RADAR BOGOR - Warga Jawa Barat perlu mulai bersiap menghadapi kondisi cuaca yang cenderung lebih kering dalam sepekan ke depan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan curah hujan di sejumlah wilayah Jawa Barat mengalami penurunan pada periode 20–26 Agustus 2026.
Meski demikian, kondisi kering bukan berarti Jawa Barat sepenuhnya terbebas dari hujan.
Baca Juga: Indomaret Cabang Bogor 2 Gelar Donor Darah sebagai Wujud Peduli Sesama
Hujan ringan masih berpeluang turun secara lokal, terutama pada sore hingga malam hari.
Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Rakhmat Prasetia, dalam Prospek Cuaca Mingguan Provinsi Jawa Barat yang disampaikan pada 19 Agustus 2026 mengatakan, dinamika atmosfer global, regional, dan lokal menunjukkan adanya kecenderungan penurunan potensi hujan.
“Secara umum, curah hujan di Jawa Barat diprakirakan cenderung menurun. Namun, hujan ringan masih dapat terjadi secara lokal, terutama pada sore hingga malam hari,” kata Rakhmat Prasetia.
El Nino Mulai Berpengaruh pada Curah Hujan
Kondisi tersebut tidak terlepas dari perkembangan iklim global.
Berdasarkan analisis BMKG, indeks ENSO di wilayah NINO 3.4 berada pada +2,2 untuk periode prakiraan.
Kondisi ini menunjukkan pengaruh El Nino yang berpotensi mengurangi suplai uap air dan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat.
Sementara itu, kondisi labilitas atmosfer diprakirakan berada pada kategori ringan hingga sedang.
Artinya, peluang terjadinya hujan tetap ada, tetapi secara umum tidak menunjukkan kecenderungan peningkatan hujan yang signifikan dalam sepekan mendatang.
Situasi ini berbeda dengan kondisi yang sempat terjadi pada pekan sebelumnya.
Pada periode 12–18 Agustus 2026, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih terjadi secara lokal di sejumlah wilayah Jawa Barat.
Baca Juga: Bukti di ATM, Bansos BPNT Rp600 Ribu dan PKH Lansia Rp1,8 Juta Cair 100 Persen
Hujan tersebut tercatat pada 17 Agustus 2026 dan melanda sebagian wilayah Kabupaten dan Kota Bogor, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten dan Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Garut, Kabupaten Sumedang, serta Kabupaten Majalengka.
Tak Ada Indikasi Hujan Lebat dan Cuaca Ekstrem
Untuk periode 20–26 Agustus 2026, BMKG tidak memantau adanya potensi hujan sedang hingga lebat yang disertai kilat atau petir dan angin kencang di wilayah Jawa Barat.
Prakiraan harian BMKG juga menunjukkan kondisi nihil untuk potensi tersebut mulai Kamis, 20 Agustus, hingga Rabu, 26 Agustus 2026.
Rakhmat menjelaskan, masyarakat tetap perlu memperhatikan perubahan cuaca lokal meskipun secara umum kondisi hujan diprakirakan menurun.
“Tidak terpantau adanya potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai kilat, petir, dan angin kencang di Jawa Barat pada periode prakiraan. Namun, hujan ringan secara lokal masih mungkin terjadi,” ujarnya.
Potensi hujan lokal tersebut terutama perlu diperhatikan pada periode sore hingga malam hari.
Kondisi cuaca dapat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya sehingga masyarakat tetap disarankan mengikuti informasi cuaca terbaru dari BMKG.
Waspadai Dampak Musim Kemarau
Di tengah menurunnya curah hujan, masyarakat justru diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau.
Beberapa dampak yang perlu diantisipasi antara lain berkurangnya ketersediaan air bersih, kekeringan pada lahan pertanian, hingga meningkatnya potensi titik panas atau hotspot yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Baca Juga: Bukti Nyata, Bansos BPNT Tahap 3 Cair, KKS Bank Mandiri Berhasil Tarik Dana Rp600 Ribu
BMKG juga mengimbau, masyarakat agar menggunakan air bersih secara bijak. Aktivitas pembakaran sampah maupun lahan sebaiknya dihindari karena kondisi yang lebih kering dapat meningkatkan risiko kebakaran.
Selain lingkungan, kesehatan juga perlu diperhatikan. Paparan debu serta suhu panas dapat memengaruhi kondisi tubuh, sehingga masyarakat dianjurkan menjaga asupan cairan dan kesehatan selama periode cuaca yang lebih kering.
Rakhmat berharap, informasi prospek cuaca mingguan tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah maupun masyarakat dalam menyusun dan menjalankan berbagai aktivitas.
“Informasi prospek cuaca ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam perencanaan kegiatan di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota di Jawa Barat,” tutur Rakhmat.
Dengan prakiraan cuaca yang cenderung lebih kering pada 20–26 Agustus 2026, masyarakat Jawa Barat perlu tetap waspada.
Bukan hanya terhadap perubahan cuaca lokal, tetapi juga terhadap dampak musim kemarau yang berpotensi memengaruhi ketersediaan air, pertanian, lingkungan, dan kesehatan. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti