RADAR BOGOR - Pernah batal mengunggah foto di media sosial, hanya karena khawatir mendapat komentar soal penampilan?
Atau memilih diam saat rapat meski sebenarnya memiliki gagasan yang diyakini bagus?
Situasi semacam itu mungkin terlihat sederhana.
Namun, ketika rasa takut terhadap penilaian orang lain terus muncul, seseorang bisa tanpa sadar membatasi dirinya sendiri.
Baca Juga: Adhisty Zara Resmi Jadi Ibu, Umumkan Kelahiran Anak Pertama Bernama Benjiro Nayel Ali
Wakil Rektor III Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus) Bogor, Rizki Riyanto mengatakan, ketakutan terhadap opini orang lain merupakan hal yang cukup manusiawi.
“Sejak dulu manusia membutuhkan penerimaan dari kelompok. Karena itu, kita memang memiliki dorongan untuk diterima dan tidak ditolak,” kata Rizki kepada Radar Bogor, Rabu 30 September 2026.
Menurut dia, persoalan muncul ketika kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan berubah menjadi ketakutan yang membuat seseorang mengorbankan keinginan, pendapat, bahkan identitas dirinya.
“Jangan sampai opini orang lain memiliki kendali terlalu besar terhadap keputusan yang kita ambil,” ujarnya.
Mengapa Pendapat Orang Lain Terasa Begitu Menakutkan?
Rasa takut dinilai atau dihakimi, dapat membuat seseorang terlalu banyak memikirkan bagaimana dirinya terlihat di mata orang lain.
Di media sosial, misalnya, seseorang bisa berkali-kali memeriksa foto sebelum mengunggahnya.
Kekhawatiran terhadap komentar negatif, akhirnya membuat foto tersebut justru batal dipublikasikan.
Hal serupa dapat terjadi di lingkungan pekerjaan.
Seseorang mungkin memiliki ide saat rapat, tetapi memilih menyimpannya karena takut dianggap tidak tahu, berbeda sendiri, atau justru mendapat kritik dari rekan kerja.
Baca Juga: Belajar Langsung Dunia Kerja, SMK Ash Shoheh 1 Kunjungan Industri ke Indocement Citeureup Bogor
Rizki menjelaskan, manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan untuk diterima oleh lingkungan sosial.
“Yang perlu dilakukan bukan menghilangkan kepedulian terhadap orang lain, tetapi belajar memilah opini mana yang memang penting untuk dipertimbangkan,” jelasnya kepada Radar Bogor.
4 Tipe yang Sering Terjebak Opini Orang Lain
Rizki menyebut, ada beberapa pola perilaku yang dapat menggambarkan seseorang ketika terlalu takut terhadap penilaian lingkungan.
1. Perfeksionis yang Takut Salah
Tipe pertama, orang yang ingin segala sesuatu berjalan sempurna.
Ia bukan hanya ingin menghasilkan pekerjaan yang baik, tetapi juga berusaha menghindari kesalahan sekecil apa pun.
Akibatnya, terlalu banyak waktu bisa habis hanya untuk memastikan hasil pekerjaannya tidak mendapat kritik.
“Ketika seseorang merasa satu kesalahan bisa menghancurkan citra dirinya, dia akhirnya lebih memilih tidak melakukan sesuatu daripada mengambil risiko dinilai kurang sempurna,” tutur Rizki.
Pola tersebut, dapat membuat seseorang sibuk mempersiapkan sesuatu tanpa pernah benar-benar berani menjalankannya.
2. Selalu Mengejar Tren
Tipe kedua, orang yang sangat khawatir dianggap ketinggalan zaman.
Pilihan pakaian, tempat nongkrong, tontonan hingga cara berbicara dapat mengikuti sesuatu yang sedang populer.
Bukan karena benar-benar menyukainya, melainkan karena takut dianggap tidak relevan.
Menurut Rizki, persoalannya bukan pada mengikuti tren, tetapi pada alasan di balik keputusan tersebut.
“Kalau kita melakukan sesuatu karena memang menyukainya, itu berbeda dengan melakukan sesuatu hanya karena takut dianggap ketinggalan,” katanya kepada Radar Bogor.
3. Punya Ide, tetapi Memilih Diam
Tipe ketiga, mereka yang sebenarnya memiliki banyak gagasan, tetapi enggan menyampaikannya.
Dalam sebuah diskusi, misalnya, ide sudah muncul di kepala. Namun, sebelum berbicara, berbagai kemungkinan buruk langsung terbayang.
Takut idenya dianggap bodoh, aneh, atau mendapat pertanyaan yang tidak bisa dijawab akhirnya membuat orang tersebut memilih diam.
“Kadang-kadang ide yang tidak disampaikan justru bisa menjadi sesuatu yang sebenarnya dibutuhkan dalam sebuah diskusi,” ujar Rizki.
