Setengah Abad Al-Aulia: Menyiapkan Bekal Para Musafir

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 17:27 WIB
Asep Wahyuwijaya, Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem.
Asep Wahyuwijaya, Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem.

RADAR BOGOR - Lima puluh tahun bukan waktu yang singkat bagi sebuah lembaga pendidikan.

Selama itu, Al-Aulia melewati pergantian zaman dan generasi.

Ribuan santri datang dengan harapan, lalu pergi membawa bekal. 

Saya salah satunya.

Tiga puluh lima tahun lalu, pada 1991, saya meninggalkan gerbang SMA Aulia dan Pondok Pesantren Al-Aulia. 

Baca Juga: Bansos PKH Validasi Mulai Cair Lagi, BPNT Susulan Tahap 3 Rp600 Ribu

Namun ada sesuatu dari tempat ini yang tidak pernah benar-benar saya tinggalkan.

Karena itu, peringatan 50 tahun ini bukan sekadar perayaan usia, melainkan momen untuk bertanya lagi: apa sebenarnya yang diwariskan pesantren kepada kita?

Pesantren sebagai Milik Asli Bangsa

Nurcholish Madjid, dalam bukunya Bilik-Bilik Pesantren (Paramadina, 1997), menyebut pesantren sebagai lembaga yang "tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous)".

Ia tumbuh dari tanah Nusantara, hidup bersama masyarakat, dan bertahan karena menyatu dengan denyut kampung di sekitarnya.

Cak Nur bahkan mengajukan pengandaian yang menggugah.

Seandainya negeri ini tidak dijajah, pesantren mungkin tumbuh menjadi universitas besar, sebagaimana Harvard di Amerika berawal dari lembaga pendidikan keagamaan yang sederhana. 

Pesantren menyimpan potensi besar, asalkan tahu ke mana melangkah.

Menurut Cak Nur, banyak pesantren belum merumuskan tujuan pendidikannya secara sadar, dan arah lembaganya kerap bergantung pada sosok pribadi kiai semata.

Baca Juga: Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor Raih Sertifikat Halal untuk Jasa Pengolahan

Ia lalu menawarkan rumusan yang hingga kini masih layak menjadi kompas: tujuan pendidikan pesantren adalah "membentuk manusia yang memiliki kesadaran tinggi bahwa ajaran Islam merupakan weltanschauung yang bersifat menyeluruh", yakni pandangan hidup yang utuh tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam, lalu dibarengi kemampuan menjawab tantangan zaman.

Takwa sebagai Kesadaran Transendental

Gagasan ini bersambung dengan pemikiran gurunya, Fazlur Rahman.

Dalam Major Themes of the Qur'an (1980), Rahman menjelaskan bahwa inti etika Al-Qur'an adalah takwa. 

Takwa bukan sekadar rasa takut, melainkan kesadaran batin bahwa manusia senantiasa berada di hadapan Tuhan dan bertanggung jawab atas setiap perbuatannya.

Inilah kesadaran transendental.

Rahman mengingatkan kecenderungan manusia untuk merasa cukup diri. Al-Qur'an melukiskannya: "Sungguh manusia benar-benar melampaui batas, karena melihat dirinya serba cukup" (QS. Al-'Alaq: 6–7).

Tanpa kesadaran ini, ilmu mudah menjadi alat kesombongan dan kekuasaan mudah tergelincir menjadi penindasan.

Yang dibutuhkan adalah "obor batin" yang menyala dari dalam diri setiap orang.

Kesadaran itu berakar pada fitrah yang dibawa setiap manusia sejak lahir, dirawat oleh keluarga dan lingkungan, diasah lewat iqra atas ayat-ayat qauliyah dan kauniyah, dihayati melalui ibadah dan penyucian jiwa, lalu matang menjadi takwa yang berbuah amal saleh dan akhlak mulia.

Prosesnya melingkar: amal memperdalam kesadaran, dan kesadaran melahirkan amal yang lebih baik.
Pesantren sebagai Rahim Kesadaran

Di sinilah peran khas pesantren.

Pesantren adalah lingkungan 24 jam yang membiasakan ibadah, menanamkan adab, dan mengajarkan kemandirian.

Baca Juga: FIFA ASEAN Cup 2026 Digelar di Bandung, Dedi Mulyadi: Gerakkan Ekonomi Jawa Barat

Di sana takwa tidak hanya diajarkan di kelas, tetapi dilihat langsung pada keteladanan para kiai dan guru. Inilah pendidikan karakter yang sulit ditiru lembaga lain.

Al-Aulia, dengan memadukan pesantren dan SMA, sebagai salah satu lembaga pendidikan di dalamnya, dalam satu ekosistem, sejak awal telah menempuh jalan yang dibayangkan Cak Nur, yaitu menjembatani kedalaman ilmu agama dengan kecakapan ilmu umum.

Perpaduan inilah yang memungkinkan alumninya berkiprah di banyak bidang, dari pendidikan dan dakwah hingga usaha dan politik, tanpa kehilangan akar.

Namun usia 50 tahun juga menuntut kejujuran untuk terus berbenah.

Kritik Cak Nur tentang pembelajaran yang berhenti pada hafalan, ilmu alat yang menjadi tujuan, serta kesenjangan dengan perkembangan dunia luar tetap patut menjadi bahan muhasabah bagi semua pesantren.

Negara pun telah mengakui peran pesantren melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, sebuah peluang sekaligus amanah untuk meningkatkan mutu.

Di era digital, ketika informasi melimpah tetapi kebijaksanaan langka, pesantren justru dituntut melahirkan santri yang beriman sekaligus kritis, saleh sekaligus cakap.

Dunia sebagai Persinggahan

Ada nasihat masyhur yang dinisbatkan kepada Imam Hasan al-Bashri.

Isinya, dunia adalah negeri perjalanan, bukan tempat tinggal yang tetap.

Kita datang membawa nama, tumbuh membawa harapan, lalu pergi meninggalkan apa yang pernah kita genggam.

Nasihat ini menggemakan sabda Rasulullah SAW kepada Abdullah bin Umar: "Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seorang pengembara" (HR. Bukhari).

Jika hidup adalah perjalanan, pesantren adalah tempat para musafir mengumpulkan bekal.

Al-Qur'an menegaskan bahwa sebaik-baik bekal adalah takwa (QS. Al-Baqarah: 197).

Namun, sebagaimana diingatkan Rahman, kesadaran sebagai musafir tidak berarti lari dari dunia.

"Carilah negeri akhirat, dan jangan lupakan bagianmu di dunia" (QS. Al-Qashash: 77).

Musafir yang baik tidak merusak persinggahan, tetapi meninggalkan kebaikan di sana.

Bagi kami para alumni yang kini mengemban beragam amanah, termasuk amanah publik, bekal itulah yang paling diuji.

Jabatan, harta, dan nama suatu hari akan ditinggalkan.

Yang dibawa pulang hanyalah amal, dan yang dikenang hanyalah manfaat.

Selamat dan syukur atas 50 tahun Pondok Pesantren Al-Aulia.

Terima kasih kepada para pendiri, kiai, dan guru yang telah menanam benih kesadaran itu dengan ikhlas.

Semoga Al-Aulia terus menjadi rahim bagi generasi yang sadar dari mana ia datang, di mana ia berada, dan ke mana ia akan kembali. (*)

Oleh: Asep Wahyuwijaya

Penulis adalah alumni SMA Aulia dan Pondok Pesantren Al-Aulia angkatan 1991, Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem.

Editor : Siti Dewi Yanti
Al-Aulia bogor dpr Asep Wahyuwijaya