RADAR BOGOR - Sesuatu yang menarik terjadi dikawasann pendidikan terpadu di Karadenan Cibinong Kabupaten Bogor, sebuah upacara peletakan batu pertama Pembangunan Kampus Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusatara Bogor (ITB Vinus).
Apa yang menarik, yaitu batu peletakan Pembangunan ITB yang diletakan bersamaan dengan batu giok.
Ini Adalah sebuah fakta bukan hanya untuk pemberitaan, sebuah batu batu serpentinite, dengan warna hijau zaitun keabu-abuan ditambah urat-urat bercorak cokelat tua, merah bata, serta guratan keputihan di permukaannya.
Baca Juga: Belum Terdata di DTSEN? Ini Cara Mengajukan Diri sebagai Penerima Bansos PKH BPNT
Batu tersebut menandai dimulainya pembangunan Gedung Rektorat ITB Vinus Bogor.
Pada hari yang sama, ITB Vinus juga membuka Pekan Pengenalan Akademik dan Budaya Kemahasiswaan (P2BAK) bagi sekitar 1.400 mahasiswa baru.
Kedua peristiwa ini berlangsung secara bersamaan, dalam artian ini menjadi pelengkap keduanya.
Bangunan mulai berdiri, sementara para mahasiswa baru saja memulai pengenalan mereka terhadap kehidupan kampus.
Keduanya sama-sama berada pada sebuah titik nol, yang menandai hari itu menghadapi perjalanan perjuangan panjang.
Batu Giok Keras namun tidak kaku
Giok memiliki karakteristik unik: ia keras, namun tidak mudah pecah.
Berbeda dengan batu permata lain yang keras tetapi rentan retak saat terbentur, giok memiliki ketahanan luar biasa dan mampu meredam tekanan tanpa mengalami kerusakan.
Karakteristik ini menjadi model yang sangat baik bagi tata kelola ITB Vinus di masa depan.
Sebuah institusi pendidikan tinggi memerlukan aturan dan standar yang tegas. Termasuk didalanya kriteria, kualifikasi tenaga pengajar, dan disiplin akademik.
Hal tersebut mencerminkan aspek "keras" atau ketegasan tadi. Namun, tata kelola yang efektif juga menuntut ketangguhan dalam menghadapi perubahan.
Baca Juga: Harlan Bengardi Dianugerahi Gelar Pendekar Pencak Silat Jawa Barat, Ini Pesan untuk Anak Muda
Lanskap dunia profesional terus berkembang, teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) melaju pesat, dan kebutuhan industri pun terus berubah.
Maka ITB Vinus memiliki ketegasan dengan fleksibilitas yang membekali mahasiswanya untuk menghadapi dunia yang senantiasa berubah.
Oleh karena itu, tata kelola ITB Vinus akan berusaha mencerminkan sifat giok yaitu mempertahankan komitmen teguh terhadap kualitas sembari tetap cukup fleksibel untuk beradaptasi.
Hal ini memastikan bahwa sekitar 1.380 mahasiswa baru yang memulai perjalanan mereka pada hari itu benar-benar siap menghadapi dunia yang akan mereka masuki empat tahun mendatang.
Nilai Giok Terletak pada Kejernihannya, Demikian Pula ITB Vinus
Semakin jernih dan murni struktur internal sebutir giok, semakin tinggi pula nilainya.
Kejernihan inilah yang membedakan giok dari batu-batu lain yang mungkin tampak kokoh namun tidak memiliki tembus pandang (translusensi) internal.
Hal ini menjadi prinsip panduan bagi tata kelola ITB Vinus yaitu menjaga kejelasan tujuan pendidikan di tengah bertambahnya jumlah mahasiswa dan pembangunan fisik yang terus berlangsung.
Kejelasan tersebut tercermin dalam aspek-aspek yang didasarkan pada kompetensi akademik, perancangan kurikulum yang selaras dengan tuntutan dunia profesional, hingga pendampingan mahasiswa baru secara sungguh-sungguh sejak langkah pertama mereka di kampus.
Pada akhirnya, kejelasan tata kelola ini tecermin dalam kualitas lulusannya.
Semakin jelas tujuan dan semakin terjaga integritas prosesnya, semakin besar peluang untuk menghasilkan lulusan yang tidak sekadar memiliki ijazah, tetapi juga kemampuan nyata untuk berpikir kritis, beradaptasi, dan menciptakan peluang Ini layaknya kilau sejati giok yang memancar dari kejernihannya.
Batu Giok Membutuhkan Waktu untuk Menampakkan Keindahannya Begitu Pula Lulusan Berkualitas
Ini mungkin merupakan karakteristik batu giok yang paling penting untuk direnungkan pada hari bagi mahasiswa baru untuk melangkah untuk pertama kalinya.
Berlian langsung berkilau begitu dipotong.
Batu giok berbeda; nilai sejatinya baru muncul setelah dipoles berulang kali, secara perlahan, dan dalam kurun waktu yang cukup lama.
Baca Juga: Overdose Tampil di Sports Kombat B2, Ada Strategi Besar di Baliknya
Semakin sabar proses pemolesannya, semakin indah pula hasil akhirnya.
Para mahasiswa baru yang mengikuti orientasi P2BAK pada hari itu pada dasarnya sedang memulai proses "pemolesan" serupa. Mereka tidak akan serta-merta menjadi lulusan unggul begitu menginjakkan kaki di kampus.
Mereka akan menempuh perjalanan Panjang dengan mengikuti perkuliahan, memperoleh pengalaman praktis, menyelesaikan magang, berorganisasi, serta mengalami pasang surut, sebelum mereka benar-benar siap.
Proses pemolesan ini akan dilakukan oleh ITB Vinus.
Dengan tata kelola yang sabar dan telaten, ITB Vinus akan mengasah mahasiswanya menjadi lulusan yang benar-benar bernilai sebagaimana giok yang keindahannya baru terpancar setelah melalui proses pengasahan yang tekun.
Dari Karadenan, untuk Kabupaten Bogor
ITB Vinus sedang mengembangkan kampus di beberapa wilayah Kabupaten Bogor empat penjuru mata angin, yaitu Tengah berpusat di Cibinong, Barat di Cibungbulang, Selatan di Cijeruk dan Timur di Cileungsi.
ITB Vinus Bogor bukan institusi pendidikan tinggi yang menunggu masyarakat datang ke pusat kota, tetapai Kampus yang bisa menjangkau masyarakat secara langsung.
Baca Juga: Hore, Bansos Senilai Rp5 Juta Cair Bank Mandiri, Ini Cara Cek Penerimanya
Desa tidak harus sekadar menjadi objek pengabdian masyarakat.
Desa dapat menjadi ruang untuk penelitian.
UMKM tidak harus sekadar menjadi bahan seminar.
UMKM dapat berfungsi sebagai laboratorium kewirausahaan.
Persoalan yang dihadapi kaum muda tidak harus sekadar menjadi topik diskusi.
Persoalan tersebut dapat menjadi landasan bagi pengembangan program pendidikan.
Dengan pendekatan seperti itu, ITB Vinus sebuah perguruan tinggi yang tidak sekadar berdiri di wilayah Kabupaten Bogor.
Tetapi sebuah Kampus yang tumbuh dan berkembang bersama wilayah itu sendiri.
Pembangunan Gedung Rektorat ITB Vinus bermula dari sebutir batu giok yang diletakkan di tanah Karadenan.
Batu itu berdiri sebagai saksi awal.
Saksi bagi sebuah institusi pendidikan yang memilih untuk terus berkembang.
Sebuah saksi bagi momen ketika, tepat pada hari itu, generasi mahasiswa baru mulai menyelami kehidupan akademik melalui P2BAK.
Namun, batu itu seolah juga menitipkan sebuah tugas bagi kita. Jangan berhenti pada pembangunan fisik gedung semata.
Jangan berhenti pada seremoni peresmian.
Jangan berhenti pada sekadar foto dan dokumentasi.
Lanjutkanlah pengembangan ini untuk menuju pembentukan insan seutuhnya.
Sejarah Baru Dimulai
Pada akhirnya, sebuah kampus tidak akan dikenang karena batu pertamanya semata.
Ia akan dikenang karena apa yang lahir setelah batu pertama diletakkan.
Dosen yang berkualitas, mahasiswa yang berprestasi, lulusan yang mandiri, pengusaha yang lahir dari kampus, sarjana penggerak desa, penelitian yang berguna, Pengabdian yang dirasakan masyarakat.
Dan kontribusi nyata ITB Vinus bagi Kabupaten Bogor. Itulah sejarah yang sebenarnya.
Hari ini, batu giok telah ditancapkan.
Pembangunan Gedung Rektorat telah dimulai.
P2BAK telah membuka pintu perjalanan bagi generasi mahasiswa baru. Namun cerita besarnya belum selesai.
Justru baru dimulai.
Dari sebuah batu giok di tanah Tegar Beriman, ITB Vinus sedang memulai babak baru menuju Bogor Gemilang dan dan Jawa Barat Istimewa. (*)
Wahyu Bagja Sulfemi
Wakil Rektor II ITB Vinus Bogor.