Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Di Balik Berdirinya Tugu Kujang, Ikon Kota Bogor yang Punya Makna Simbolis Masyarakat Sunda

Fadil Ma'ruf • Kamis, 19 Desember 2024 | 07:26 WIB

 

Pengibaran bendera merah putih di Tugu Kujang, pada pelaksanaan FMP tahun lalu.
Pengibaran bendera merah putih di Tugu Kujang, pada pelaksanaan FMP tahun lalu.

RADAR BOGOR - Tugu Kujang, ikon megah yang berdiri kokoh di pusat Kota Bogor dan berikut kisah di balik tugu setinggi sekitar 25 meter tersebut. 

Tugu Kujang dibangun pada 4 Mei 1982 atau sudah berdiri sejak 42 tahun lalu. Tingginya sekitar 25 meter dan dibangun di atas lahan seluas 26 meter x 23 meter.

Memiliki berat sekitar 800 kg yang terbuat dari beton berlapiskan perunggu dan kuningan, monumen dibangun saat masa pemerintahan Wali Kota Bogor Ahmad Sobana.

Tugu ini didirikan sebagai bentuk penghormatan peresmian Kota Pakuan yang merupakan ibu kota dari Kerajaan Sunda Bernama Kerajaan Pajajaran serta bentuk penghormatan terhadap perjuangan para leluhur.

Di balik kemegahannya Tugu Kujang, tersimpan sejarah, serta nilai budaya.

Tugu Kujang ini tidak hanya menjadi kebanggaan warga Bogor, tetapi juga melambangkan filosofi mendalam dari budaya Sunda.

Tugu Kujang berlokasi di simpang Jalan Raya Pajajaran dan Jalan Otto Iskandardinata atau Otista. Tugu ini mudah ditemukan oleh siapa saja, bahkan pengunjung dari luar kota.

Lokasinya tak jauh dari pintu keluar Tol Jagorawi, kampus IPB Baranangsiang, dan Kebun Raya Bogor dan menjadikannya salah satu destinasi wisatawan.

Sejarah Tugu Kujang Bogor

Dibangun pada 14 Mei 1982 di masa pemerintahan Wali Kota Ahmad Sobana, Tugu Kujang berdiri dengan tinggi 25 meter.

Ketika itu biaya pembangunan mencapai Rp80 juta. Tugu ini mengambil bentuk Kujang, senjata tradisional masyarakat Sunda dan memiliki makna mendalam. Yakni sebagai simbol kedaulatan kerajaan dan pusaka leluhur.

Filosofi Sunda yang tercermin dalam desain Tugu Kujang mengacu pada konsep Tritangtu Sunda Buana, yaitu Ratu, Rama, dan Resi, sebagai pedoman hidup masyarakat Sunda.

Meski dibangun oleh para profesional, proyek Tugu Kujang konon ketika itu mengalami banyak kendala. Terutama saat pemasangan bilah Kujang raksasa di puncak tugu.

Berulang kali bilah Kujang jatuh, bahkan setelah diangkat dengan bantuan helikopter dan melibatkan banyak tenaga kerja.

Hal ini membuat para pekerja kelelahan dan kehilangan akal untuk menyelesaikan proyek tersebut.

Merasa ada sesuatu yang janggal, pimpinan proyek bersama pemerintah setempat akhirnya meminta pendapat dari para sesepuh Bogor. 

Setelah semua saran dari sesepuh dijalankan, pemasangan bilah Kujang akhirnya berjalan lancar, dan Tugu Kujang berdiri megah hingga kini.

Ritual Ngumbah Kujang

Tugu Kujang tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga pusat perayaan budaya masyarakat Bogor.

Setiap tanggal 3 Juni, bertepatan dengan Hari Jadi Kota Bogor, dilakukan ritual ngumbah Kujang atau mencuci Tugu Kujang.

Uniknya, proses pembersihan ini menggunakan air keramat dari tujuh mata air di Bogor. Seperti Mata Air Cidangiang, Cibogor, dan Cikahuripan di Kebun Raya Bogor.

Air ini melambangkan kesucian dan menjadi bagian penting dari ritual. Selain itu, acara ini melibatkan sesepuh dan tokoh-tokoh kota, yang melaksanakan doa bersama sebelum pembersihan dimulai.

Kebanggaan dan Warisan Budaya Sunda

Tugu Kujang bukan hanya monumen fisik, tetapi juga simbol cinta masyarakat Bogor terhadap budaya Sunda.

Sebagai ikon kota, Tugu Kujang menyampaikan pesan penting untuk melestarikan adat dan warisan leluhur.

Dengan kecintaan generasi muda pada budaya lokal, tradisi ini dapat terus hidup dan dikenang sepanjang masa.

Monumen ini menjadi bukti nyata bahwa budaya dapat menjadi identitas sekaligus inspirasi untuk menjaga keanekaragaman budaya Indonesia.

Semoga warisan Tugu Kujang ini tetap lestari dan terus memperkaya khazanah budaya bangsa.***

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#bogor #masyarakat sunda #tugu kujang #ikon