RADAR BOGOR - Sebanyak 20 pelaku UMKM mengikuti kegiatan sharing session yang diselenggarakan PT Pendidikan Maritim dan Logistik Indonesia (PT PMLI), anak perusahaan PT Pelabuhan Indonesia Persero (Pelindo) di Desa Pandansari, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor.
Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bertajuk "Pastrypreneur" ini bekerja sama dengan UMKM binaan Local Pride Spot (LOPS) Pelindo.
Kegiatan ini sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam meningkatkan kapasitas, mendorong daya saing, dan memperkuat kemandirian para pelaku usaha mikro.
PT PMLI memberikan ruang berbagi pengalaman dan pengetahuan yang dirancang untuk memperluas wawasan para peserta.
Narasumber yang dihadirkan di antaranya UMKM binaan Pelindo, yaitu UMKM Salaku yang didirikan oleh Shelly, dan Wulan Ayodya sebagai salah satu narasumber selaku praktisi kewirausahaan, konsultan pengembangan UMKM, sekaligus penulis buku bisnis kuliner.
Baca Juga: Soal Beredar Isu OTT Pejabat Pemkab Bogor, Begini Penjelasan KPK
"Dengan berbekal inovasi produk, strategi pemasaran yang adaptif, dan kemampuan pemanfaatan berbagai peluang usaha, Salaku berhasil berkembang menjadi salah satu contoh UMKM yang mampu meningkatkan skala bisnisnya secara berkelanjutan," ungkap Senior Manager Corporate Secretary PT PMLI, Wuri Hendrayani.
Materi yang disampaikan mencakup berbagai aspek penting dalam pengembangan bisnis, mulai dari penguatan legalitas usaha, pengelolaan operasional, hingga strategi pemasaran yang relevan dengan kebutuhan pasar saat ini.
Melalui kegiatan ini, PT PMLI menekankan pentingnya legalitas usaha sebagai fondasi dalam membangun UMKM yang kredibel dan memiliki daya saing.
Para peserta dibekali pemahaman mengenai Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi Halal, dan izin P-IRT untuk meningkatkan kepercayaan konsumen.
Selain penguatan aspek legalitas, materi juga akan difokuskan pada peningkatan kapasitas bisnis melalui pengelolaan produksi yang lebih efisien, penerapan tata kelola keuangan yang sehat dengan memisahkan keuangan pribadi dan usaha.
Lalu juga penyusunan Harga Pokok Penjualan (HPP) secara tepat, serta pemanfaatan pemasaran digital sebagai strategi untuk meningkatkan daya saing produk.
Sebagai bentuk pembelajaran yang aplikatif, kegiatan Pastrypreneur dilengkapi dengan sesi praktik yang dipandu langsung oleh Shelly.
Para peserta diberikan pendampingan dalam proses pembuatan hingga optimalisasi akun pada platform E-commerce, seperti Shopee, sehingga peserta memiliki pengetahuan untuk mulai memasarkan produknya secara digital agar lebih efektif dan mandiri.
"PT PMLI meyakini bahwa keberhasilan program pemberdayaan Pastrypreneur ini tidak hanya ditentukan oleh kemampuan produksi, tetapi juga kesiapan para pelaku UMKM dalam memasarkan produknya secara efektif dan menarik melalui kolaborasi bersama praktisi UMKM ibu Wulan Ayodya," jelas Wuri.
Setiap peserta ditargetkan mampu menghasilkan konten promosi yang siap dipublikasikan melalui Instagram, TikTok, dan WhatsApp Business, sehingga keterampilan yang diperoleh dapat segera diimplementasikan dalam mendukung pemasaran produk secara mandiri.
Selain mempelajari dasar-dasar pemasaran digital, peserta juga dibimbing membuat konten promosi melalui teknik pengambilan foto dan video menggunakan smartphone, penyusunan visual yang menarik, hingga penulisan caption yang efektif.
Melalui program ini, PT PMLI ingin memastikan manfaat pelatihan tidak berhenti pada proses pembelajaran, tetapi berlanjut menjadi dampak nyata bagi pengembangan usaha peserta.
”Target ini diharapkan mampu mendorong peserta untuk dapat mengimplementasikan keterampilan yang diperoleh sebagai bagian dari strategi pemasaran usaha mereka secara mandiri," tandas Manager Corporate Secretary PT PMLI.(cok)
Editor : Eka Rahmawati