjukkan bahwa penyebab mamalia laut terdampar sangat kompleks. Pada setiap kasus, faktor yang berperan bisa berbeda dan saling memengaruhi,” ujar Meutia dikutip Radar Bogor dari laman resmi IPB.
Infeksi Bisa Mengganggu Kemampuan Navigasi
Salah satu faktor yang perlu diperhatikan, kondisi biologis paus dan lumba-lumba.
Infeksi bakteri serta parasit dapat membuat mamalia laut lebih rentan mengalami gangguan kesehatan.
Meutia menjelaskan, sejumlah penelitian menemukan individu yang terdampar memiliki tingkat akumulasi parasit yang tinggi.
Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan terganggunya sistem imun dan munculnya masalah malnutrisi.
Dalam kondisi tertentu, gangguan kesehatan tersebut diduga dapat memengaruhi fungsi kognitif dan kemampuan mamalia laut dalam menentukan arah.
Namun, hubungan langsung antara infeksi parasit dan gangguan navigasi masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Infeksi bakteri seperti meningitis juga menjadi perhatian karena dapat menyerang jaringan yang melindungi otak.
Baca Juga: Promo Danamon Semarak HUT ke-81 RI, Ada Cashback hingga Rp181 Ribu dan Penawaran Menarik
Kondisi tersebut berpotensi mengganggu sistem sonar yang digunakan paus dan lumba-lumba untuk mengenali lingkungan dan menentukan arah.
Gangguan navigasi juga dapat muncul, akibat paparan racun dari harmful algal bloom atau ledakan alga berbahaya.
Akumulasi logam berat di tubuh mamalia laut juga dapat berdampak pada sistem saraf dan memicu disorientasi.
Laut Makin Hangat, Jalur Migrasi Bisa Berubah
Perubahan iklim menjadi faktor lain yang perlu diperhatikan.
Pemanasan laut dapat mengubah persebaran organisme yang menjadi sumber makanan utama mamalia laut, seperti fitoplankton, krill, dan ikan.
Perubahan ketersediaan makanan kemudian dapat mendorong paus dan lumba-lumba mengikuti pergerakan mangsanya.
Akibatnya, jalur migrasi yang selama ini mereka kenali dapat berubah.
“Perubahan jalur migrasi membuat mereka mengeluarkan energi lebih besar. Ketika memasuki wilayah yang kurang dikenali, risiko kelelahan, kesalahan navigasi, hingga akhirnya terdampar juga meningkat,” jelas Meutia.
Perubahan tersebut menjadi semakin berisiko ketika mamalia laut memasuki wilayah yang tidak familiar.
Perjalanan yang lebih panjang juga dapat menguras energi, terutama ketika kondisi tubuh individu sudah tidak optimal.
Pencemaran Laut Ikut Memperbesar Risiko
Selain faktor alam, aktivitas manusia juga dapat memperburuk kondisi lingkungan laut.
Pencemaran, sampah plastik, penangkapan ikan yang menyebabkan bycatch, serta masuknya limbah organik ke perairan menjadi sejumlah persoalan yang dapat memengaruhi kesehatan ekosistem.
Limbah organik dalam jumlah tinggi dapat memicu ledakan alga berbahaya.
Baca Juga: PKH Tahap 3 Bank Mandiri Cair Pertengahan Agustus 2026, Ini Daftar Wilayah dan Nominal Saldo KPM
Beberapa jenis alga tersebut menghasilkan neurotoksin yang berpotensi mengganggu sistem saraf mamalia laut.
Dengan demikian, persoalan terdamparnya paus dan lumba-lumba tidak bisa dilepaskan dari perubahan kondisi ekosistem laut secara keseluruhan.
Sifat Sosial Bisa Membuat Terdampar Massal
Ada satu hal lain yang membuat fenomena terdamparnya paus dan lumba-lumba menjadi semakin kompleks.
Mamalia laut tersebut dikenal sebagai satwa sosial yang hidup dalam kelompok dan memiliki tingkat kecerdasan tinggi.
Ketika satu individu mengalami gangguan navigasi atau terdampar, anggota kelompok lainnya dapat mengikuti. Respons tersebut diduga berkaitan dengan perilaku sosial dan upaya membantu individu yang mengalami masalah.
Akibatnya, satu kejadian dapat berkembang menjadi terdamparnya beberapa individu sekaligus.
Apa yang Harus Dilakukan Saat Menemukan Paus Terdampar?
Meutia mengingatkan masyarakat agar tidak panik ketika menemukan paus atau lumba-lumba terdampar di pantai.
Penanganan yang tidak tepat justru dapat membahayakan hewan maupun orang yang berada di lokasi.
Langkah pertama, menjaga keselamatan diri dan segera melaporkan kejadian kepada instansi atau tim penyelamat yang memiliki kewenangan.
Masyarakat juga sebaiknya, tidak membuat kerumunan di sekitar satwa agar hewan tidak semakin stres.
Sambil menunggu tim profesional datang, tubuh mamalia laut dapat dijaga tetap basah dan terlindung dari paparan langsung sinar matahari.
Bagian lubang pernapasan juga perlu dipastikan tidak tertutup pasir.
Penanganan cepat dan tepat menjadi penting karena paus dan lumba-lumba yang terdampar berada dalam kondisi rentan.
Di sisi lain, setiap kejadian terdampar juga dapat menjadi sumber informasi penting bagi peneliti untuk memahami perubahan kesehatan mamalia laut dan kondisi ekosistem perairan.
Fenomena ini pada akhirnya menunjukkan, laut merupakan ekosistem yang saling terhubung.
Baca Juga: Tips Penting Cek Saldo KKS di Masa Pencairan PKH dan BPNT agar Bantuan Tidak Hangus
Ketika kesehatan lingkungan, perubahan iklim, aktivitas manusia, dan kondisi biologis satwa bertemu dalam satu persoalan, dampaknya dapat terlihat hingga ke garis pantai. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti