IPB Ungkap Alasan Gen Z Pilih Tolak Promosi Jabatan

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 20:59 WIB
ILUSTRASI: Banyak gen Z memilih menolak promosi jabatan.
ILUSTRASI: Banyak gen Z memilih menolak promosi jabatan.

RADAR BOGOR - Promosi jabatan selama ini identik dengan pencapaian dalam karier.

Namun, anggapan tersebut mulai bergeser, terutama di kalangan generasi Z.

Bagi sebagian anak muda, kenaikan posisi bukan selalu menjadi tujuan utama jika harus mengorbankan waktu bersama keluarga, kesehatan, kehidupan pribadi, hingga kesempatan mengembangkan diri.

Baca Juga: Gempa Magnitudo 4,3 Guncang Cianjur, Warga Puncak Bogor Rasakan Getaran

Fenomena gen Z yang memilih menolak promosi demi menjaga work-life balance pun menarik perhatian.

Keputusan tersebut tidak bisa begitu saja dimaknai sebagai tanda kurangnya ambisi atau keengganan untuk berkembang.

Dosen Ilmu Keluarga dan Konsumen Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Rahmi Damayanti menilai, pilihan tersebut justru menunjukkan adanya perubahan cara pandang generasi muda terhadap arti kesuksesan dalam bekerja.

Sukses Tak Lagi Hanya soal Jabatan

Menurut Rahmi, sebagian gen Z mulai melihat keberhasilan secara lebih luas. Karier memang tetap penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seseorang.

“Yang terjadi sebenarnya adalah adanya pergeseran orientasi mengenai makna keberhasilan dalam bekerja. Bagi sebagian gen Z, keberhasilan tidak lagi semata-mata diukur dari kenaikan jabatan, besarnya tanggung jawab, atau posisi struktural, tetapi juga dari kemampuan memperoleh keseimbangan antara pekerjaan, keluarga, kehidupan pribadi, kesehatan, dan pengembangan diri,” ujar Rahmi dikutip dari laman resmi IPB, Selasa 1 September 2026.

Dalam perspektif ilmu keluarga, pekerjaan merupakan salah satu unsur yang tidak terpisahkan dari kehidupan individu.

Ketika tanggung jawab pekerjaan semakin besar, sementara waktu dan energi untuk keluarga serta kehidupan personal semakin terbatas, seseorang dapat kembali mempertimbangkan arah karier yang ingin dijalani.

Karena itu, menurut Rahmi, menolak promosi tidak selalu berarti seseorang menghindari tanggung jawab.

Pilihan tersebut dapat menjadi bentuk upaya untuk mempertahankan kualitas hidup.

Perubahan cara pandang itu juga tidak terlepas dari kondisi dunia kerja yang dihadapi gen Z.

Baca Juga: FiberStar Hadirkan Solusi Infrastruktur Terintegrasi, Digitalisasi Rumah Sakit Tak Sekadar Internet

Mereka memasuki lingkungan profesional di tengah pesatnya digitalisasi, ritme kerja yang semakin cepat, berkembangnya pola kerja fleksibel, serta meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan dan kesejahteraan.

Gen Z Tetap Bisa Punya Ambisi Memimpin

Meski begitu, Rahmi mengingatkan agar fenomena gen Z menolak promosi tidak digeneralisasi kepada seluruh generasi tersebut.

Banyak anak muda tetap memiliki keinginan untuk menjadi pemimpin.

Hanya saja, mereka cenderung mengharapkan pola kepemimpinan yang lebih fleksibel, manusiawi, dan kolaboratif.

Artinya, persoalannya bukan semata-mata apakah gen Z bersedia menerima jabatan yang lebih tinggi.

Tantangan yang lebih besar justru berada pada bagaimana perusahaan merancang posisi kepemimpinan agar tetap memungkinkan seseorang menjalankan kehidupan personal dan keluarganya secara sehat.

Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah menciptakan lingkungan kerja yang ramah keluarga atau family-friendly workplace.

Family-Friendly Workplace Jadi Salah Satu Solusi

Konsep family-friendly workplace merujuk pada sistem, kebijakan, dan lingkungan kerja yang memungkinkan karyawan tetap produktif serta berkembang secara profesional tanpa mengabaikan kebutuhan dan tanggung jawab keluarga.

