RADAR BOGOR – Persoalan air bersih yang selama bertahun-tahun dirasakan warga Desa Tarikolot, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, mulai mendapat solusi.
LAZ Rabbani bersama Dinas Sosial Kabupaten Bogor meresmikan fasilitas pengolahan air bersih dan shelter air di Desa Tarikolot, Citeureup, Senin 24 Agustus 2026.
Fasilitas hasil kolaborasi dengan Yayasan Bantu Air tersebut memanfaatkan metode sedimentasi berjalan untuk mengolah air permukaan menjadi air bersih.
Kehadiran instalasi ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, terutama di tengah kondisi kekeringan yang masih melanda sejumlah wilayah Kabupaten Bogor.
Kepala Desa Tarikolot, Kurniawan, mengaku bersyukur karena persoalan air bersih yang selama ini dihadapi masyarakat akhirnya mulai menemukan jalan keluar.
Ia mengatakan, selama sekitar 13 tahun menjabat sebagai kepala desa, berbagai upaya telah dilakukan untuk mendapatkan sumber air.
Baca Juga: Dave Bautista Ambil Alih Peran Kratos dalam Serial Live-Action God of War
Salah satunya dengan membuat sumur bor, namun beberapa kali usaha tersebut tidak menghasilkan sumber air yang dapat dimanfaatkan.
"Selama ini warga memang kesulitan mendapatkan air bersih. Kami sudah beberapa kali mencoba melakukan pengeboran, tetapi tidak menemukan sumber air. Setelah LAZ Rabbani datang dan menawarkan solusi, alhamdulillah sekarang ada fasilitas pengolahan air, meskipun kondisi sumber air di sini cukup memprihatinkan," ujar Kurniawan.
Menurutnya, kondisi sungai yang menjadi salah satu sumber air permukaan di wilayah tersebut juga menjadi perhatian.
Ia menyebut aliran sungai telah mengalami pencemaran akibat aktivitas sejumlah perusahaan di sekitar wilayah tersebut.
Pemerintah desa, kata Kurniawan, bahkan telah beberapa kali mengingatkan perusahaan agar tidak membuang limbah ke sungai yang alirannya menuju wilayah Tarikolot.
"Karena itu, kami sangat mengapresiasi adanya pengolahan air dengan metode sedimentasi berjalan ini. Mudah-mudahan fasilitas tersebut bisa membantu mengatasi kesulitan warga dalam memperoleh air bersih," tuturnya.
Fasilitas Air Bersih Diharapkan Menjangkau Desa Lain
Camat Citeureup, Maman Nurpadilah, turut menyampaikan apresiasi kepada LAZ Rabbani dan Yayasan Bantu Air atas dukungan yang diberikan melalui pembangunan fasilitas pengolahan air bersih di Desa Tarikolot.
Menurut Maman, kebutuhan fasilitas serupa masih cukup besar. Sejumlah desa lain di Kecamatan Citeureup juga membutuhkan dukungan untuk mengatasi persoalan ketersediaan air.
"Fasilitas ini tentu sangat bermanfaat bagi masyarakat. Kami berharap program serupa tidak berhenti di Tarikolot, tetapi dapat dikembangkan ke desa lain yang kondisinya lebih mendesak, seperti Hambalang dan Tajur," kata Maman.
Ia berharap semakin banyak pihak yang ikut memberikan dukungan sehingga persoalan air bersih dapat ditangani secara bertahap.
Baca Juga: Update Pencairan Bansos PKH Rp1,2 Juta dan BPNT Tahap 3 Via BSI dan Mandiri
Bahkan, ke depan fasilitas tersebut diharapkan dapat dikembangkan hingga menghasilkan air yang layak untuk dikonsumsi.
Maman juga menilai program tersebut menjadi contoh nyata bahwa pengelolaan zakat secara tepat dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
"Ini menjadi bukti bahwa apabila zakat dikelola dengan baik dan tepat sasaran, manfaatnya bisa dirasakan secara langsung oleh masyarakat, terutama dalam memenuhi kebutuhan dasar seperti air bersih," ujarnya.
Dinsos Dorong Sistem Pengolahan Air Diadopsi Desa Lain
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bogor, Farid Ma'ruf, mengatakan kawasan Citeureup memiliki persoalan tersendiri terkait sumber air. Meskipun sumber air tersedia, distribusinya kepada masyarakat masih terbatas.
Ia bahkan menggambarkan kondisi Sungai Citeureup sebagai aliran yang dapat berubah warna dalam waktu singkat.
Karena itu, keberadaan fasilitas pengolahan air harus diikuti dengan kesadaran bersama untuk menjaga sumber air dan merawat instalasi yang telah dibangun.
"Wilayah Citeureup cukup unik. Sumber air sebenarnya ada, tetapi akses dan distribusinya kepada masyarakat masih terbatas. Karena itu, fasilitas yang sudah tersedia harus dijaga bersama. Kalau tidak dilakukan secara kompak, pemeliharaannya akan semakin sulit dan membutuhkan biaya lebih besar," jelas Farid.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar turut menjaga kebersihan sungai. Menurutnya, program pengolahan air bersih sekaligus menjadi pengingat bahwa memperoleh air yang layak tidak selalu mudah.
Farid berharap metode pengolahan air yang diterapkan di Tarikolot dapat diperkenalkan ke wilayah lain di Kabupaten Bogor.
Menurutnya, tidak semua desa bisa mendapatkan fasilitas langsung dari LAZ Rabbani, tetapi metode tersebut dapat dipelajari dan diterapkan dengan dukungan pemerintah desa.
