Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Sampai Bogor, Ini Dampaknya Bagi Kesehatan

Muhammad Ali • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 13:58 WIB
Warga membersihkan debu abu vulkanik di teras rumah di Cibadak, Ciampea. Kabupaten Bogor Minggu  6 September 2026. (Foto : Hendi Novian / Radar Bogor)
Warga membersihkan debu abu vulkanik di teras rumah di Cibadak, Ciampea. Kabupaten Bogor Minggu 6 September 2026. (Foto : Hendi Novian / Radar Bogor)

RADAR BOGOR — Masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Bogor diminta meningkatkan kewaspadaan menyusul abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang mulai terdeteksi di wilayah tersebut sejak Minggu 6 September 2026 dini hari.

Abu vulkanik terlihat menempel di sejumlah permukaan terbuka, mulai dari rumah warga, kendaraan yang berada di luar ruangan, hingga berbagai area lainnya.

Kondisi ini menjadi perhatian karena paparan abu vulkanik dapat berdampak terhadap kesehatan, khususnya pada kelompok masyarakat yang rentan.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati terhadap paparan abu vulkanik.

Terutama bayi, anak-anak, ibu hamil, lanjut usia (lansia), serta warga yang memiliki penyakit jantung dan gangguan paru-paru kronis.

Kepala Dinkes Kabupaten Bogor, dr. Fusia Meidiawaty, menjelaskan bahwa abu vulkanik terdiri atas partikel debu berukuran sangat halus dan material silika.

Baca Juga: BRI Raih Penghargaan Kemendag Berkat Komitmen Dorong UMKM Tembus Pasar Global

Partikel tersebut berpotensi mengganggu kesehatan apabila masuk ke saluran pernapasan maupun mengenai mata dan kulit.

Menurut Fusia, paparan abu vulkanik dapat memicu sejumlah keluhan kesehatan, seperti batuk, tenggorokan mengalami iritasi, hingga kesulitan bernapas.

Kondisi tersebut juga berisiko memperburuk penyakit yang sebelumnya sudah diderita, terutama asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

Selain gangguan pada sistem pernapasan, abu vulkanik juga dapat menyebabkan masalah pada mata.

Warga yang terpapar bisa mengalami mata merah, terasa perih, berair, atau seperti terdapat benda yang mengganjal.

Kontak langsung dengan abu vulkanik juga perlu dihindari karena dapat memicu gangguan pada kulit berupa rasa gatal dan munculnya kemerahan.

Dinkes Minta Warga Gunakan Masker

Untuk mengurangi risiko paparan, Fusia mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah.

Masker N95 dinilai lebih disarankan, sedangkan masyarakat yang tidak memilikinya setidaknya dapat menggunakan masker medis dua lapis.

Dinkes juga meminta warga mengurangi kegiatan di luar ruangan selama abu vulkanik masih tersebar. Aktivitas di luar rumah sebaiknya dilakukan hanya jika memang diperlukan.

Selain itu, pintu, jendela, serta ventilasi rumah dianjurkan ditutup untuk membatasi masuknya partikel abu vulkanik ke dalam ruangan.

Baca Juga: Lagi Viral! Roti Cihapit Buka Cabang Baru di Cimahi, Bertabur Promo Bikin Rela Antre

Bagi masyarakat yang tetap harus bepergian menggunakan sepeda motor, perlindungan tambahan juga diperlukan.

Pengendara disarankan mengenakan helm dengan kaca pelindung atau menggunakan kacamata, sekaligus tetap memakai masker selama berkendara.

Sementara bagi pengguna lensa kontak, Fusia menyarankan untuk menghentikan pemakaian sementara selama kondisi masih dipengaruhi sebaran abu.

Penggunaan lensa kontak saat mata terpapar abu dapat meningkatkan risiko iritasi.

Sumber Air dan Makanan Harus Dijaga

Dinkes Kabupaten Bogor turut mengingatkan warga untuk memperhatikan kebersihan sumber air di tengah kondisi tersebut. Endapan abu yang masuk atau menempel pada sumber air perlu segera dibersihkan.

Tempat penyimpanan air juga harus selalu dalam kondisi tertutup agar tidak mudah terkontaminasi abu vulkanik.

Tak hanya air, kebersihan bahan makanan juga perlu diperhatikan. Buah dan sayuran yang akan dikonsumsi harus dicuci hingga bersih untuk menghilangkan abu atau partikel yang mungkin menempel pada permukaannya.

Penderita Asma dan Penyakit Jantung Diminta Siaga

Perhatian khusus diberikan kepada masyarakat yang memiliki riwayat asma, PPOK, maupun penyakit jantung.

Dinkes meminta kelompok tersebut memastikan obat-obatan rutin selalu tersedia dan mudah dijangkau.

Baca Juga: Mensos Gus Ipul: Data BKKBN Tidak Salah, Lonjakan Desil Bansos Sedang Dimutakhirkan

Masyarakat juga diminta segera mendapatkan pertolongan medis apabila mengalami gejala berat, seperti sesak napas yang semakin parah, nyeri dada, maupun iritasi pada mata dan kulit yang tidak kunjung membaik.

Untuk warga yang membutuhkan layanan kesehatan maupun informasi lebih lanjut terkait dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, bantuan dapat diperoleh melalui Puskesmas terdekat atau Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit.

Selain itu, layanan PSC 119 juga tetap disiagakan selama 24 jam untuk memberikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan. (Cr1)

Editor : Yosep Awaludin
Gunung Anak Krakatau bogor abu vulkanik