Sungai Cileungsi Kembali Menghitam Saat Kemarau, DLH Bogor Siapkan Pengawasan Ketat

Muhammad Ali • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 21:56 WIB
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor Teuku Mulya saat dimintai keterangan oleh Radar Bogor, Rabu, 16 September 2026. Foto: Muhammad Ali/Radar Bogor
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor Teuku Mulya saat dimintai keterangan oleh Radar Bogor, Rabu, 16 September 2026. Foto: Muhammad Ali/Radar Bogor

RADAR BOGOR – Pencemaran Sungai Cileungsi kembali menjadi sorotan. Memasuki musim kemarau, air sungai yang mengalir hingga wilayah hilir tersebut kembali terlihat menghitam dan menimbulkan bau tidak sedap.

Selain perubahan warna, warga juga mendapati buih di sejumlah bagian Sungai Cileungsi. Aroma menyengat bahkan semakin terasa, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai pada malam hari.

Kondisi tersebut bukan hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga menjadi perhatian karena aliran Sungai Cileungsi Bogor bertemu dengan Sungai Cikeas di kawasan P2C sebelum kemudian mengalir menjadi Kali Bekasi.

Baca Juga: Cek NIK KTP Sekarang, Kemensos Sebut Ada 4,3 Juta Lebih KPM Bansos Baru 2026

Menanggapi kondisi tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor berencana kembali memperketat pengawasan terhadap perusahaan yang diduga maupun terbukti mencemari sungai.

Kepala DLH Kabupaten Bogor, Teuku Mulya, mengatakan pihaknya akan mengambil tindakan terhadap perusahaan yang terbukti melakukan pencemaran.

“Setiap tahun (menghitam), kita mau tindak tegaslah beberapa perusahaan yang terbukti mencemarkan,” ujar Teuku kepada Radar Bogor, Rabu, 16 September 2026.

Menurutnya, sejumlah perusahaan sebelumnya telah mendapatkan sanksi administratif. DLH juga memasang plang sebagai bagian dari langkah pengawasan dan penghentian sementara aktivitas perusahaan yang dinilai bermasalah.

Baca Juga: Jukir Kota Bogor Bakal Naik Kelas, Ada Pelatihan hingga Dorongan Parkir Digital

“Intinya itulah supaya ada efek jera, efek hukum juga kepada yang mencemari,” ungkapnya.

Enam Perusahaan Sudah Ditindak

Teuku menyebut hingga saat ini terdapat enam perusahaan yang telah dikenai tindakan terkait persoalan pencemaran Sungai Cileungsi. Jumlah tersebut bertambah dibandingkan sebelumnya yang tercatat sebanyak lima perusahaan.

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa kondisi air yang kembali menghitam saat kemarau belum otomatis menunjukkan adanya pembuangan limbah baru.

Baca Juga: Tebing Dekat Rumah Warga Bogor Rawan Longsor, Desa Puraseda Bangun TPT Pakai Bankeu 2026

DLH akan melakukan pemeriksaan kembali untuk memastikan penyebab perubahan warna air tersebut.

“Nanti akan kita cek lagi. Hitam ini karena kekeringan ini ya, pengendapan yang luar biasa di situ, sehingga tidak menjadi aliran yang signifikan sehingga tidak bisa menggerus limbah yang ada,” jelasnya.

Ia menambahkan, petugas juga akan memastikan apakah masih terdapat aktivitas pembuangan limbah ke sungai.

“Nanti kita cek lagi apakah masih terjadi mekanisme pembuangan-pembuangan yang seperti itu,” tambah Teuku.

Baca Juga: Antisipasi Dampak El Nino, Bansos Tambahan Pangan Disalurkan September 2026

Endapan Muncul Saat Debit Air Menurun

Menurut Teuku, persoalan pencemaran dapat lebih sulit terlihat ketika debit sungai masih tinggi. Saat musim hujan, limbah yang masuk ke aliran sungai dapat terbawa oleh derasnya air sehingga tidak selalu tampak secara kasatmata.

Kondisi berbeda terjadi ketika kemarau datang. Debit air yang menurun membuat endapan di dasar sungai semakin terlihat dan mendominasi aliran, sehingga warna air tampak lebih gelap.

“Ini jadi pelajaran. Kita akan intens untuk pengawasannya,” tuturnya.

Karena itu, pengawasan ke depan tidak hanya dilakukan ketika kondisi Sungai Cileungsi sudah berubah warna. DLH juga akan meningkatkan pemantauan saat kondisi sungai masih normal untuk menelusuri sumber pencemaran sejak awal.

Baca Juga: Sisa Panen Tak Lagi Terbuang, Warga Kampung Sampay Bogor Diajak Bikin Kompos untuk Kebun Pekarangan

Terlebih, menurut Teuku, modus pembuangan limbah diduga dilakukan secara tersembunyi sehingga membutuhkan pengawasan lebih detail di lapangan.

“Karena kan pola-polanya ternyata sembunyi-sembunyi dari bawah tanah, tiba-tiba muncul pipa siluman. Nah itu kita nggak kelihatan. Ini sudah ngerti pola-polanya supaya nanti kita lakukan pengawasan yang masif lagi,” tandasnya.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
bogor DLH kemarau sungai cileungsi