RADAR BOGOR – Kondisi Sungai Cileungsi terlihat hitam pekat disertai buih yang mengambang di permukaan serta aroma bau yang sangat menyengat pada Senin, 14 September 2026.
Kondisi tersebut terlihat berdasarkan pantauan Radar Bogor di kawasan Curug Parigi, Desa Ciangsana, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor.
Aliran air yang menghitam itu membentang hingga sekitar 26 kilometer dari Jembatan Wika menuju titik pertemuan dengan Sungai Cikeas sebelum berubah menjadi Kali Bekasi.
Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C), Puarman, mengatakan kondisi air mulai berubah setelah melewati Jembatan Wika menuju Jembatan Cikuda.
Baca Juga: KPK Dikabarkan OTT di Kantor BPN Kabupaten Bogor
Menurutnya, kondisi tersebut patut diduga berkaitan dengan aktivitas industri di sepanjang aliran sungai. Sebab, kawasan antara Jembatan Wika dan Jembatan Cikuda relatif tidak memiliki permukiman padat, tetapi terdapat ratusan industri.
“Ada ratusan industri di situ (Jembatan Wika-Jembatan Cikuda), jadi patut diduga memang sumbernya ini adalah dari industri-industri yang ada di Sungai Cileungsi,” ujarnya kepada Radar Bogor, Senin, 14 September 2026.
Ia menuturkan, dari Jembatan Wika hingga titik pertemuan Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas, aliran yang menghitam disebut membentang sekitar 26 kilometer.
Jarak tersebut meliputi sekitar 12 kilometer dari Jembatan Wika menuju Jembatan Cikuda, dilanjutkan tujuh kilometer hingga Curug Parigi, dan tujuh kilometer lagi menuju titik pertemuan dengan Sungai Cikeas sebelum alirannya berubah menjadi Kali Bekasi.
KP2C mencatat, kondisi Sungai Cileungsi yang menghitam bukan persoalan baru, fenomena serupa disebut berulang setiap tahun sejak 2018, terutama ketika musim kemarau dan hujan tidak turun selama lebih dari sepekan.
“Ketika terjadi lebih dari seminggu atau sepuluh hari tanpa hujan, di Sungai Cileungsi pasti akan begini, sudah 8 tahun ya,” ungkapnya.
Puarman menjelaskan, kondisi air semakin terlihat menghitam saat musim kemarau karena debit sungai mengecil.
Sementara saat musim hujan, air limbah yang dibuang perusahaan bercampur dengan debit air sungai yang lebih besar sehingga dampaknya tidak terlihat secara kasatmata.
Kondisi tersebut berdampak terhadap masyarakat di wilayah hilir, yakni Kabupaten Bekasi dan Kota Bekasi, yang memanfaatkan Kali Bekasi sebagai salah satu sumber air baku.
Air dari Kali Bekasi selama ini dimanfaatkan oleh Perumda Tirta Patriot milik Pemerintah Kota Bekasi dan Perumda Tirta Bhagasasi milik Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk diolah menjadi air bersih sebelum didistribusikan kepada masyarakat.
Sebelumnya, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) telah menindaklanjuti dugaan pencemaran yang melibatkan empat perusahaan laundry garment.
“Dari 4 industri tersebut, kami menemukan beberapa hari kemudian mereka masih tetap membuang dan memproduksi hitam yang sama seperti sebelumnya,” ucapnya.
Selain itu, Puarman menyebut masih banyak industri lain yang diduga berkontribusi terhadap kondisi Sungai Cileungsi.
“Jadi yang berkontribusi melakukan pencemaran di Sungai Cileungsi tidak hanya 1, 2, 3, dan 4, tidak hanya puluhan, belasan, bahkan lebih, luar biasa banyak,” tuturnya.
Karena itu, KP2C meminta pemerintah tidak berhenti pada pembinaan apabila telah ditemukan bukti pencemaran, penindakan tegas dinilai perlu dilakukan untuk mencegah persoalan serupa terus berulang.
Sebab, persoalan Sungai Cileungsi pada akhirnya tidak hanya menjadi masalah Kabupaten Bogor, setiap limbah yang masuk ke aliran sungai akan terus terbawa menuju wilayah hilir hingga menjadi bagian dari Kali Bekasi.
“Semuanya akan menikmati Sungai Cileungsi dan semuanya akan menderita kalau Sungai Cileungsi kondisinya seperti ini,” tandasnya. (Cr1)
Editor : Eka Rahmawati