RADAR BOGOR - Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bogor Kemang Tegal melakukan berbagai cara dilakukan untuk tetap menjaga higienitas makanan sebelum didistribusian ke penerima manfaat .
Badan Gizi Nasional (BGN) sebelumnya menangguhkan sejumlah operasional SPPG yang belum memenuhi persyaratan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Mitra SPPG Bogor Kemang Tegal, dari Yayasan Merah Putih Berkibar, Deni Pramuji mengatakan bahwa pihaknya cukup ketat dalam mengawasi proses penyajian menu MBG.
Baca Juga: Viral Mata Air Keramat di Gunung Sindur Bogor Berubah Jadi Merah, Kades Ungkap Faktanya
"Mulai dari bahan baku, kalau kualitasnya buruk kami tolak. Kalau bahan bakunya buruk, pasti makanan yang disajikan juga buruk," ungkapnya kepada Radar Bogor, Minggu, 20 September 2026.
Tata kelola dan manajemen juga menjadi penting di setiap SPPG. Termasuk dalam menyesuaikan waktu proses pengolahan makanan, dan waktu distribusi ke penerima manfaat.
Misalnya, kata Deni jika permintaan dari penerima manfaat untuk dimakan pada pagi hari. Maka pihaknya mulai memproses bahan baku menjadi makanan mulai pada dini hari.
Sementara jika permintaan untuk dimakan siang hari, pihaknya memproses bahan baku mulai dari pagi hari.
"Sehingga masakan masih fresh, tidak basi, termasuk manajemen bahan baku. Contohnya yang protein tinggi itu biasanya rentan terpapar bakteri. Kalau ketika di suhu ruangan, itu risikonya tinggi sekali," jelas Deni.
Ia mengaku prihatin dengan kabar banyaknya SPPG yang ditutup imbas kasus keracunan MBG. Menurutnya, dapur wajib memiliki SLHS sebagai bukti makanan yang disajikan benar-benar aman dari bakteri.
"Kemudian masukan saya kepada BGN, agar di tiap dapur itu dibutuhkan konsultan. Tidak hanya ahli gizi, namun juga orang yang bisa me-manage internal SPPG," sarannya.
Sementara itu, Kepala SPPG Bogor Kemang Tegal, Ahsan Nurfalah menilai, latar belakang mitra juga penting dalam menjalankan SPPG di program MBG.
Sebab, pihak mitra juga punya tanggung jawab besar, termasuk merekrut para relawan.
"Mitra kami punya pengalaman di F&B, yang sebelumnya punya restoran, jadi kami sangat terbantu dengan sistem tata kelolanya," tandasnya.(cok)
Editor : Eka Rahmawati