Sisa Panen Tak Lagi Terbuang, Warga Kampung Sampay Bogor Diajak Bikin Kompos untuk Kebun Pekarangan

Muhammad Ali • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 20:31 WIB
Tim PkM saat menyerahkan mesin pencacah dan sejumlah peralatan lainnya kepada masyarakat Kampunh Sampay, Desa Rabak, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor. Foto: Dok Pribadi for Radar Bogor
Tim PkM saat menyerahkan mesin pencacah dan sejumlah peralatan lainnya kepada masyarakat Kampunh Sampay, Desa Rabak, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor. Foto: Dok Pribadi for Radar Bogor

RADAR BOGOR – Sisa tanaman dan hasil panen yang selama ini kerap berakhir sebagai limbah kini mulai dimanfaatkan warga Kampung Sampay, Desa Rabak, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor.

Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), Tim Universitas Terbuka (UT) Bogor mengajak Kelompok Tani Bina Harapan 2 Kampung Sampay mengolah sisa panen dan sampah organik menjadi kompos. 

Hasil sisa panen warga Kampung Sampay Bogor jadi kompos, kemudian dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan bercocok tanam sayuran di pekarangan rumah.

Baca Juga: Angelina Sondakh Bagikan Kisah Bangkit dari Cobaan di Bogor, Alquran Disebut Jadi Sumber Kekuatan

Kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat Kampung Sampay dalam Memanfaatkan Sisa Panen Menjadi Kompos dan Pemanfaatannya untuk Bertanam Sayuran di Pekarangan” itu digelar pada 14 Juli 2026 di kediaman Ketua Kelompok Tani Bina Harapan 2.

Sebanyak 30 anggota kelompok tani mengikuti rangkaian kegiatan yang meliputi sosialisasi, diskusi, demonstrasi, hingga praktik langsung mengolah sisa panen menjadi kompos.

Ketua Tim PkM Universitas Terbuka, Nurhasanah, mengatakan program tersebut tidak sekadar memberikan keterampilan membuat kompos. Lebih dari itu, masyarakat diajak mengubah cara pandang terhadap sampah organik yang ada di sekitar mereka.

Baca Juga: Bansos PKH BPNT Cair 15-16 September, Saldo KKS Masuk hingga Rp1,35 Juta

“Kami ingin mendorong masyarakat agar tidak melihat sisa panen sebagai sampah yang harus dibuang. Sampah organik atau sisa panen yang tersedia di sekitar dapat diolah menjadi kompos dan kemudian dimanfaatkan kembali untuk bertanam sayuran,” ujar Nurhasanah kepada Radar Bogor, Rabu, 16 September 2026.

Menurutnya, pengolahan sampah organik dengan cara sederhana dapat memberikan manfaat langsung bagi rumah tangga. Selain mengurangi volume limbah, kompos yang dihasilkan bisa digunakan kembali untuk menyuburkan tanaman.

Konsep tersebut sekaligus mengenalkan prinsip ekonomi sirkular kepada masyarakat, yakni mengolah limbah menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali.

Dapat Mesin Pencacah

Baca Juga: Lampu PJU Parungpanjang Bogor Rusak, Dishub Jabar Turun Tangan

Untuk mendukung keberlanjutan program, Tim PkM Universitas Terbuka menyerahkan satu unit mesin pencacah bahan organik kepada Kelompok Tani Bina Harapan 2.

Mesin tersebut menjadi aset bersama yang dapat digunakan anggota kelompok untuk mencacah sisa tanaman dan berbagai bahan organik sebelum diproses menjadi kompos.

Para peserta juga diberi kesempatan mengoperasikan mesin secara langsung. Praktik tersebut dilakukan agar keterampilan yang diperoleh tidak berhenti pada teori.

“Mesin ini kami serahkan sebagai aset bersama agar manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh anggota kelompok tani. Harapannya, setelah kegiatan selesai, masyarakat tetap dapat menggunakannya untuk mengolah sisa tanaman menjadi bahan baku kompos,” kata Nurhasanah.

Baca Juga: Remaja Bondongan Bogor Sempat Ditemukan Terjatuh di Jalan, Kini Dikabarkan Meninggal Dunia

Selain mesin pencacah, peserta juga memperoleh sejumlah bahan dan peralatan untuk mendukung budidaya sayuran di lingkungan rumah.

Pemanfaatan pekarangan menjadi bagian penting dalam program tersebut. Warga tidak harus memiliki lahan luas untuk mulai menanam karena sayuran dapat dibudidayakan menggunakan polybag dengan memanfaatkan ruang yang tersedia di sekitar rumah.

Pekarangan Mulai Dimanfaatkan

Hasil pemantauan setelah kegiatan menunjukkan sejumlah peserta mulai menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh. Beberapa warga memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayuran sebagai tindak lanjut dari program tersebut.

Baca Juga: 68 Ribu Anak Tak Sekolah Jadi Sorotan, RLS Kabupaten Bogor Ditargetkan Tembus 9 Tahun

Nurhasanah berharap kebiasaan itu dapat terus dilakukan secara mandiri, terutama ketika musim panen tiba dan jumlah sisa tanaman meningkat.

“Kami berharap masyarakat terus melanjutkan kegiatan ini. Sisa tanaman, terutama ketika musim panen, jangan langsung dianggap sebagai sampah. Mari diolah menjadi kompos dan digunakan kembali untuk menyuburkan tanaman,” tuturnya.

Melalui program tersebut, Universitas Terbuka mendorong terbentuknya siklus pemanfaatan sumber daya di tingkat rumah tangga.

Baca Juga: PSEL Galuga Bogor Segera Dibangun, Danantara Sebut Teknologi Pengolahan Sampah Berstandar Eropa

Sisa tanaman diolah menjadi kompos, kompos digunakan untuk menyuburkan tanaman, sementara pekarangan dapat menghasilkan bahan pangan bagi keluarga.

“Dengan demikian, sampah organik berkurang, pekarangan menjadi lebih produktif, dan keluarga dapat memperoleh tambahan sumber pangan dari lingkungan rumah sendiri,” tandas Nurhasanah.

Program tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi kebiasaan baru di Kampung Sampay, sekaligus memperkuat kepedulian terhadap lingkungan, pemanfaatan sumber daya lokal, serta ketahanan pangan keluarga.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
kompos Kampung Sampay bogor panen