4. Menyembunyikan Sisi Unik Diri
Tipe terakhir, orang yang memiliki minat atau cara pandang berbeda, tetapi sengaja menyembunyikannya.
Ia khawatir, hobinya dianggap aneh atau tidak sesuai dengan lingkungan.
Akhirnya, sesuatu yang sebenarnya membuat dirinya bahagia justru tidak berani ditunjukkan.
Baca Juga: SKTP TPG September 2026 Sudah Terbit, Kapan Dana Masuk Rekening?
Rizki mengatakan, memiliki minat yang berbeda bukan berarti seseorang harus memaksakan diri untuk mengikuti mayoritas.
“Tidak semua hal yang berbeda harus disembunyikan. Kita perlu memahami bahwa setiap orang memiliki ketertarikan dan karakter masing-masing,” ungkapnya.
Ada Cara untuk Mengurangi Takut Dihakimi
Menurut Rizki, menghadapi ketakutan terhadap penilaian orang lain membutuhkan latihan. Perubahan tidak harus dilakukan melalui langkah besar.
Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah memahami spotlight effect, yakni kecenderungan seseorang merasa seolah-olah perhatian orang lain tertuju pada dirinya secara lebih besar daripada kenyataannya.
“Sering kali kita berpikir semua orang memperhatikan kesalahan kita. Padahal, orang lain juga sibuk memikirkan dirinya sendiri,” kata Rizki.
Karena itu, ketika melakukan kesalahan kecil, seseorang dapat mencoba bertanya kepada dirinya sendiri yakni apakah orang lain masih akan mengingat kejadian tersebut beberapa hari kemudian?
Pertanyaan sederhana itu dapat membantu melihat situasi secara lebih proporsional.
Pilih Orang yang Pendapatnya Layak Didengar
Langkah berikutnya adalah menentukan siapa yang benar-benar layak menjadi tempat meminta pendapat.
Rizki menyarankan, seseorang memiliki beberapa orang terpercaya yang dapat memberikan masukan secara jujur sekaligus membangun.
“Tidak semua pendapat harus kita jadikan acuan. Pilih orang yang mengenal kita, peduli kepada kita, dan mampu memberikan kritik yang memang berguna,” jelasnya.
Dengan begitu, seseorang tidak perlu merasa harus mendapatkan persetujuan dari semua orang.
Pendapat dari orang yang tidak dikenal atau komentar anonim di media sosial juga, tidak harus selalu dimasukkan ke dalam pertimbangan pribadi.
Latih Keberanian dari Hal-Hal Kecil
Rasa takut terhadap penilaian orang lain juga dapat dilatih dengan melakukan tindakan sederhana.
Misalnya, menyampaikan pendapat yang berbeda dalam percakapan, mengenakan sesuatu yang disukai, atau membagikan karya tanpa terus-menerus memeriksa reaksi orang lain.
“Keberanian itu bisa dilatih secara bertahap. Tidak perlu langsung melakukan sesuatu yang besar,” ujar Rizki.
Menurutnya, tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membantu seseorang menjadi lebih nyaman dengan dirinya sendiri.
Jangan Samakan Diri dengan Hasil Karya
Hal penting lainnya adalah memisahkan identitas pribadi dari pekerjaan atau hasil yang dibuat.
Ketika sebuah ide ditolak dalam rapat, misalnya, penolakan tersebut tidak otomatis berarti orang yang mengusulkannya tidak kompeten.
“Yang dikritik adalah ide atau hasil pekerjaan, bukan nilai kita sebagai manusia,” kata Rizki.
Kritik juga dapat dipandang sebagai informasi untuk memperbaiki sesuatu yang dibuat.
Baca Juga: Museum Bank Indonesia Kota Tua, Wisata Edukasi Sejarah Uang dan Perbankan Indonesia
Dengan cara tersebut, masukan tidak selalu harus diterima sebagai serangan pribadi.
Sebaliknya, kritik dapat digunakan untuk mengetahui bagian mana yang masih perlu diperbaiki.
Bodo Amat Bukan Berarti Tidak Peduli
Pada akhirnya, belajar tidak terlalu memikirkan opini orang lain bukan berarti menjadi pribadi yang cuek atau tidak peduli.
Rizki menekankan, yang lebih penting adalah kemampuan menentukan hal-hal yang memang pantas mendapatkan perhatian.
“Kita tetap perlu peduli terhadap orang lain. Tetapi kepedulian itu harus diarahkan kepada hal-hal yang memang penting bagi kehidupan kita,” tuturnya.
Nilai pribadi, tujuan hidup, hubungan dengan orang terdekat, serta hal-hal yang dianggap bermakna dapat menjadi pertimbangan utama.
Dengan begitu, seseorang tidak lagi menjalani hidup hanya untuk memenuhi ekspektasi orang lain.
Sebab, terlalu sibuk mengejar persetujuan semua orang justru bisa membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti