Penampakan Sungai Cileungsi dan Cikeas Bogor di Titik Nol Kali Bekasi Disorot, Begini Kondisinya

Muhammad Ali • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 23:14 WIB
Penampakan di P2C atau titik nol Kali Bekasi. (Aziz/Radar Bogor)
Penampakan di Pertemuan Cileungsi Cikeas (P2P) atau titik nol Kali Bekasi. (Aziz/Radar Bogor)

RADAR BOGOR – Kontras kondisi air terlihat jelas di titik Pertemuan Cileungsi Cikeas (P2C), atau titik nol Kali Bekasi yang berada di perbatasan Kabupaten Bogor dengan Bekasi.

Pantauan Radar Bogor di lokasi, Sungai Cileungsi mengalir dengan warna hitam pekat dan kental, sementara Sungai Cikeas di sisi lainnya masih terlihat relatif jernih.

Kedua aliran tersebut kemudian bertemu di titik P2C sebelum menyatu dan berubah menjadi Kali Bekasi, perbedaan warna air pun tampak jelas saat aliran Sungai Cileungsi bertemu dengan Sungai Cikeas.

Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C), Puarman, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan pengaruh aliran Sungai Cileungsi yang cukup dominan terhadap Kali Bekasi.

Baca Juga: Polisi dan Damkar Evakuasi 2 Anak Kucing yang Tercebur ke Sumur di Gunung Putri Bogor

“Sangat terlihat bedanya antara Sungai Cileungsi dengan Sungai Cikeas. Sungai Cikeasnya coklat, bagus, tidak ada pencemaran. Sungai Cileungsi hitam, kental. Di tengahnya kelihatan tuh perubahan warna antara Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas,” ujarnya kepada Radar Bogor, Senin, 14 September 2026.

Menurutnya, salah satu faktor yang membuat aliran Cileungsi lebih dominan adalah luas daerah aliran sungai (DAS). 

DAS Sungai Cileungsi memiliki luas sekitar 26.500 hektare, sedangkan DAS Sungai Cikeas sekitar 11.300 hektare.

Artinya, DAS Cileungsi memiliki luasan sekitar 2,5 kali lebih besar dibandingkan DAS Cikeas, kondisi tersebut membuat debit dan karakter aliran Cileungsi memberikan pengaruh lebih besar ketika kedua sungai menyatu.

“Makanya Sungai Cileungsi paling berdampak kepada Kali Bekasi,” ungkap Puarman.

Selain faktor luas DAS, perbedaan kondisi kedua sungai juga terlihat dari aktivitas di sepanjang alirannya. 

Puarman menyebut, berdasarkan penelusuran KP2C bersama sejumlah pihak, Sungai Cikeas dan Kali Bekasi relatif tidak ditemukan industri yang serius mencemari sungai.

Sementara itu, penelusuran di Sungai Cileungsi justru menemukan sejumlah saluran yang dinilai perlu ditindaklanjuti. 

“Untuk Sungai Cikeas kami belum menemukan, untuk Kali Bekasi juga kita tidak menemukan, tapi untuk yang di Sungai Cileungsi, beberapa kita temukan yang harus ditindaklanjuti,” ujarnya.

Puarman mengatakan, kondisi Sungai Cileungsi yang menghitam juga bukan fenomena baru, akan tetapi perubahan warna air memiliki pola yang berulang, terutama ketika aktivitas pembuangan limbah meningkat.

Dari Jembatan Wika hingga titik pertemuan dengan Sungai Cikeas, kondisi air yang menghitam disebut membentang sekitar 26 kilometer. 

Kondisi sungai, lanjut dia, biasanya sedikit membaik setelah Sabtu dan Minggu karena aktivitas industri berkurang. Namun, warna hitam kembali terlihat semakin kuat pada hari-hari berikutnya.

Sebelumnya, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) juga melakukan penelusuran menggunakan drone dari Jembatan Wika hingga Jembatan Cikuda, penelusuran itu dilakukan untuk mencari sumber perubahan warna air di Sungai Cileungsi.

Dari penelusuran tersebut, KLH menemukan industri di sepanjang Sungai Cileungsi yang kemudian sempat disegel. (Cr1)

Editor : Eka Rahmawati
bogor sungai cileungsi