Orang Bogor Kudu Tau Nih, 7 Alasan Betah di Rumah, Bukan Sekadar Mager

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 10:30 WIB
ILUSTRASI: Alasan orang betah di rumah.
ILUSTRASI: Alasan orang betah di rumah.

RADAR BOGOR - Ada orang yang setiap kali diajak keluar selalu punya jawaban yang hampir sama. 

“Lagi enggak enak badan”, “ada urusan keluarga”, atau jawaban paling sederhana, “lagi mager”.

Namun, tidak semua orang yang senang menghabiskan waktu di rumah benar-benar malas. 

Di balik kebiasaan jarang keluar rumah, ternyata bisa ada berbagai alasan, mulai dari kebutuhan untuk memulihkan energi hingga merasa lebih nyaman menjalani aktivitas seorang diri.

Wakil Rektor III Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus) Bogor, Rizki Riyanto menjelaskan, kebiasaan tersebut tidak bisa disamaratakan.

Baca Juga: Daerah Anda Masuk Daftar? BKN Turun Tangan Evaluasi Manajemen ASN di 6 Pemkab Ini

Menurutnya, ada orang yang memang menjadikan rumah sebagai tempat beristirahat, tetapi ada pula yang merasa lebih produktif, aman, bahkan lebih bahagia ketika berada jauh dari keramaian.

“Ini adalah mager yang sifatnya permanen. Sebuah default setting bagi hidup mereka,” kata Rizki kepada Radar Bogor, Rabu 23 September 2026.

Bagi kelompok ini, akhir pekan tidak selalu identik dengan jalan-jalan, nongkrong di kafe, menghadiri acara musik, atau bepergian ke tempat wisata.

Mereka justru bisa menikmati waktu dengan menonton serial, bermain gim, membaca, menulis, mengerjakan hobi, atau sekadar beristirahat di kamar.

Lantas, mengapa seseorang bisa begitu nyaman menjadi “anak rumahan”?

1. Introvert yang butuh mengisi ulang energi

Salah satu alasan paling umum adalah karakter introvert.

Menurut Rizki, orang introvert kerap keliru dianggap sebagai pribadi yang tidak suka bergaul atau tidak mampu bersosialisasi.

Padahal, keduanya merupakan hal yang berbeda.

Seseorang yang introvert tetap bisa berbicara dengan orang lain, menghadiri acara, bahkan tampil di depan banyak orang. 

Baca Juga: Memburu Pemangsa Segera Hadir di Bioskop, Kisah 4 Jurnalis Memburu Pelaku Kekerasan Anak

Hanya saja, interaksi sosial dalam jumlah besar atau berlangsung terlalu lama dapat membuat energinya terkuras.

Rizki menggambarkannya, seperti baterai sosial.

Ketika seharian harus berada di tengah keramaian, menghadiri rapat, bertemu banyak orang, hingga mengikuti acara keluarga, energi sosial mereka perlahan berkurang.

Pada titik tertentu, mereka membutuhkan waktu sendiri untuk kembali merasa nyaman.

“Kesendirian bagi mereka bukan kesepian. Itu adalah kebutuhan untuk pulih,” jelasnya kepada Radar Bogor.

Karena itu, rumah bagi seorang introvert bisa menjadi tempat untuk mengembalikan energi setelah seharian menghadapi berbagai stimulasi sosial.

2. Menghindari situasi karena cemas akan penilaian orang

Ada pula orang yang jarang keluar rumah bukan karena tidak suka bersosialisasi, melainkan karena merasa cemas ketika harus berada di tengah orang lain.

Rizki membedakan kondisi tersebut dengan sifat introvert.

Seorang introvert masih dapat menikmati interaksi sosial meskipun setelahnya membutuhkan waktu untuk beristirahat. 

Sementara orang yang mengalami kecemasan sosial bisa saja sebenarnya ingin bergaul, tetapi merasa takut terhadap penilaian orang lain.

Baca Juga: Bukan Cuma Rekrutmen, Ini Target Baru BKN untuk Tata Karier ASN Daerah di 2026

Pertanyaan sederhana seperti soal penampilan, pekerjaan, kondisi fisik, hingga kehidupan pribadi dapat menjadi sumber kekhawatiran.

