RADAR BOGOR – Sebelum menjabat sebagai Kepala Desa Cilebut Barat, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Dasuki dikenal sebagai pengusaha di bidang properti.
Namun, keprihatinannya terhadap kondisi wilayah Cilebut Barat membuat ia memutuskan terjun ke pemerintahan desa.
Dasuki mengatakan, saat masih berkecimpung di dunia properti, dirinya bersama sejumlah rekan membangun perumahan di berbagai wilayah.
Namun, kondisi tata ruang Cilebut Barat yang dinilainya semakin semrawut menjadi salah satu alasan dirinya mencalonkan diri sebagai kepala desa.
“Sebelum saya menjadi kepala desa, salah satu usaha saya main di proferti, di mana-mana saya bangun perumahan,” ujarnya kepada Radar Bogor, Jumat 28 Agustus 2026.
Menurutnya, pembangunan perumahan yang tidak diimbangi dengan penataan wilayah berdampak terhadap keberadaan akses masyarakat.
Baca Juga: Bantu Warga Kurang Mampu, Korem 061 Gelar Pasar Murah hingga Cek Kesehatan Gratis
Sejumlah jalan kecil hingga jalan tembus disebut hilang akibat perkembangan kawasan permukiman.
“Niatan saya untuk menjalankan diri jadi kepala desa, salah satunya yang saya lihat, daerah saya yang merupakan kelahiran Cilebut Barat, melihat tata ruang Cilebut Barat itu berantakan dengan banyaknya perumahan, dari situ saya berangkat, menyalonkan diri, alhamdulillah kita terpilih,” jelasnya.
Setelah terpilih, Dasuki kemudian menjadikan penataan tata ruang sebagai salah satu programnya.
Selain itu, persoalan sampah dan keterbatasan lahan pemakaman juga menjadi perhatian, mengingat Cilebut Barat kini semakin padat penduduk.
Salah satu langkah yang dilakukannya adalah membeli lahan seluas sekitar 550 meter persegi menggunakan uang pribadi untuk dijadikan lahan pemakaman bagi masyarakat.
“Saya beli lahan pakai uang pribadi, saya hibahkan ke warga,” ungkapnya.
Lahan tersebut diperuntukkan bagi warga Cilebut Barat, khususnya masyarakat di wilayah selatan seperti Kampung Babakan, RW 3, RW 2, dan RW 16.
Dasuki menyebut, saat ini Desa Cilebut Barat memiliki dua tempat pemakaman umum yang menjadi aset desa, yakni di Pasarean dan Blok Mangga. Namun, kondisi kedua lokasi tersebut sudah semakin penuh.
“Sudah bertumpuk dan di ujung sana, di selatan itu hampir rata-rata warga kalau meninggal dunia itu ada yang dimakamkan di kota itu bayar, kurang lebih satu makam itu Rp3.500.000. Kalau mereka yang mampu, kalau yang tidak mampu kan kasihan,” tuturnya.
Karena itu, lahan yang dibelinya tersebut diberikan secara gratis bagi warga Cilebut Barat yang memiliki KTP Cilebut Barat.
Baca Juga: Danantara Housing Expo 2026 Hadirkan 100 Ribu Hunian, BRI Tawarkan KPR Mulai DP 1 Persen
Selain membenahi persoalan pemakaman, Dasuki juga mengaku menghadapi tantangan ketika harus meninggalkan sebagian kesibukannya sebagai pengusaha properti untuk fokus melayani masyarakat.
“Tantangan ada, salah satunya mengenai keuangan. Kita biasa main properti, cari uang mudah. Tapi begitu kita jadi Kepala Desa, usaha kita terbengkalai, karena kita harus melayani masyarakat,” ungkapnya.
Meski demikian, usaha properti yang sebelumnya dijalankan masih tetap berjalan, meski tidak lagi seperti dahulu.
Selama menjabat, ia memprioritaskan pembangunan infrastruktur desa, terutama jalan desa dan jalan lingkungan.
Ia menjelaskan, pembangunan tersebut menjadi kebutuhan penting karena Cilebut Barat kini telah berkembang menjadi kawasan yang padat.
“Kebetulan kan pada saat itu ada dana desa dan ada dana samisade, nah itu yang kita alokasikan dari dana-dana tersebut,” imbuhnya.
Selain infrastruktur, program penanganan stunting juga menjadi salah satu prioritasnya.
“Warga Cilebut Barat itu cukup banyak waktu itu yang mengalami stunting. Tapi alhamdulillah, sampai saat ini sudah menurun drastis dari dana yang kita programkan stunting itu,” bebernya.
Sejumlah pembangunan infrastruktur juga telah dilakukan. Dasuki menyebut selama masa kepemimpinannya telah dibangun tujuh jembatan.
Selain itu, jalan dari wilayah selatan hingga utara desa juga sebagian besar telah diperbaiki.
Baca Juga: Daftar BLT yang Cair Hari Ini, KPM BPNT Berpeluang Dapat 3 Bansos Sekaligus
Ke depan, Dasuki berharap Cilebut Barat memiliki fasilitas pelayanan dasar yang memadai, Desa yang terdiri dari 138 RT dan 22 RW tersebut, kata dia, hingga kini belum memiliki gedung puskesmas maupun SMP.
“Keinginan saya, saya ingin punya gedung puskesmas, sekalipun itu pustu (puskesmas pembantu) dan SMP, itu harapan saya ke depan,” ungkapnya.
Usulan pembangunan fasilitas tersebut telah disampaikan kepada dinas terkait, ia menyebut telah ada respons dan kemungkinan pembangunan dapat direalisasikan dalam rentang 2027 hingga 2029.
Selain pembangunan fasilitas umum, ia juga ingin membenahi data kependudukan serta persoalan pertanahan, termasuk ribuan sertifikat PTSL (Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap) yang menurutnya masih perlu ditata dan diselesaikan.
Masa jabatan pertamanya akan berakhir pada 2027, Dasuki pun mengaku masih memiliki keinginan untuk kembali mencalonkan diri sebagai kepala desa.
“Saya memang ingin menyalonkan diri lagi. Kenapa saya nyalonkan diri lagi, kalau saya hitung-hitung kalau secara dagang rugi,” ucapnya.
Namun, ia menegaskan keinginannya tersebut dilandasi rasa tanggung jawab terhadap wilayah kelahirannya.
“Tapi karena saya merupakan orang kelahiran Cilebut Barat, saya orang peribumi, di sini saya harus bertanggung jawab seperti apa untuk wilayah saya,” pungkasnya. (cr1)
Editor : Yosep Awaludin