Mata Garuda, Drone Thermal Pemkab Bogor Mampu Deteksi Radiasi Panas di TPA Galuga Bogor 

Septi Nulawam Harahap • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 22:14 WIB
Tim gabungan melakukan proses pemadaman dan pendinginan kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Galuga, Bogor, Jawa Barat. Senin (14/9/2026) dini hari. Berdasarkan data BPBD Kabupaten Bogor, berhasil memadamkan kebakaran menjadi 7 hektare, 6 hektare, 5 hektare, sementara Senin dini hari, di wilayah utara tersisa 1,4 hektare, dan timur 1.000 meter persegi sejak dilakukan pemadaman dan pendinginan kebakaran pada Senin (7/9). Foto : Hendi Novian / Radar Bogor
Tim gabungan melakukan proses pemadaman dan pendinginan kebakaran di TPA Galuga, Bogor. (Hendi Novian/Radar Bogor)

RADAR BOGOR - Kebakaran yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Galuga telah berlangsung selama delapan hari sejak Senin, 7 September 2026 lalu.

Meski api sudah tidak lagi terlihat secara kasatmata, tetapi asap masih berpotensi memicu kebakaran kembali.

Oleh karenanya, Pemkab Bogor menerjunkan drone thermal di area kebakaran TPA Galuga. Pesawat tanpa awak berteknologi tinggi itu dilengkapi sensor termal yang mampu mendeteksi radiasi panas.

"Pemerintah Kabupaten Bogor punya Command Center dan Call Center 112 yang beroperasi 24 jam, merupakan tempat aduan masyarakat baik bencana, kecelakaan, dan lain sebagainya. Salah satu fasilitas yang dilengkapi adalah kita memiliki drone yang kita beri nama Mata Garuda," ungkap Bupati Bogor Rudy Susmanto, Senin, 14 September 2026.

Baca Juga: Polisi dan Damkar Evakuasi 2 Anak Kucing yang Tercebur ke Sumur di Gunung Putri Bogor

Menurut Rudy, drone tersebut memiliki daya jelajah yang cukup luas sehingga mampu menjangkau seluruh area TPAS Galuga.

Sebelum menerjunkan personel, pihaknya menerbangkan drone tersebut selama satu kali dalam satu jam untuk mendeteksi area yang masih berpotensi kebakaran. 

Jika indikator menunjukan warna hijau, artinya area yang disorot dinilai aman. Sedangkan indikator menunjukan warna merah, maka area yang disorot terdeteksi radiasi panas.

"Sama halnya di tempat kita berdiri, mungkin tidak ada api, tidak ada asap, tapi pada saat kita terbangkan drone ternyata di bawah kita ada titik panas, maka alat berat langsung melakukan pembongkaran dan pendinginan," beber Rudy Susmanto.

Selain kebakaran TPAS Galuga, drone thermal tersebut juga telah ditugaskan di beberapa bencana, baik di wilayah Bogor maupun luar Bogor.

Misalnya, sambung Rudy, kejadian seperti orang hilang di area Gunung Salak, atau Pangrango, drone tersebut beberapa kali digunakan untuk melakukan pencarian.

"Termasuk warga yang hanyut di sungai, mencari korban menggunakan termal untuk melihat panas tubuh," tukasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemadaman Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kabupaten Bogor, Yudi Santosa menyebut jika kebakaran yang melanda area TPAS Galuga bukan merupakan peristiwa biasa lantaran berlangsung lebih dari 12 jam.

"Ketika api sudah muncul selama 12 jam, maka di dalamnya terjadi bara dan itu masih berpotensi kebakaran," jelasnya.

Oleh karenanya, pihaknya masih terus mengerahkan personel dibantu petugas gabungan untuk melakukan pemadaman dan pendinginan di TPAS Galuga.(cok)

Editor : Eka Rahmawati
bogor drone Galuga kebakaran