Kemarau Belum Capai Puncak, Pemkab Bogor Perpanjang Tanggap Darurat Kekeringan

Muhammad Ali • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 23:36 WIB
Area pesawahan di Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor mengalami kekeringan. (Hendi Novian/Radar Bogor)
Ilustrasi: Area sawah di Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor mengalami kekeringan. (Hendi Novian/Radar Bogor)

RADAR BOGOR – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor kembali memperpanjang status tanggap darurat kekeringan menyusul musim kemarau yang masih berlangsung. 

Terlebih, berdasarkan rilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kering di Kabupaten Bogor disebut belum mencapai titik tertingginya.

Bupati Bogor Rudy Susmanto mengatakan, perpanjangan status tanggap darurat dilakukan sebagai langkah pemerintah dalam menghadapi dampak kekeringan yang masih dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah.

“Kekeringan hari ini kita melakukan perpanjangan kembali SK Tanggap Darurat untuk kekeringan, kita juga melihat rilis dari BMKG, tren puncak musim kering belum sampai titik puncak,” ujarnya kepada Radar Bogor, Senin, 31 Agustus 2026.

Baca Juga: KPK Usut Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Smartboard di Disdik Kabupaten Bogor

Untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, Pemkab Bogor hingga kini masih melakukan pendistribusian air bersih setiap hari ke 40 Kecamatan yang terdampak.

“Kita sudah menyiapkan toren-toren, lalu kita juga sudah membangun sumur-sumur di titik-titik sumber air yang bisa kita distribusikan untuk kepentingan masyarakat,” jelasnya.

Rudy juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran selama musim kemarau, minimnya curah hujan membuat banyak semak dan lahan menjadi kering sehingga mudah terbakar.

“Jangan buang-buang puntung (rokok) sembarangan, jangan bakar sampah sembarangan, kalau ada beberapa titik api, kita padamkan bersama-sama,” tegasnya.

Di sisi lain, kondisi kemarau juga mulai berdampak terhadap sektor pertanian.

Ia menambahkan, sejumlah lahan pertanian tidak dapat ditanami seperti biasanya karena ketersediaan air yang terbatas.

“Kebetulan musim kering sudah terjadi beberapa bulan ke belakang, jadi beberapa lahan pertanian tidak ditanami tanaman pertanian yang biasa dijalankan, salah satunya padi,” ungkapnya.

Dampak tersebut cukup dirasakan di wilayah Bogor bagian Timur, terutama pada lahan persawahan yang mengandalkan air hujan.

“Di wilayah Timur ada yang namanya sawah tadah hujan, karena tidak ada hujan para petani tidak bisa melakukan penanaman,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Stasiun BMKG Citeko, Fatuhri mengatakan, awal musim hujan di setiap wilayah tidak selalu bersamaan karena masing-masing daerah memiliki zona musim yang berbeda.

“Iya, setiap wilayah berbeda-beda mulai masuk musim hujannya sesuai daerah zona musim,” tuturnya.

Ia menambahkan, perbedaan waktu masuknya musim hujan tersebut dipengaruhi oleh kondisi topografi dan bentangan wilayah. Selain itu, kondisi tersebut juga berkaitan dengan respons wilayah terhadap pergerakan massa udara dari Benua Australia maupun Asia. (Cr1)

Editor : Eka Rahmawati
bogor kemarau kekeringan