RADAR BOGOR - Kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), kembali menyoroti pentingnya sistem pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang mampu beradaptasi dengan kondisi medan.
Topografi kawasan, vegetasi yang mengering saat musim kemarau, serta perubahan arah dan kecepatan angin dapat membuat api bergerak cepat dan sulit diprediksi.
Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Bambang Hero Saharjo, mengatakan penanganan kebakaran di kawasan konservasi seperti TNBTS tidak cukup hanya mengandalkan respons ketika api sudah membesar.
Deteksi dini harus menjadi bagian utama dari strategi pengendalian.
Baca Juga: Bansos Agustus 2026: PKH BPNT Tahap 3 dan Beras 30 Kg, Siapa yang Tidak Bisa Menerima?
Dikutip dari laman resmi Institut Pertanian Bogor (IPB), menurut Bambang, keberadaan titik api perlu diketahui sedini mungkin sehingga petugas dapat segera melakukan tindakan sebelum api menjalar ke area yang lebih luas.
Medan TNBTS Membuat Api Sulit Diprediksi
Karakter geografis TNBTS menjadi salah satu tantangan utama dalam pengendalian kebakaran.
Beberapa wilayah memiliki area terbuka dengan ketersediaan vegetasi kering yang dapat menjadi bahan bakar bagi api.
Situasi menjadi semakin rumit ketika api bergerak menuju kawasan dengan kemiringan tertentu dan mendapat dorongan angin.
Perubahan arah maupun kecepatan angin dapat mengubah pola penjalaran api dalam waktu singkat.
Bambang menjelaskan, bentuk geografis kawasan TNBTS yang menyerupai kuali turut memengaruhi pergerakan api.
Kondisi tersebut membuat strategi pemadaman harus disesuaikan dengan perkembangan situasi di lapangan.
Karena itu, pemadaman tidak seharusnya hanya bertumpu pada satu pendekatan.
Metode pemadaman dari darat dan udara dapat dikombinasikan sesuai kebutuhan, terutama ketika medan menyulitkan mobilisasi personel dan peralatan.
Penggunaan helikopter juga perlu memperhitungkan kondisi lapangan.
Hembusan dari baling-baling, misalnya, harus diperhatikan agar tidak mengganggu pengendalian api atau memicu penyebaran bara ke lokasi lain.
Vegetasi Khas TNBTS Ikut Terancam
Jika kebakaran berkembang menjadi lebih luas, dampaknya tidak hanya terlihat dari area yang terbakar.
Kerusakan tutupan vegetasi dapat memengaruhi kondisi permukaan tanah, meningkatkan pemanasan permukaan, dan menghambat proses pemulihan ekosistem.
Baca Juga: Sejak Jumat, KPM Pemilik KKS BRI Terima Pencairan Bansos PKH Tahap 3 hingga Rp1,5 Juta
Risiko tersebut menjadi perhatian karena TNBTS memiliki keragaman vegetasi yang tumbuh pada berbagai zona ketinggian.
Di kawasan pegunungan bawah, antara lain terdapat puspa, rasamala, dan saninten.
Sementara itu, wilayah pegunungan atas menjadi habitat bagi cemara gunung, edelweis Jawa, serta cantigi.
Keberadaan vegetasi khas tersebut, membuat pengendalian kebakaran menjadi penting bukan hanya untuk mencegah meluasnya api, tetapi juga untuk menjaga keberlanjutan ekosistem kawasan konservasi.
Api Padam Bukan Berarti Ancaman Berakhir
Bambang mengingatkan, proses penanganan kebakaran tidak berhenti setelah api terlihat padam.
Pemantauan lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan tidak terdapat bara atau titik panas yang berpotensi kembali menjadi sumber kebakaran.
Kesiapan personel juga perlu diperkuat, baik dari sisi jumlah maupun kemampuan menghadapi kondisi kebakaran di medan yang sulit.
Masyarakat yang ikut membantu proses pemadaman pun perlu mendapatkan pembekalan mengenai teknik dasar pengendalian api.
Baca Juga: Bansos PKH dan BPNT Tahap 3 Agustus 2026 Cair, Ada Beras 30 Kg, Ini Golongan yang Ditangguhkan
Langkah tersebut penting agar upaya pemadaman tidak justru menyebabkan api menyebar ke wilayah lain.
Menurut Bambang, pengendalian kebakaran di TNBTS harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pencegahan, deteksi dini, pemadaman, hingga pemulihan kawasan setelah kebakaran.
Pengalaman kebakaran besar yang terjadi pada 2023 juga dinilai perlu menjadi bahan evaluasi.
Peristiwa tersebut dapat menjadi pembelajaran untuk memperkuat sistem pengendalian sehingga kejadian serupa dapat dicegah dan tidak kembali menimbulkan kerusakan yang lebih luas.
Dengan kondisi cuaca, vegetasi, dan medan yang dapat berubah dengan cepat, kesiapsiagaan menjadi faktor penting dalam menjaga TNBTS.
Semakin cepat potensi kebakaran diketahui dan ditangani, semakin besar peluang api dapat dikendalikan sebelum berkembang menjadi bencana yang lebih besar. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti