RADAR BOGOR – Timbunan sampah di Tempat Pembuangan Akhir atau TPA Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, ternyata bukan sekadar persoalan limbah.
Di balik aktivitas pembuangan sampah, terdapat ratusan warga yang menggantungkan kehidupan dari aktivitas memilah dan mengumpulkan barang bernilai ekonomi di TPA Galuga.
Sejak dekade 1980-an, kawasan TPA Galuga telah menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat sekitar.
Hingga kini, aktivitas memulung masih menjadi mata pencaharian bagi sebagian warga yang tinggal di Desa Galuga.
Berdasarkan data BPJS Ketenagakerjaan yang dihimpun Kantor Desa Galuga, tercatat 334 warga Desa Galuga masih menjadikan pekerjaan sebagai pemulung sebagai sumber penghasilan.
Namun, pekerjaan tersebut dilakukan di lingkungan yang memiliki beragam potensi risiko terhadap keselamatan dan kesehatan.
Baca Juga: Dirut BRI Hery Gunardi Raih Penghargaan Bakti Koperasi Pradana Nayaka di Koperasi Awards 2026
334 Warga Galuga Masih Menggantungkan Hidup dari TPA
Ketua Tim PERNIK PKM-RSH IPB University, Ni Komang Ayu Maharani Putri, mengatakan para pemulung setiap hari beraktivitas langsung di tengah berbagai jenis sampah.
Kegiatan mereka mencakup proses memilah, mengumpulkan, hingga membawa material yang masih mempunyai nilai jual untuk kemudian dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan.
“Setiap hari pemulung berhadapan langsung dengan lingkungan yang dipenuhi berbagai jenis sampah. Mereka memilah, mengumpulkan, kemudian mengangkut material yang masih memiliki nilai ekonomi,” ujar Ayu, Kamis 27 Agustus 2026.
Menurut Ayu, di balik kegiatan ekonomi tersebut terdapat sejumlah risiko yang kerap tidak terlihat secara langsung.
Salah satunya berasal dari paparan gas yang muncul selama proses pembusukan sampah.
Pemulung TPA Galuga Berisiko Terpapar Gas Berbahaya
Tumpukan sampah organik yang mengalami proses penguraian dapat menghasilkan sejumlah gas, di antaranya hidrogen sulfida atau H₂S dan amonia atau NH₃.
Paparan gas tersebut dalam jangka waktu tertentu berpotensi memberikan dampak terhadap kesehatan, terutama pada sistem pernapasan.
Selain persoalan paparan gas, lingkungan kerja pemulung juga menyimpan berbagai potensi bahaya lain.
“Risikonya cukup beragam, mulai dari benda tajam yang dapat menimbulkan bahaya fisik, limbah dan mikroorganisme sebagai bahaya biologis, bahan kimia yang tercampur dalam sampah, hingga persoalan ergonomi karena aktivitas mengangkat dan membawa beban secara berulang,” jelas Ayu.
Kondisi tersebut, lanjutnya, memperlihatkan bahwa pekerjaan memulung bukan semata-mata kegiatan mengumpulkan barang bekas.
Baca Juga: Muncul Notifikasi Tidak Terbit SKTP di Info GTK, Apakah TPG Hangus? Cek Penjelasannya
Ada persoalan kesehatan, keselamatan, dan lingkungan yang melekat dalam aktivitas sehari-hari mereka.
TPA Galuga Jadi Ruang Hidup Masyarakat
Meski menghadapi berbagai potensi risiko, aktivitas memulung tetap dilakukan karena menjadi sumber penghasilan bagi banyak keluarga.
Bagi sebagian warga, pekerjaan tersebut bahkan bukan sekadar pekerjaan sementara.
Kawasan TPA Galuga telah menjadi ruang untuk bekerja, berinteraksi, sekaligus memenuhi kebutuhan keluarga.
“Bagi para pemulung, TPA bukan hanya tempat bekerja. Kawasan ini juga menjadi ruang mereka berinteraksi dan menopang kebutuhan keluarga. Karena itu, persoalan kesehatan dan lingkungan di TPA tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosial ekonomi masyarakat,” tutur Ayu.
