Sungai Cileungsi Bogor Kembali Menghitam, KP2C Temukan Pipa Siluman Diduga Buang Limbah

Muhammad Ali • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 13:36 WIB
Ketua KP2C, Puarman saat menemukan pipa siluman yang disembunyikan di Sungai Cileungsi. (Foto: KP2C for Radar Bogor)
Ketua KP2C, Puarman saat menemukan pipa siluman yang disembunyikan di Sungai Cileungsi. (Foto: KP2C for Radar Bogor)

RADAR BOGOR – Dugaan pencemaran Sungai Cileungsi kembali menjadi perhatian setelah Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas atau KP2C menemukan sejumlah pipa tersembunyi yang diduga menjadi jalur pembuangan limbah menuju aliran sungai di Kabupaten Bogor.

Temuan tersebut merupakan hasil penelusuran dan pemetaan yang dilakukan KP2C terhadap berbagai pipa serta saluran yang bermuara ke Sungai Cileungsi sejak 22 Juli 2026.

Ketua KP2C, Puarman, menjelaskan proses pemetaan dilakukan dengan mencatat setiap pipa dan saluran yang ditemukan.

Tim kemudian menelusuri asal saluran, sumber pembuangan, hingga pihak yang diduga menggunakan fasilitas tersebut.

Menurutnya, penelusuran tersebut secara khusus diarahkan untuk mengetahui seluruh pipa dan saluran yang terhubung dengan Sungai Cileungsi, termasuk memastikan dari mana masing-masing saluran berasal.

Dalam penelusuran pertama, KP2C menemukan beberapa pipa yang dinilai tidak lazim. Pipa tersebut berada dalam kondisi tersembunyi sehingga oleh KP2C disebut sebagai pipa siluman.

Baca Juga: CFD Kota Bogor Mulai Libatkan Pedagang, Fokus untuk Dua Kelurahan

Puarman mengatakan fokus penelusuran diarahkan terhadap kawasan industri yang berada di sepanjang Sungai Cileungsi.

Pada 22 Juli 2026, tim menemukan beberapa pipa tersembunyi yang keberadaannya dinilai tidak wajar.

Pemetaan Pipa Kembali Dilakukan

KP2C kembali melakukan pemetaan pada 26 Agustus 2026 dengan pemeriksaan yang lebih mendalam.

Dalam kegiatan tersebut, tim berupaya mengetahui pemilik saluran, sumber pembuangan serta lokasi ujung dari pipa-pipa yang ditemukan.

Temuan di lapangan selanjutnya turut mendapatkan tindak lanjut dari penegak hukum Kementerian Lingkungan Hidup.

Puarman menjelaskan, pengujian laboratorium terhadap sejumlah sampel dilakukan pada 15 hingga 18 Agustus 2026.

Dari hasil tindak lanjut tersebut, empat industri yang berada di kawasan Sungai Cileungsi kemudian disegel.

Berikutnya, pada 2 September 2026, KP2C bersama unsur TNI, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cileungsi-Cisadane kembali turun ke lapangan.

Mereka melakukan patroli sekaligus penelusuran di sepanjang kawasan Sungai Cileungsi.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Patroli Sungai Cileungsi, Cikeas dan Kali Bekasi yang dibentuk berdasarkan arahan Gubernur Jawa Barat.

Baca Juga: Asap Kebakaran TPA Galuga Bogor Berdampak ke Warga, Dinkes Buka 3 Posko Kesehatan

Dalam patroli itu, tim berencana membongkar salah satu pipa yang sebelumnya telah ditemukan. Pipa tersebut diketahui tidak memiliki izin dari BBWS.

Namun, rencana pembongkaran sempat terkendala karena pipa yang akan dibongkar tiba-tiba tidak terlihat di lokasi.

Puarman mengungkapkan tim membutuhkan waktu sekitar 4,5 jam hingga hampir lima jam untuk kembali menemukan keberadaan pipa tersebut.

Pipa Disamarkan dengan Tanah dan Rumput

Setelah dilakukan pencarian, pipa tersebut akhirnya ditemukan dalam kondisi sengaja disamarkan.

Bagian pipa ditutupi menggunakan karung, tanah, hingga rumput alang-alang agar keberadaannya tidak mudah terlihat.

Setelah pipa ditemukan, pembongkaran kemudian dilakukan berdasarkan perintah Kepala DLH Kabupaten Bogor. Proses pembongkaran dimulai dari bagian bawah hingga mencapai ujung atas pipa.

Di lokasi yang sama, petugas juga menemukan beberapa pipa lain. Namun, berdasarkan penuturan Puarman, hanya satu pipa yang keberadaannya diakui.

Selain keberadaan pipa, tim juga menemukan gelembung-gelembung berukuran besar yang muncul dari bawah permukaan sungai. Kondisi tersebut kemudian dicurigai berkaitan dengan sejumlah pipa yang diduga tidak resmi.

Untuk memastikan sumber gelembung tersebut, personel TNI dari unsur Marinir melakukan penyelaman. Akan tetapi, penyelaman tersebut belum berhasil menemukan sumber gelembung.

Sungai Cileungsi Kembali Hitam dan Berbau

Di tengah penelusuran sumber pencemaran, kondisi Sungai Cileungsi kembali menjadi sorotan.

Baca Juga: Kasus ISPA Melonjak di Kota Bogor, Dinkes Belum Bisa Pastikan Akibat Abu Vulkanik

Sejak Sabtu 5 September 2026, air sungai dilaporkan kembali berubah menjadi hitam pekat dan mengeluarkan bau menyengat.

Puarman menyebut kondisi Sungai Cileungsi saat ini kembali menghitam dengan tingkat pencemaran yang dinilainya sangat mengkhawatirkan.

Ia mengatakan, sejumlah industri yang sebelumnya telah mendapat pengawasan dari Kementerian Lingkungan Hidup akan kembali ditinjau, termasuk perkembangan proses hukumnya.

KP2C juga akan melakukan identifikasi terhadap sejumlah titik lain untuk mencari kemungkinan sumber pencemaran baru.

Menurut Puarman, dugaan pelaku pencemaran Sungai Cileungsi tidak hanya berasal dari satu atau dua pihak.

Ia menilai terdapat banyak pihak yang perlu ditelusuri lebih lanjut karena diduga berkontribusi terhadap pencemaran sungai.

Debit Sungai Menyusut, Limbah Makin Dominan

Puarman menjelaskan kondisi pencemaran terlihat semakin jelas ketika kawasan tersebut tidak mengalami hujan selama lebih dari 10 hari.

Ketika debit air Sungai Cileungsi terus menyusut hingga hampir mendekati nol, keberadaan limbah yang masuk ke aliran sungai menjadi lebih dominan sehingga perubahan warna dan kondisi air semakin terlihat.

KP2C hingga kini masih melakukan pemantauan melalui sejumlah titik pengawasan. Salah satunya dilakukan menggunakan kamera CCTV yang berada di kawasan Jembatan Wika.

Berdasarkan pemantauan di Jembatan Wika, kondisi air sungai masih dinilai relatif baik. Aktivitas masyarakat seperti memancing, mandi dan mencuci juga masih terlihat berlangsung di kawasan tersebut.

Baca Juga: Kasus ISPA Melonjak di Kota Bogor, Dinkes Belum Bisa Pastikan Akibat Abu Vulkanik

Namun, kondisi berbeda ditemukan di Jembatan Cikuda yang berjarak sekitar 12 kilometer dari Jembatan Wika.

Di lokasi tersebut, air Sungai Cileungsi disebut telah berubah menjadi hitam dan lebih kental serta mengeluarkan bau yang sangat menyengat.

Kondisi air bahkan dinilai tidak lagi layak digunakan untuk aktivitas warga seperti mandi dan mencuci.

Selain itu, ikan-ikan yang berada di kawasan tersebut juga disebut mengalami kondisi seperti mabuk.

Puarman menjelaskan kawasan yang berada di antara Jembatan Wika dan Jembatan Cikuda memang relatif tidak padat penduduk. Akan tetapi, terdapat ratusan industri yang berdiri di sepanjang aliran Sungai Cileungsi.

Keberadaan ratusan industri tersebut menjadi salah satu fokus KP2C dalam upaya menelusuri sumber pencemaran Sungai Cileungsi dan mengidentifikasi pihak-pihak yang diduga berkaitan dengan masuknya limbah ke sungai. (cr1)

Editor : Yosep Awaludin
pipa bogor KP2C sungai cileungsi