Baca Juga: Hampir 10 Tahun Jadi PMI di Taiwan, Yuni Akhirnya Bertemu Sang Ibu Berkat Program Tali Kasih BRI
"Kalau terkendala anggaran, pemerintah desa dapat mengusulkannya melalui APBDes. Program seperti ini bisa menjadi salah satu upaya untuk membantu mengatasi persoalan ketersediaan air bersih," katanya.
LAZ Rabbani Siapkan Shelter Air di Sejumlah Wilayah Bogor
Ketua LAZ Rabbani, Muhammad Faried, mengatakan pembangunan fasilitas air bersih tersebut merupakan hasil sinergi dengan Dinas Sosial Kabupaten Bogor dan BPBD.
Menurut Faried, LAZ Rabbani bersama pemerintah daerah terus bertukar informasi dan data untuk memetakan lokasi yang membutuhkan bantuan air bersih maupun fasilitas pengolahan air.
"LAZ Rabbani terus berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan BPBD Kabupaten Bogor. Kami saling bertukar data mengenai wilayah yang membutuhkan dukungan, sehingga bantuan dapat diarahkan ke titik yang memang membutuhkan," ujar Faried.
Ia menjelaskan, pembangunan shelter air merupakan salah satu program yang saat ini terus dikembangkan. Setelah Tarikolot, sejumlah titik lain di wilayah Bogor juga telah dipetakan.
Rencananya, fasilitas serupa akan dibangun di sejumlah wilayah Bogor Timur, Bogor Barat, dan Bogor Tengah.
Secara keseluruhan, terdapat sekitar empat hingga lima titik yang telah masuk dalam pemetaan program.
Selain membangun shelter air, LAZ Rabbani juga rutin menyalurkan air bersih menggunakan mobil tangki kepada masyarakat yang membutuhkan.
"Setiap hari kami menyalurkan sekitar dua hingga lima tangki air bersih. Data titik distribusinya berasal dari pemerintah daerah. BPBD melakukan pendataan setiap malam, kemudian data tersebut diteruskan kepada Dinas Sosial dan selanjutnya kepada kami," jelasnya.
Menurut Faried, penyaluran air bersih tersebut telah dilakukan secara rutin sejak 11 Juli 2026 hingga saat ini, dengan distribusi mencapai sekitar dua hingga lima titik setiap hari.
Baca Juga: Festival Kemerdekaan Sentul City 2026 Hadirkan Donnie Sibarani, Masyarakat Umum Bisa Nonton
LAZ Rabbani juga turut membantu BPBD Kabupaten Bogor mengisi sejumlah toren air yang telah disiapkan untuk masyarakat.
Di Kabupaten Bogor, terdapat sekitar 180 titik toren yang telah disiapkan, dengan sekitar 80 titik di antaranya dalam kondisi siap menerima distribusi air.
Dana Infak hingga Zakat Digunakan untuk Program Air Bersih
Faried menjelaskan, pembiayaan program air bersih LAZ Rabbani berasal dari dua sumber utama, yakni dana infak dan sedekah serta dana zakat.
Untuk program air bersih, pihaknya terlebih dahulu mengoptimalkan dana infak dan sedekah yang memang telah disiapkan untuk kegiatan kemanusiaan tersebut.
Apabila kebutuhan program semakin besar dan dana infak sedekah tidak mencukupi, LAZ Rabbani akan menggunakan dana zakat sesuai dengan ketentuan syariah.
"Air merupakan kebutuhan pokok masyarakat, terlebih dalam kondisi kekeringan seperti sekarang. Karena itu, penggunaan dana zakat untuk membantu pemenuhan kebutuhan dasar seperti air bersih diperbolehkan sesuai dengan ketentuan syariah," katanya.
Faried menyebut program serupa sebelumnya telah dijalankan di sejumlah wilayah Kabupaten Bogor, antara lain Dramaga, wilayah pesantren, Jonggol, hingga Cibadak.
Namun, fasilitas di Tarikolot menjadi salah satu program yang mulai diperkenalkan secara lebih luas kepada publik.
Menurutnya, pembangunan instalasi pengolahan air dengan metode sedimentasi berjalan menjadi pilihan karena terdapat sejumlah wilayah di Kabupaten Bogor yang tidak memungkinkan dilakukan pengeboran atau sudah tidak memiliki sumber mata air yang memadai.
"Di beberapa wilayah, pengeboran air memang tidak memungkinkan karena sumber air tanah maupun mata airnya sudah tidak tersedia. Karena itu, salah satu alternatif yang bisa dimanfaatkan adalah air permukaan seperti sungai, kemudian diolah menggunakan sistem sedimentasi berjalan," terangnya.
Baca Juga: Nenek 61 Tahun Meninggal Saat Antre Bantuan Beras di Kota Bogor, Begini Kronologinya
Faried menambahkan, air hasil pengolahan tersebut untuk tahap awal diarahkan agar dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK).
Sementara untuk menjadikannya sebagai air minum, masih diperlukan proses pengolahan lanjutan dan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan kualitas serta keamanannya.
"Untuk bisa digunakan sebagai air minum tentu masih membutuhkan tahapan pengolahan tambahan, termasuk pemeriksaan laboratorium. Prosesnya cukup kompleks sehingga membutuhkan dukungan dan sinergi yang kuat dengan Pemerintah Kabupaten Bogor," pungkasnya. (***)
Editor : Yosep Awaludin