Menurut Rahmi, penerapannya dapat dilakukan melalui berbagai kebijakan. Mulai dari fleksibilitas kerja, pengaturan beban kerja yang lebih sehat, dukungan terhadap kebutuhan keluarga, pemberian cuti, hingga waktu kerja yang lebih adaptif.

Budaya perusahaan juga perlu diarahkan agar bekerja dalam waktu berlebihan tidak dijadikan sebagai tolok ukur loyalitas karyawan.

Baca Juga: KKS Berpotensi Bertambah! 8 Bansos Cair September 2026, PKH BPNT hingga BLT Dana Desa

“Pekerjaan ramah keluarga bukan berarti mengurangi produktivitas atau tuntutan profesional. Justru, pendekatan ini mendorong terciptanya sistem kerja yang memungkinkan seseorang tetap produktif dan berkembang dalam karier tanpa harus mengabaikan fungsi dan tanggung jawabnya dalam keluarga,” jelas Rahmi.

Gagasan mengenai pekerjaan ramah keluarga sebelumnya juga telah lama dikembangkan dan diadvokasikan oleh Prof. Euis Sunarti, Guru Besar IPB University di bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga.

Pendekatan tersebut, menempatkan keluarga sebagai salah satu aspek penting yang perlu dipertimbangkan dalam kebijakan maupun praktik di dunia kerja.

Hal itu turut diperkuat penelitian Rahmi bersama Prof. Euis Sunarti dan Dr. Istiqlaliyah Muflikhati mengenai family-friendly policies.

Penelitian tersebut menunjukkan, dukungan terhadap kebijakan ramah keluarga berkaitan dengan peningkatan keseimbangan kerja-keluarga, keberfungsian keluarga, serta kesejahteraan subjektif keluarga.

Jalur Karier Tak Harus Berujung pada Jabatan Manajerial

Selain membangun lingkungan kerja yang lebih ramah keluarga, perusahaan juga perlu mempertimbangkan model pengembangan karier yang lebih beragam.

Menurut Rahmi, jalur karier tidak harus selalu diarahkan menuju posisi manajerial.

Perusahaan dapat menyediakan jalur keahlian profesional atau individual contributor bagi karyawan yang ingin terus berkembang tanpa harus mengambil tanggung jawab struktural.

Sementara itu, calon pemimpin dapat dipersiapkan secara bertahap melalui program mentoring, coaching, pengembangan kompetensi, serta pengalaman memimpin yang diberikan sesuai kesiapan.

Dengan pendekatan tersebut, perusahaan tidak perlu melihat penolakan promosi sebagai persoalan semata.

Sebaliknya, keputusan tersebut dapat menjadi masukan untuk mengevaluasi kembali bagaimana sistem karier dan kepemimpinan dibangun.

“Solusi krisis kepemimpinan bukan dengan menyalahkan gen Z karena tidak mau naik jabatan, tetapi dengan membangun sistem kerja yang membuat kepemimpinan tetap kompatibel dengan kehidupan keluarga dan kualitas hidup,” kata Rahmi.

Memaknai Ulang Keberhasilan di Dunia Kerja

Fenomena ini, pada akhirnya dapat menjadi momentum bagi dunia kerja untuk memperluas definisi keberhasilan.

Karier tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan profesional.

Namun, pencapaian seseorang juga tidak dapat dilepaskan dari kesehatan, keluarga, kehidupan sosial, waktu personal, serta kesejahteraan secara keseluruhan.

Rahmi menilai, work-life balance juga perlu dipahami secara proporsional. Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan bukan berarti seseorang mengurangi tanggung jawab atau berhenti mengejar perkembangan diri.

Sebaliknya, keseimbangan berarti mampu mengelola pekerjaan dan kehidupan secara sehat, tetap memenuhi tanggung jawab, sekaligus terus bertumbuh.

“Yang perlu kita bangun bukan generasi muda yang ‘dipaksa mengejar jabatan’, tetapi generasi muda yang memiliki kapasitas dan kemauan untuk memimpin karena mereka melihat kepemimpinan sebagai sesuatu yang bermakna, bukan sebagai pengorbanan terhadap kehidupan mereka,” pungkas Rahmi. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
ipb institut pertanian bogor Gen Z