RADAR BOGOR – Ancaman penyalahgunaan narkoba terhadap generasi muda menjadi perhatian Forum Keluarga Mahasiswa Bogor (FKMB).
Organisasi mahasiswa tersebut mendorong penguatan edukasi dan kolaborasi sebagai langkah menghadapi persoalan narkotika di kalangan pemuda.
Upaya itu diwujudkan FKMB melalui seminar edukatif bertajuk Narkoba Mengincar Generasi Muda, Sudah Siapkah Pemuda Bogor Menghadapinya? yang digelar di Auditorium Sekretariat Daerah, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor.
Seminar edukatif tersebut juga mengangkat tema Bogor Sehat, Pemuda Kuat, Masa Depan Hebat, kegiatan tersebut mempertemukan mahasiswa dan pemuda dengan unsur pemerintah serta lembaga yang berwenang menangani persoalan narkotika.
Baca Juga: Pencairan TPG September 2026: Cek Jadwal Penarikan Data, Validasi, dan Terbit SKTP
FKMB menghadirkan unsur kepolisian, Badan Narkotika Nasional (BNN), pemerintah daerah, serta pemuda dalam satu ruang diskusi.
Forum tersebut tidak hanya membahas bahaya narkoba, tetapi juga membuka ruang dialog mengenai tantangan generasi muda dalam menghadapi berbagai persoalan sosial.
Ketua FKMB, Muhamad Fahri Ardian mengatakan, organisasi mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk ikut membaca persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
Menurutnya, mahasiswa dan pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton ketika persoalan sosial muncul.
“FKMB ingin pemuda Bogor tidak hanya menjadi penonton terhadap persoalan yang terjadi di sekitarnya, pemuda harus berani berdiskusi, menyampaikan gagasan dan mengambil peran dalam mencari solusi,” ujarnya kepada Radar Bogor, Sabtu, 12 September 2026.
Ia menilai, persoalan narkoba harus dipandang secara komprehensif. Edukasi mengenai bahaya narkotika menjadi penting, namun generasi muda juga membutuhkan lingkungan yang sehat, ruang aktualisasi, kesempatan berkembang, serta ekosistem sosial yang dapat mencegah mereka terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba.
Karena itu, FKMB sengaja menghadirkan berbagai pihak yang memiliki kewenangan dan pengalaman dalam menangani persoalan narkotika.
Mahasiswa diberi kesempatan bertanya, pemerintah memberikan perspektif kebijakan, aparat menyampaikan pandangan dari sisi keamanan, sedangkan BNN memberikan edukasi mengenai ancaman narkoba.
Fahri menjelaskann, pola dialog antara mahasiswa, pemerintah, aparat, dan lembaga terkait perlu terus dikembangkan.
Organisasi mahasiswa, kata dia, tidak cukup hanya menyampaikan kritik, tetapi juga harus mampu membangun komunikasi dan menawarkan gagasan sebagai bagian dari solusi.
“Kami ingin FKMB menjadi ruang bertemunya gagasan pemuda dengan para pemangku kebijakan. Kritik tetap penting, tetapi kritik yang baik harus dibangun dengan data, argumentasi dan keberanian untuk berdialog,” tandasnya.
Ia menambahkan, organisasi mahasiswa perlu membangun tradisi intelektual melalui diskusi, kajian, edukasi publik, dan keterlibatan langsung dalam berbagai persoalan masyarakat. Dengan begitu, aktivitas mahasiswa tidak hanya bersifat reaktif ketika persoalan muncul. (Cr1)
Editor : Eka Rahmawati