“Bagi si pencemas sosial, dunia luar adalah panggung besar di mana mereka merasa sedang diawasi dan dinilai,” ujar Rizki kepada Radar Bogor.

Karena itu, rumah dapat terasa seperti zona aman. Di sana, mereka tidak perlu terlalu memikirkan bagaimana penampilan mereka, apa yang harus dibicarakan, atau apakah orang lain akan menilai dirinya.

3. Terlalu banyak stimulasi membuat otak kewalahan

Alasan berikutnya berkaitan dengan sensitivitas terhadap lingkungan.

Ada orang yang mudah merasa lelah ketika berada di tempat yang terlalu ramai, suara terlalu keras, cahaya terlalu terang, atau banyak percakapan berlangsung secara bersamaan.

Bagi orang lain, suasana tersebut mungkin dianggap biasa.

Namun, bagi mereka, terlalu banyak rangsangan dalam satu waktu bisa terasa melelahkan.

Kondisi seperti ini, dapat membuat rumah menjadi tempat yang jauh lebih nyaman karena tingkat stimulasi bisa dikendalikan.

Suara kendaraan, musik dari lingkungan sekitar, keramaian tempat makan, hingga percakapan yang saling tumpang tindih merupakan contoh rangsangan yang dapat membuat sebagian orang merasa kewalahan.

Baca Juga: Hati-hati Hoaks CPNS Daerah: BKN Ungkap Ciri-Ciri Tautan Palsu yang Wajib Dikenali

Rizki menyebut, karakter tersebut berkaitan dengan konsep highly sensitive person (HSP), meski istilah tersebut tidak berarti seseorang mengalami gangguan.

“Ini bukan gangguan atau kelemahan. Ini hanyalah variasi cara kerja otak dalam memproses dunia dan segala stimulasinya,” katanya.

Bagi mereka, suasana tenang di rumah seperti tombol untuk menurunkan “volume” dunia luar.

4. Rumah justru menjadi ruang untuk berkarya

Tidak semua orang yang senang menyendiri sedang menghindari kehidupan sosial.

Sebagian justru membutuhkan kesunyian karena sedang mengerjakan sesuatu.

Penulis, seniman, programmer, perancang, peneliti, hingga orang-orang yang terbiasa mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi sering kali membutuhkan ruang yang minim gangguan.

Mereka mungkin terlihat hanya duduk diam di kamar. Namun, di dalam kepala, berbagai ide sedang berjalan.

Rizki menggambarkan rumah sebagai semacam laboratorium bagi orang-orang yang gemar berpikir dan berkarya.

“Rumah adalah laboratorium kecil untuk pikiran,” tuturnya.

Di tempat yang tenang, mereka dapat menyusun gagasan, menyelesaikan persoalan, mengembangkan karya, atau sekadar berpikir lebih mendalam tanpa terganggu percakapan di sekitarnya.

Karena itu, ukuran produktivitas tidak selalu bisa dilihat dari seberapa sering seseorang keluar rumah.

5. Dunia hobi terasa lebih menarik

Ada pula kelompok yang betah di rumah karena memiliki dunia dan hobi yang membuat mereka merasa sangat nyaman.

Mereka bisa menghabiskan waktu dengan bermain gim, menonton anime, mengikuti perkembangan K-pop, merakit model kit, membaca, membuat konten, atau mengembangkan proyek pribadi.

Baca Juga: Pemandian Leuweung Seureuh Karawang, Wisata Gratis Adem dengan Pemandangan Sawah Hijau

Bagi mereka, rumah bukan tempat untuk bersembunyi. Rumah justru menjadi lokasi utama untuk melakukan sesuatu yang benar-benar mereka sukai.

Menyelesaikan sebuah tantangan dalam gim, menamatkan serial, menyelesaikan rakitan, atau menuntaskan proyek pribadi dapat memberikan kepuasan tersendiri.

Aktivitas semacam itu juga dapat membuat seseorang begitu fokus hingga tidak menyadari berjalannya waktu.