Situasi tersebut menempatkan masyarakat sekitar TPA pada kondisi yang cukup kompleks.
Mereka harus berhadapan dengan potensi bahaya lingkungan, tetapi pada saat bersamaan pekerjaan di TPA menjadi salah satu pilihan yang tersedia untuk memperoleh penghasilan.
Perlindungan Pemulung Tak Cukup Hanya dengan Larangan
Ayu menilai upaya mengurangi risiko kesehatan bagi pemulung tidak bisa dilakukan hanya dengan memberikan pemahaman bahwa lingkungan TPA berbahaya.
Masyarakat juga perlu mendapatkan akses terhadap informasi, perlindungan, serta pilihan yang memungkinkan mereka tetap memenuhi kebutuhan ekonomi tanpa mengesampingkan keselamatan dan kesehatan.
“Upaya mengurangi risiko harus dibarengi dengan akses terhadap informasi dan perlindungan. Masyarakat juga membutuhkan pilihan agar tetap bisa memenuhi kebutuhan hidup dengan memperhatikan keselamatan dan kesehatan,” tegasnya.
Baca Juga: G-Dragon BIGBANG Akui tak Bisa Pakai Mobile Banking, Begini Cara Ia Kelola Keuangannya
Menurut Ayu, kondisi TPA Galuga menunjukkan bahwa persoalan lingkungan memiliki keterkaitan erat dengan cara masyarakat memahami serta menghadapi risiko dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, komunikasi mengenai risiko menjadi salah satu hal penting yang perlu diperkuat.
Edukasi Keselamatan Perlu Libatkan Pemulung
Informasi mengenai potensi paparan gas, penggunaan alat pelindung diri, cara menangani benda tajam, menjaga kebersihan diri, hingga keselamatan selama bekerja perlu diberikan dengan pendekatan yang sesuai dengan kondisi masyarakat.
Namun, komunikasi tersebut tidak seharusnya hanya dilakukan secara satu arah. Masyarakat yang setiap hari tinggal dan bekerja di sekitar TPA juga mempunyai pengalaman serta pengetahuan mengenai kondisi lingkungan yang mereka hadapi.
Karena itu, masyarakat perlu dilibatkan dalam proses komunikasi agar kebutuhan dan solusi yang dirancang benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan.
Pendekatan tersebut sekaligus dapat menjadi bagian dari proses pengembangan masyarakat.
Upaya pemberdayaan, menurut Ayu, bukan berarti memaksa masyarakat meninggalkan pekerjaannya secara mendadak.
Sebaliknya, perlu dibuka ruang untuk meningkatkan keselamatan, kapasitas, serta pilihan hidup masyarakat sekitar TPA.
Persoalan TPA Galuga Tak Hanya soal Sampah
Ayu menegaskan keberadaan TPA Galuga memperlihatkan bahwa sampah memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar persoalan lingkungan.
“TPA Galuga menunjukkan bahwa persoalan sampah juga berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas di dalamnya,” ungkap Ayu.
Baca Juga: Pencinta Pedas Wajib Coba ke Meet and Play Citayam, Kuliner Pedasnya Nampol Bikin Nagih
Para pemulung dan masyarakat sekitar berada dalam posisi yang tidak sederhana. Mereka menghadapi berbagai potensi risiko kesehatan dan lingkungan, tetapi aktivitas di TPA pada saat yang sama menjadi bagian penting dari strategi ekonomi keluarga.
Karena itu, persoalan TPA Galuga tidak cukup jika hanya dilihat dari sisi bagaimana sampah dibuang atau dikelola.
Di balik setiap timbunan sampah, terdapat manusia, keluarga, serta kehidupan yang terus berjalan.
Ke depan, perhatian terhadap kondisi lingkungan TPA perlu dilakukan bersamaan dengan perlindungan kesehatan, peningkatan komunikasi risiko, serta pemberdayaan masyarakat.
“Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai pihak yang menerima dampak dari keberadaan TPA, tetapi juga dilibatkan sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan hidup dan kondisi kerja yang lebih aman,” tandas Ayu. (cok)
Editor : Yosep Awaludin