RADAR BOGOR - Kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 06 Universitas Islam Bogor (UIB) di Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, tidak hanya diisi dengan kegiatan pengabdian masyarakat yang bersifat rutin.
Pada Jumat, 21 Agustus 2026, para mahasiswa justru memperkenalkan dua inovasi teknologi sederhana yang dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat, terutama di sektor pertanian.
2 karya tersebut masing-masing diberi nama AGROPIPE, alat penabur pupuk berbasis pipa, dan RUNTUY SIRAM, sistem digital untuk membantu pemantauan proses pembuatan pupuk organik atau kompos.
Baca Juga: Tak Lagi Menunggu, Rp600 Ribu Bansos BPNT Tahap 3 Mulai Terpantau di KKS BRI
Koordinator Wilayah KKM 2026 Universitas Islam Bogor, Dr. Ujang Buchori Muslim, S.Ag., ME.Sy mengatakan, inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat secara langsung.
“KKM tidak hanya tentang menjalankan program, tetapi juga bagaimana mahasiswa mampu melihat persoalan di lapangan dan menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya kepada Radar Bogor.
AGROPIPE Bantu Petani Lebih Praktis Saat Menabur Pupuk
Salah satu inovasi yang diperkenalkan mahasiswa KKM 06, AGROPIPE atau Alat Penabur Pupuk Berbasis Pipa.
Gagasan ini, berangkat dari aktivitas pemupukan yang masih dilakukan secara manual oleh sebagian petani.
Proses tersebut membutuhkan tenaga dan waktu, terlebih ketika pemupukan dilakukan pada lahan yang cukup luas.
Mahasiswa kemudian, kata dia, mencoba merancang alat sederhana berbahan yang relatif mudah ditemukan.
AGROPIPE diharapkan dapat membantu proses penaburan pupuk agar menjadi lebih praktis dan efisien.
Konsep yang dibawa pun tidak mengandalkan teknologi mahal.
Justru, mahasiswa berupaya memanfaatkan bahan sederhana untuk menghasilkan alat yang dapat digunakan sesuai kondisi petani setempat.
Bagi KKM 06 UIB, tegas dia, pendekatan tersebut menjadi contoh bahwa teknologi tepat guna tidak harus identik dengan perangkat yang rumit dan berbiaya tinggi.
Baca Juga: Struk Penarikan Rp600 Ribu Muncul, Ini Daftar Daerah yang Cairkan Bansos BPNT Hari Ini
Ketika sebuah inovasi lahir dari persoalan nyata di lapangan, teknologi sederhana pun dapat memiliki nilai guna yang besar bagi masyarakat.
RUNTUY SIRAM Gabungkan Kompos dan Teknologi Digital
Inovasi kedua yang diperkenalkan mahasiswa KKM 06 adalah RUNTUY SIRAM, singkatan dari Runtuh Terurai Berbasis Sistem Informasi.
"Berbeda dengan AGROPIPE yang berfokus pada proses pemupukan, RUNTUY SIRAM diarahkan untuk membantu pengolahan bahan organik menjadi pupuk kompos dengan dukungan sistem digital," tutur Buchori.
Setiap tabung atau wadah pembuatan pupuk organik yang ditempatkan kepada petani akan dilengkapi barcode.
Kode tersebut, terhubung dengan sistem yang dapat diakses melalui telepon seluler maupun komputer.
Melalui sistem tersebut, proses pembuatan pupuk dapat dipantau, termasuk informasi mengenai masa penguraian hingga kompos dinilai siap digunakan.
Pemanfaatan teknologi digital ini diharapkan membuat pengelolaan pupuk organik menjadi lebih terukur.
Di sisi lain, masyarakat juga didorong untuk memanfaatkan bahan organik agar memiliki nilai guna bagi kegiatan pertanian.
Konsep RUNTUY SIRAM menunjukkan bahwa transformasi digital tidak hanya dapat diterapkan di sektor pendidikan, perkantoran, maupun bisnis.
Teknologi serupa juga dapat dikembangkan untuk mendukung aktivitas pertanian dan pengelolaan lingkungan di tingkat desa.
Tak Berhenti Jadi Proyek KKM
Hal menarik dari kedua inovasi tersebut adalah rencana pemanfaatannya setelah kegiatan KKM berakhir.
AGROPIPE dan RUNTUY SIRAM direncanakan untuk dibagikan kepada petani di Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor.
Baca Juga: Maulid Akbar Kabupaten Bogor Digelar Sabtu, Hadirkan Habib Mahdi Assegaf dan Ustadz Semar Mesem
Dengan begitu, karya mahasiswa tidak sekadar menjadi bagian dari dokumentasi kegiatan KKM, tetapi diharapkan terus digunakan oleh masyarakat.
Langkah tersebut juga menjadi cara mahasiswa meninggalkan sesuatu yang lebih berkelanjutan selama menjalankan pengabdian.
Selain inovasi teknologi, kata dia, KKM 06 UIB tetap menjalankan sejumlah kegiatan lain.
Di antaranya bimbingan belajar, pendampingan kesehatan, gotong royong, serta membantu kegiatan administrasi pemerintahan desa dan kecamatan.
Berbagai kegiatan itu, berjalan berdampingan dengan upaya mahasiswa mengembangkan solusi yang lebih spesifik untuk kebutuhan masyarakat.
Dari Pengabdian Menjadi Solusi
Program KKM 06 UIB di Desa Cibunian memperlihatkan bagaimana kegiatan pengabdian mahasiswa dapat dikembangkan lebih jauh.
Mahasiswa tidak hanya datang untuk menjalankan agenda yang telah disusun, tetapi juga berusaha membaca persoalan yang ditemui di tengah masyarakat.
Dari persoalan pemupukan hingga pengelolaan bahan organik, mahasiswa mencoba menggabungkan pengetahuan akademik dengan kreativitas dan teknologi.
Baca Juga: Bukan Sekadar Cukur, Cutless Studio Bogor Tawarkan Konsultasi Gaya hingga Kopi Gratis
Menurut Buchori, pendekatan seperti itu sejalan dengan semangat Universitas Islam Bogor dalam mendorong mahasiswa agar mampu berperan lebih luas ketika berada di tengah masyarakat.
Melalui AGROPIPE dan RUNTUY SIRAM, KKM 06 UIB berharap petani Desa Cibunian memperoleh manfaat, terutama dalam meningkatkan efisiensi pemupukan, mengelola bahan organik, serta mendukung praktik pertanian yang lebih produktif dan ramah lingkungan.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah program KKM bukan hanya diukur dari berapa banyak kegiatan yang terlaksana.
Lebih dari itu, jelas Buchori, ada harapan agar pengetahuan, gagasan, dan karya yang dibawa mahasiswa tetap memberi manfaat ketika mereka telah kembali ke kampus.
Dari Desa Cibunian, mahasiswa KKM 06 UIB mencoba membuktikan bahwa pengabdian bukan sekadar hadir di tengah masyarakat, tetapi juga tentang membawa gagasan menjadi solusi yang bisa digunakan dan dirasakan manfaatnya. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti