DBD hingga ISPA Mengintai Warga Bogor saat Pancaroba, Ini Pesan Dinkes

Muhammad Ali • Dipublikasikan Jumat, 16 Oktober 2026 | 22:33 WIB

 

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor, dr. Fusia Meidiawaty saat menyampaikan keterangan.(Muhammad Ali/Radar Bogor)
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor, dr. Fusia Meidiawaty saat menyampaikan keterangan.(Muhammad Ali/Radar Bogor)

RADAR BOGOR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai berbagai penyakit yang berpotensi meningkat saat musim pancaroba.

Kepala Dinkes Kabupaten Bogor, dr. Fusia Meidiawaty mengatakan, musim pancaroba, yakni masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya, perlu disikapi dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai risiko penyakit.

"Perubahan suhu, kelembapan, kondisi lingkungan, serta meningkatnya genangan air dapat memengaruhi kesehatan masyarakat dan mendukung penularan penyakit tertentu," ujar Fusia kepada Radar Bogor, Jumat, 16 Oktober 2026.

Menurutnya, beberapa penyakit yang perlu diwaspadai saat pancaroba antara lain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), influenza, diare, demam berdarah dengue (DBD), serta penyakit kulit.

Baca Juga: Susuri Jeram Sungai Cisadane Bogor, Grand Titik Kumpul Tawarkan Rafting 11 Kilometer

"Pada kondisi cuaca tertentu, masyarakat juga perlu mewaspadai risiko penyakit lain sesuai kondisi lingkungan dan perkembangan kasus di wilayah masing-masing," katanya.

Ia mengimbau masyarakat Kabupaten Bogor agar tidak panik, tetapi tetap waspada dan melakukan langkah-langkah pencegahan sejak dini.

"Upaya menjaga kesehatan harus dimulai dari keluarga dan lingkungan tempat tinggal, serta didukung oleh kesiapsiagaan fasilitas pelayanan kesehatan," imbuhnya.

Fusia memaparkan, ada beberapa langkah penting yang perlu dilakukan masyarakat untuk mengurangi risiko penyakit selama musim pancaroba. 

Pertama, menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, minum air yang cukup, tidur yang memadai, berolahraga secara teratur, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Kedua, menjaga kebersihan dan menerapkan etika kesehatan, seperti mencuci tangan menggunakan sabun, menerapkan etika batuk dan bersin, serta menggunakan masker ketika mengalami gejala gangguan pernapasan atau berada di lingkungan berisiko.

Ketiga, melakukan pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M Plus. Langkah ini meliputi menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penampungan air, serta mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menampung air. 

"Masyarakat juga diimbau melakukan langkah pencegahan tambahan sesuai kondisi lingkungan," terangnya.

Keempat, menjaga kebersihan makanan, air minum, dan lingkungan. Masyarakat perlu memastikan makanan diolah secara higienis, menggunakan air yang aman, serta menghindari genangan air dan penumpukan sampah yang dapat memicu masalah kesehatan.

Kelima, segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala yang mengkhawatirkan, seperti demam tinggi, sesak napas, muntah terus-menerus, tanda dehidrasi, perdarahan, atau kondisi tubuh yang semakin lemah.

"Jangan menunda pertolongan medis dan hindari mengonsumsi antibiotik tanpa resep atau indikasi dari tenaga kesehatan," ucapnya.

Dari sisi pelayanan kesehatan, Dinkes Kabupaten Bogor terus mendorong puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi peningkatan kasus. 

Ia menambahkan, upaya tersebut dilakukan melalui pemantauan penyakit, edukasi kepada masyarakat, serta penguatan koordinasi lintas sektor dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit.

Fusia juga mengajak pemerintah desa dan kecamatan, kader kesehatan, serta masyarakat untuk berperan aktif menjaga kebersihan lingkungan dan melaporkan kepada petugas kesehatan apabila ditemukan indikasi peningkatan kasus penyakit di wilayah masing-masing.

"Pesan kami, mencegah lebih baik daripada mengobati. Dengan perilaku hidup bersih dan sehat, lingkungan yang terjaga, deteksi dini, serta kerja sama seluruh pihak, kita dapat mengurangi risiko penyakit pada musim pancaroba dan menjaga masyarakat Kabupaten Bogor tetap sehat dan produktif," tandasnya. (Cr1)

Editor : Eka Rahmawati
bogor dbd dinkes ispa