RADAR BOGOR - Kemajuan suatu daerah tidak cukup hanya ditandai dengan jalan yang mulus, bangunan yang berdiri megah, atau pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat.
Ada hal lain yang tak kalah penting, yakni bagaimana pembangunan tetap berpijak pada nilai agama, kebudayaan, dan kearifan lokal masyarakatnya.
Gagasan tersebut menjadi pokok pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Aliansi Masyarakat untuk Keadilan Bogor Barat (AMUK BOBAR) di Aula Desa Pamijahan, Kabupaten Bogor, Senin (19/10/2026).
Baca Juga: Water Kingdom Mekarsari: Tiket, Rute, dan Wahana Lengkap
Mengusung tema “Agama dan Kebudayaan” dengan judul “Model Pembangunan Bogor Barat Berbasis Kearifan Lokal”, forum ini menjadi ruang dialog untuk membicarakan arah pembangunan Bogor Barat yang tidak hanya mengejar kemajuan fisik, tetapi juga memperkuat identitas budaya, nilai keagamaan, dan kesejahteraan masyarakat.
Diskusi tersebut menghadirkan tiga narasumber dari kalangan akademisi, yakni Prof. Dr. J. M. Muslimin, Guru Besar UIN Jakarta; Dr. Ujang Buchori Muslim, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBA) UIB; serta Dr. Maman Rahman, akademisi Bogor Barat.
Budaya Sunda dan Agama Jadi Landasan Pembangunan
Dalam pembahasan FGD, pembangunan berbasis kearifan lokal menjadi salah satu gagasan penting untuk mendorong kemajuan Bogor Barat tanpa mengabaikan karakter masyarakatnya.
Buchori Muslim menekankan, keberhasilan pembangunan daerah semestinya tidak hanya dilihat dari capaian ekonomi dan ketersediaan infrastruktur. Pembangunan juga perlu memperhatikan kualitas manusia, kelestarian budaya, nilai moral, serta pemerataan kesejahteraan.
“Pembangunan daerah tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Kita juga perlu memastikan bahwa nilai-nilai agama, kebudayaan, dan keadilan sosial tetap menjadi bagian penting dalam menentukan arah kemajuan daerah,” tutur Buchori Muslim.
Menurut perspektif pembangunan berbasis kearifan lokal, budaya Sunda memiliki modal sosial yang relevan untuk memperkuat kehidupan masyarakat.
Nilai gotong royong, kebersamaan, kesantunan, penghormatan terhadap sesama, dan kepedulian terhadap lingkungan dapat menjadi pijakan dalam membangun hubungan sosial yang harmonis.
Di sisi lain, nilai-nilai agama berperan dalam membentuk etika publik, integritas pemimpin, tanggung jawab moral, dan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat luas.
Perpaduan keduanya dinilai penting agar pembangunan tidak kehilangan arah dan tetap menempatkan manusia sebagai tujuan utama, bukan sekadar objek dari kebijakan pembangunan.
AMUK BOBAR Dorong Pembangunan yang Berkeadilan
Melalui forum ini, AMUK BOBAR mendorong pendekatan pembangunan yang menghubungkan agama, kebudayaan, pendidikan, penguatan ekonomi, dan tata kelola pemerintahan.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membuka ruang bagi lahirnya gagasan pembangunan yang lebih menyeluruh.
Kemajuan wilayah tidak hanya diukur melalui pertumbuhan angka ekonomi, tetapi juga dari terbukanya kesempatan bagi masyarakat, meningkatnya kualitas pendidikan, terjaganya lingkungan, dan kuatnya solidaritas sosial.
Baca Juga: Warung Kopi Jati 7 Pak Eli Jonggol: Ngopi View Sawah Teduh
Dalam konteks Bogor Barat, kearifan lokal dapat menjadi pijakan untuk merumuskan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter masyarakat setempat.
Dengan demikian, pembangunan tidak berhenti pada proyek fisik, tetapi turut membangun kesadaran kolektif, memperkuat partisipasi warga, dan menciptakan kesejahteraan yang dirasakan secara lebih merata.
Kearifan Lokal Harus Tetap Relevan bagi Generasi Muda
Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa kebudayaan lokal tidak hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu.
Nilai-nilai yang diwariskan leluhur perlu terus dihidupkan dan dikembangkan agar mampu menjawab perubahan zaman.
Tradisi Sunda, misalnya, dapat menjadi sumber pembelajaran mengenai solidaritas, penghormatan kepada sesama, tanggung jawab sosial, dan hubungan manusia dengan alam.
Nilai-nilai tersebut perlu diperkenalkan melalui pendidikan, kegiatan kebudayaan, serta keterlibatan generasi muda dalam kehidupan masyarakat.
Upaya pelestarian budaya juga perlu berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat.
Identitas lokal dapat menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan potensi wilayah, sepanjang dilakukan dengan memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan kepentingan warga.
Karena itu, pembangunan berbasis kearifan lokal membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari masyarakat, akademisi, tokoh agama, pelaku ekonomi, hingga pemerintah daerah.
Menatap Masa Depan Bogor Barat yang Maju dan Berkeadaban
FGD yang diselenggarakan AMUK BOBAR menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bersama mengenai masa depan Bogor Barat.
"Forum ini membuka ruang pertukaran gagasan tentang bagaimana kemajuan ekonomi dapat berjalan seiring dengan penguatan karakter masyarakat dan pelestarian kebudayaan," jelas Buchori Muslim.
Aspirasi untuk menjadikan Bogor Barat lebih maju perlu didukung oleh pendidikan yang berkualitas, ekonomi masyarakat yang semakin kuat, kepemimpinan yang berintegritas, serta kebijakan publik yang berorientasi pada kebutuhan warga.
Melalui dialog bersama kalangan akademisi dan elemen masyarakat, gagasan yang berkembang dalam FGD diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan untuk merumuskan rekomendasi pembangunan yang lebih kontekstual dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, jelas Buchori Muslim, pembangunan Bogor Barat bukan semata-mata tentang seberapa cepat wilayah berkembang, melainkan juga tentang nilai apa yang dijaga dan siapa yang merasakan manfaatnya.
"Semangat itulah yang ingin diperkuat melalui gagasan pembangunan berbasis kearifan lokal yakni mewujudkan Bogor Barat yang maju secara ekonomi, kokoh dalam nilai keagamaan, lestari dalam kebudayaan, dan berkeadaban dalam kehidupan sosial," pungkasnya.
Editor : Siti Dewi Yanti