RADAR BOGOR - Tanaman gambir, selama ini lebih dikenal sebagai komoditas perkebunan.
Namun, di tangan peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) University, tanaman dengan nama ilmiah Uncaria gambir tersebut tengah dikembangkan menjadi kandidat terapi berbasis bahan alam untuk membantu mencegah dan menghambat fibrosis paru.
Inovasi ini, mengembangkan suspensi ekstrak getah kering gambir sebagai kandidat fibropreventif dan antifibrosis paru.
Temuan tersebut sekaligus membuka peluang pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia untuk menghasilkan produk kesehatan bernilai tambah.
Baca Juga: Sejak Jumat, KPM Pemilik KKS BRI Terima Pencairan Bansos PKH Tahap 3 hingga Rp1,5 Juta
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Dr. dr. Desdiani, SpP, MKK, MSc(MBioEt) menjelaskan, penelitian tersebut berangkat dari kebutuhan akan alternatif penanganan fibrosis paru yang masih terbatas.
Fibrosis paru merupakan penyakit kronis ketika jaringan parut terbentuk di paru-paru.
Kondisi tersebut dapat mengganggu kemampuan paru menjalankan fungsi pernapasan.
Pada kasus yang terus berkembang, pilihan penanganannya pun masih menghadapi berbagai keterbatasan.
Katekin Gambir Jadi Kunci Penelitian
Menurut Desdiani, bahan alam memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai pendekatan terapi karena relatif memiliki toksisitas rendah dan mengandung beragam senyawa aktif yang dapat bekerja pada sejumlah mekanisme penyakit.
Dalam penelitian ini, perhatian diarahkan pada katekin, salah satu senyawa yang terdapat dalam gambir.
Senyawa tersebut diketahui memiliki aktivitas antioksidan dan antiradang serta berpotensi menghambat proses pembentukan jaringan parut pada paru.
“Penelitian ini mengembangkan komposisi suspensi ekstrak getah kering gambir sebagai kandidat fibropreventif dan antifibrosis paru. Gambir mengandung katekin yang memiliki aktivitas antioksidan, antiradang, serta berpotensi menghambat proses pembentukan jaringan parut pada paru,” ujar Desdiani dikutip Radar Bogor dari laman resmi IPB.
Untuk menguji potensinya, penelitian dilakukan menggunakan model hewan yang mengalami fibrosis paru akibat induksi bleomisin.
Baca Juga: Bansos PKH dan BPNT Tahap 3 Agustus 2026 Cair, Ada Beras 30 Kg, Ini Golongan yang Ditangguhkan
Hasilnya menunjukkan, pemberian suspensi gambir dapat memperbaiki sejumlah indikator yang berkaitan dengan proses peradangan dan fibrosis.
Beberapa parameter yang diamati antara lain jumlah sel radang, kadar Transforming Growth Factor Beta-1 (TGF-β1), Nuclear Factor Kappa B (NF-κB), Tissue Inhibitor of Metalloproteinase-1 (TIMP-1), ekspresi kolagen tipe I, hingga kondisi jaringan paru berdasarkan pemeriksaan histopatologi.
Bukan Sekadar Ekstrak, tetapi Diformulasikan sebagai Suspensi
Desdiani mengatakan, salah satu unsur kebaruan penelitian terletak pada formulasi ekstrak getah kering gambir dalam bentuk suspensi yang diarahkan sebagai kandidat terapi fibrosis paru.
Jika penelitian sebelumnya lebih banyak melihat potensi gambir dari sisi senyawa atau aktivitas biologisnya, inovasi ini telah menghasilkan bukti praklinis mengenai kemampuan formulasi tersebut dalam menghambat perkembangan fibrosis paru.
Tahap ini menjadi penting karena pengembangan bahan alam menjadi produk kesehatan membutuhkan bukti ilmiah yang bertahap, mulai dari pengujian praklinis hingga pembuktian keamanan dan efektivitas pada manusia.
Dari Komoditas Perkebunan Menuju Bahan Baku Obat Herbal
Pengembangan gambir sebagai kandidat terapi juga membawa peluang lain di luar bidang kesehatan.
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil gambir, sehingga pemanfaatannya untuk produk obat herbal berbasis bukti ilmiah berpotensi meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut.
Desdiani menilai, hilirisasi gambir dapat mempertemukan kepentingan riset kesehatan dengan penguatan ekonomi komoditas lokal.
Jika berhasil dikembangkan lebih lanjut, gambir tidak hanya dipandang sebagai hasil perkebunan, tetapi juga dapat menjadi bahan baku produk kesehatan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Baca Juga: PKH Tahap 3 Bank Mandiri Cair Agustus 2026, KPM Bisa Cek KKS Berkala
“Indonesia merupakan salah satu produsen gambir terbesar di dunia. Pemanfaatan gambir sebagai kandidat obat herbal tidak hanya mendukung pengembangan terapi yang lebih aman dan terjangkau, tetapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan petani serta memperkuat industri obat herbal nasional,” jelasnya.
Langkah Berikutnya: Uji Klinis pada Manusia
Meski menunjukkan hasil menjanjikan pada tahap praklinis, suspensi gambir tersebut masih membutuhkan rangkaian penelitian sebelum dapat digunakan secara luas oleh masyarakat.
Desdiani menyebut, tahap pengembangan selanjutnya akan diarahkan pada uji klinis pada manusia.
Pengujian ini diperlukan untuk memperoleh data mengenai keamanan sekaligus efektivitas formulasi gambir pada manusia.
Proses hilirisasi juga akan melibatkan berbagai pihak.
Kolaborasi dengan petani gambir, rumah sakit, industri obat herbal, perguruan tinggi, dan pemerintah akan diperkuat agar pengembangan inovasi dapat berjalan dari hulu hingga hilir.
Target akhirnya adalah menghasilkan fitofarmaka berbahan gambir yang memiliki dasar bukti ilmiah dan dapat dimanfaatkan masyarakat secara lebih luas.
Bagi IPB University, pengembangan tersebut menjadi contoh bagaimana kekayaan hayati Indonesia dapat diteliti lebih jauh untuk menjawab persoalan kesehatan sekaligus menciptakan nilai tambah bagi komoditas lokal.
Dari getah gambir yang selama ini dikenal sebagai hasil perkebunan, terbuka peluang baru menuju pengembangan produk kesehatan berbasis riset. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti