RADAR BOGOR - Tindak penertiban yang dilakukan Satpol PP Kota Bogor tampak berjalan berbeda dengan wilayah lain. Drama baku hantam dan kericuhan yang biasa muncul di momen penertiban dan penggusuran, amat jarang terjadi di Kota ini dalam beberapa tahun terakhir.
Hal itu tercipta dalam penertiban, lantaran adanya upaya penyelesaian masalah yang cenderung bersifat humanis yang dikedepankan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bogor.
Kepala Satpol PP Kota Bogor Agustian Syach mengatakan, cara itu memang sengaja dipilih olehnya sejak awal menjabat, untuk meminimalkan adanya gesekan dalam setiap tindak penertiban. Hal itu dibangun Agus lewat komunikasi yang intens bersama sasaran penertiban.
"Saat ditugaskan untuk melakukan penertiban, saya biasanya minta waktu yang lebih lama untuk memaksimalkan komunikasi. Saya ajak sasaran penertiban untuk ngopi atau makan bersama, di situ kami jelaskan apa yang diinginkan pemerintah, program yang akan dijalankan, dan solusi untuk mereka," ucapnya kepada Radar Bogor, Senin (9/12/2024).
Komunikasi yang dijalin, juga dijalankannya dengan santun dan selalu diiringi dengan senyuman. Hal ini dimaksudkan, agar sasaran penertiban mudah menerima segala hal yang disampaikan.
Meski terdengar mudah, Agus mengatakan, langkah komunikasi itu kerap dilakukannya berulang kali. Agar sasaran penertibannya bisa memahami dan menerima kebijakan yang akan dilakukan oleh pemerintah.
Komunikasi dari hati ke hati inilah, yang membuat sasaran Agus kerap luluh, hingga akhirnya mau untuk mengikuti kebijakan pemerintah. Mereka bahkan dengan sukarela melakukan penertiban itu secara mandiri.
"Ada 3 langkah penertiban yang saya pegang selama ini. Relokasi, rekondisi, baru represi. Bukan terbalik, ini kesalahan yang kerap dilakukan di wilayah lain. Mengedepankan represi baru relokasi," ucapnya.
Berkat upaya humanis tersebut Agus bersama jajarannya dianugerahi penghargaan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) karena dianggap dapat merubah paradigma Satpol PP.
"Makanya sekarang saya kerap diundang ke Satpol PP di wilayah lain untuk merubah mindset anggota Satpol PP seluruh Indonesia yang tadinya brutal menjadi lebih humanis," beber dia.
Baginya kesuksesan upaya ini juga memerlukan peran sentral dari seorang Kasatpol PP yang menurut dia semestinya tak merasa sombong.
Serta ingin turun langsung ke lapangan mendengarkan langsung keluhan pedagang dan memberi contoh pada pasukan.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga