Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Sejarah Jembatan Merah Bogor: Saksi Bisu Era Kolonial Belanda, Jadi Pusat Kuliner Tempo Dulu hingga Sekarang

Lucky Lukman Nul Hakim • Rabu, 18 Desember 2024 | 11:07 WIB
Potret Jembatan Merah Kota Bogor zaman dulu dan sekarang.
Potret Jembatan Merah Kota Bogor zaman dulu dan sekarang.

RADAR BOGOR - Warga Bogor tidak asing dengan Jembatan Merah Bogor. Jembatan yang menyimpan banyak kenangan dari masa ke masa ini menjadi saksi sejarah keberadaan Kota Hujan sejak ratusan tahun lalu sampai saat ini.   

Lokasi Jembatan Merah tidak jauh dari Stasiun Bogor dan Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II A Bogor di Paledang.

Jembatan yang masih kokoh berdiri di tengah hiruk pikuk masyarakat ini menyuguhkan sejarah panjang terutama pada penjajahan Belanda. 

Menilik foto di Instagram Bogor Tempo Doeloe berdasarkan foto koleksi Tropen Museum,
tahun 1900 jembatan ini kondisinya kokoh.

Di bawahnya terdapat Sungai Cipakancilan yang mengalir di wilayah Panaragan, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.

"Jembatan ini di masa Hindia Belanda dikenal dengan nama Rode Brug yang berarti Jembatan Merah," tulis Bogor Tempo Doeloe.

Sejarah Jembatan Merah

Jembatan Merah melintasi Sungai Cipakancilan yang saat ini menghubungkan Jalan Kapten Muslihat dengan Panaragan serta Jalan Merdeka.

Jembatan merah memiliki nilai historis sangat tinggi. Hal ini berkaitan dengan perjuangan para pahlawan pada masa itu dalam menjaga kotanya dari penjajah.

Dibangun tahun 1881 atau kini berusia 143 tahun, Jembatan Merah Bogor dinamai Rode Brug sesuai namanya konstruksi dinding jembatan saat itu menggunakan batu bata merah yang di bawahnya dialiri Sungai Cipakancilan.

Menurut sejarawan Saleh Danasasmita dalam tulisannya dilansir dari YouTube Bogor Tempo Dulu, Sungai Cipakancilan dibangun Kanjeng Aria Natangegara seorang Demang atau Pati Kampung Baru pada tahun 1776.

Awalnya sungai tersebut dibuat untuk mengaliri persawahan di sebelah utara Bogor mulai dari Cimanggu, Kebon Pedes sampai Cibuluh dan Kedung Badak dan berakhir di Sungai Ciliwung.

Sedangkan aliran sungai di sekitar Paledang dipecah menuju kanal Cidepit dan mengalir sampai ke Mantarena.

Pada zaman dulu Jembatan Merah juga menjadi tempat masyarakat berolahraga di hari Minggu. Jembatan ini ramai dikunjungi para warganya baik dari kalangan pribumi maupun orang-orang Belanda.

Termasuk Gubernur Jenderal Hindia Belanda Gustaf Willem Baron van Imhoff yang ketika itu menghuni Istana Bogor. Ia sering menyempatkan diri ke Jembatan Merah untuk menyaksikan aktivitas warga.

Pada malam hari, Jembatan Merah juga ramai khususnya malam Minggu atau malam hari besar. Para remaja berdarah Eropa dan pribumi banyak yang jalan-jalan di sekitar jembatan yang juga banyak warung-warung jajanan khas Bogor, salah satunya doclang.

Di sisi lain, pada masa perjuangan melawan penjajah. Para pejuang melintasi Jembatan Merah untuk melakukan penyerangan ke markas tentara Belanda di Jalan Bantammerweg yang kini dikenal dengan nama Jalan Kapten Muslihat.

Pusat Kuliner Masa Kini

Menilik sejarahnya sejak era 1880-an, Jembatan Bogor sudah menjadi pusat kuliner. Banyak warga Belanda maupun keturunan Eropa serta pribumi menikmati jajanan di warung-warung pinggir jalan sekitar Jembatan Merah. 

Kini lebih dari 140 tahun berdiri, Jembatan Merah masih menjadi destinasi wisata kuliner favorit. Banyak makanan yang dijajakan sejak dulu dan digemari sampai saat ini. Salah satu yang legendaris adalah doclang.

Kuliner malam hari di Jembatan Merah sering ramai pengunjung. Tak hanya doclang, banyak pilihan jajajan lainnya seperti bubur ayam, sate ayam, martabak, aneka kue tradisional, gorengan, hingga makanan khas Bogor tauge goreng.

Pada masa kini, Jembatan Merah Bogor yang dicat merah dan tampak ramai. Sering terjadi kepadatan arus lalu lintas khususnya masyarakat yang hendak menuju ke kawasan Stasiun Bogor, Kebun Raya Bogor, dan sekitarnya.

 

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#tempo dulu #Jembatan Merah Bogor #kuliner #sejarah