Kebakaran Dapur SPPG Mojokerto Jadi Sorotan, Pengelola MBG di Bogpr Diminta Perkuat Manajemen Risiko

Muhammad Ali • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 12:31 WIB
Ilustrasi Petugas SPPG saat akan mendistribusikan makan bergizi gratis atau MBG kepada penerima manfaat.
Ilustrasi Petugas SPPG saat akan mendistribusikan makan bergizi gratis atau MBG kepada penerima manfaat.

RADAR BOGOR — Insiden kebakaran dan ledakan yang terjadi di bangunan SPPG di Mojokerto, Jawa Timur, Kamis 13 Agustus 2026, menjadi perhatian terhadap pentingnya standar keselamatan dalam operasional dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Peristiwa tersebut dinilai dapat menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pengelola dapur SPPG untuk memperkuat aspek keamanan, keselamatan kerja, hingga perlindungan aset dan sumber daya manusia.

Azka Muhammad Pinandito, perwakilan mitra sekaligus konsultan Yayasan Surya Telaga Cendekia dan Yayasan Humaira, meminta para pengelola SPPG melakukan evaluasi menyeluruh terhadap potensi risiko yang mungkin muncul dalam kegiatan operasional sehari-hari.

Menurut Azka, dapur SPPG tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengolahan dan produksi makanan.

Fasilitas tersebut juga memiliki berbagai potensi risiko yang perlu diantisipasi, seperti kebakaran, ledakan, kerusakan peralatan, kecelakaan kerja, hingga gangguan yang dapat menghentikan aktivitas operasional.

“Peristiwa di Mojokerto seharusnya menjadi pelajaran bagi semua pihak. Dapur SPPG memiliki berbagai risiko operasional sehingga aspek keselamatan, keamanan, dan keberlangsungan kegiatan harus menjadi perhatian sejak awal,” ujar Azka, Minggu 16 Agustus 2026.

Baca Juga: Resep Dimsum Dada Ayam Bungkus Sawi, Tinggi Protein Juicy Cocok untuk Diet

Asuransi Dinilai Jadi Lapisan Perlindungan Tambahan

Azka juga mendorong agar pengelola dapur SPPG mempertimbangkan asuransi sebagai salah satu bagian dari strategi manajemen risiko.

Menurutnya, asuransi tidak semestinya hanya dipandang sebagai produk finansial, tetapi dapat menjadi instrumen untuk memberikan perlindungan ketika terjadi risiko yang mengganggu kegiatan operasional.

Jenis perlindungan tersebut, kata dia, dapat disesuaikan dengan berbagai kebutuhan.

Mulai dari nilai bangunan dan peralatan, aktivitas operasional, tenaga kerja, hingga potensi tanggung jawab hukum yang dimiliki setiap dapur SPPG.

“Setiap dapur SPPG idealnya memiliki perlindungan yang sesuai dengan tingkat risikonya. Kita tentu tidak menginginkan musibah terjadi, tetapi kesiapan menghadapi risiko tetap harus dibangun,” katanya.

Keberadaan perlindungan asuransi dinilai dapat membantu menjaga kesinambungan operasional sekaligus menekan potensi beban finansial apabila terjadi kejadian yang tidak diinginkan.

Instalasi LPG hingga Jalur Evakuasi Harus Dievaluasi

Selain asuransi, pengelola SPPG juga diminta tidak mengabaikan aspek pencegahan.

Evaluasi keselamatan perlu dilakukan secara menyeluruh terhadap berbagai fasilitas dan prosedur yang digunakan di dapur.

Beberapa aspek yang perlu diperiksa antara lain instalasi LPG, sistem kelistrikan, ketersediaan alat pemadam api, jalur evakuasi, prosedur menghadapi keadaan darurat, kondisi peralatan, serta keselamatan pekerja.

Azka menegaskan bahwa keberadaan asuransi tidak dapat menggantikan sistem keselamatan yang baik.

Baca Juga: Resmi Diluncurkan Presiden Prabowo, MOLINAS Dorong Kemandirian Industri Otomotif

“Perlindungan asuransi tidak boleh dianggap sebagai pengganti upaya keselamatan. Pencegahan harus tetap menjadi prioritas, sementara asuransi berfungsi sebagai perlindungan tambahan ketika risiko benar-benar terjadi,” tegasnya.

Risk Assessment Jadi Dasar Menentukan Perlindungan

Azka selanjutnya menekankan pentingnya melakukan risk assessment sebelum menentukan jenis maupun nilai perlindungan asuransi yang dibutuhkan.

Penilaian risiko tersebut diperlukan agar perlindungan yang dipilih tidak dilakukan secara umum, melainkan berdasarkan kondisi nyata di setiap dapur SPPG.

Dengan pemetaan risiko, pengelola dapat mengetahui potensi bahaya, tingkat kerawanan, serta kebutuhan perlindungan yang paling sesuai dengan karakteristik fasilitas dan kegiatan operasional masing-masing.

Ia berharap insiden yang terjadi di Mojokerto dapat menjadi momentum bagi seluruh mitra SPPG untuk meningkatkan standar keselamatan dan memperkuat penerapan manajemen risiko dalam menjalankan program MBG.

“Semoga kejadian di Mojokerto menjadi pengingat sekaligus momentum bagi seluruh mitra untuk memperbaiki standar keselamatan dan membangun manajemen risiko yang lebih kuat di setiap dapur SPPG,” pungkasnya. (cr1)

Editor : Yosep Awaludin
SPPG Makan Bergizi Gratis kebakaran