Dalam psikologi, pengalaman tenggelam sepenuhnya dalam sebuah aktivitas sering dikaitkan dengan konsep flow state.

Karena itu, ajakan nongkrong selama beberapa jam belum tentu terasa lebih menarik dibandingkan menghabiskan waktu dengan hobi yang mereka sukai.

6. Memilih di rumah karena pertimbangan praktis

Ada juga orang yang sebenarnya tidak memiliki persoalan psikologis tertentu.

Mereka hanya menghitung apakah bepergian memang sepadan dengan waktu, biaya, dan energi yang harus dikeluarkan.

Keluar rumah berarti harus menghadapi perjalanan, kemacetan, biaya bahan bakar, parkir, makanan, hingga pengeluaran lain yang muncul selama berada di luar.

Belum lagi jika tujuan yang didatangi ternyata tidak sesuai ekspektasi.

Baca Juga: Chad Gilbert, Gitaris New Found Glory, Meninggal Dunia di Usia 45 Tahun

Sebaliknya, berada di rumah menawarkan banyak kemudahan. Seseorang dapat menikmati makanan yang dipesan secara daring, menonton film, bermain gim, mengerjakan pekerjaan, atau beristirahat tanpa harus menghadapi perjalanan panjang.

Bagi kelompok ini, memilih tinggal di rumah merupakan keputusan praktis.

Mereka bukan tidak mau bersosialisasi. Mereka hanya merasa tidak semua ajakan harus diterima.

7. Rumah jadi tempat memulihkan diri

Alasan terakhir bisa jauh lebih emosional.

Ada orang yang mulai menyukai kesendirian setelah mengalami berbagai pengalaman yang melelahkan dalam kehidupan sosial maupun hubungan personal.

Mereka mungkin terbiasa menjadi orang yang selalu membantu, sulit mengatakan tidak, atau terus berusaha memenuhi kebutuhan orang lain.

Namun, setelah melewati berbagai pengalaman, mereka akhirnya menyadari bahwa dirinya juga membutuhkan ruang untuk beristirahat.

“Rumah menjadi ruang pemulihan kecil mereka,” kata Rizki.

Di rumah, seseorang dapat melepaskan tekanan tanpa harus terus mempertahankan citra sebagai pribadi yang kuat, ceria, atau selalu siap membantu.

Kesendirian dalam konteks ini bukan berarti menolak dunia.

Justru, seseorang sedang memberikan kesempatan kepada dirinya untuk berhenti sejenak dari berbagai tuntutan.

Bukan berarti antisosial

Dari berbagai alasan tersebut, kebiasaan jarang keluar rumah ternyata tidak bisa langsung disimpulkan sebagai kemalasan atau sikap antisosial.

Ada orang yang membutuhkan kesendirian untuk mengisi kembali energi. Ada yang menghindari keramaian karena kecemasan.

Ada yang mudah kewalahan oleh rangsangan lingkungan.

Ada pula yang memang merasa lebih produktif ketika bekerja sendiri, terlalu menikmati hobinya, memilih hidup lebih praktis, atau sedang membutuhkan ruang untuk memulihkan diri.

Karena itu, menurut Rizki, penting untuk melihat alasan di balik perilaku seseorang sebelum memberikan label.

“Menjadi anak rumahan ternyata bukanlah satu label tunggal. Orang yang suka di rumah itu punya spektrum alasan yang sangat luas,” ujarnya.

Pada akhirnya, rumah bagi setiap orang memiliki makna yang berbeda.

Bagi sebagian orang, rumah adalah tempat beristirahat.

Bagi yang lain, rumah merupakan ruang berkarya, tempat menikmati hobi, zona aman, atau bahkan tempat untuk menyusun kembali energi setelah menghadapi dunia luar.

Baca Juga: Kanaya Terpaksa Tak Lanjut ke SMA, 3 Kali Operasi hingga Kanker Menyerang

Jadi, ketika ada teman yang lebih sering menolak ajakan keluar, belum tentu ia sedang malas atau tidak menghargai pertemanan.

Bisa jadi, ia memang sedang menemukan cara paling nyaman untuk menjaga dirinya tetap baik-baik saja. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
bogor ITB Vinus rumah