RADAR BOGOR - Perubahan lembaga Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) menjadi Direktorat Jendral (Ditjen) Integrasi Transportasi Multimoda memaksa Program Buy The Service (BTS) Biskita Transpakuan Kota Bogor dihentikan sementara waktu.
Evaluasi dan transisi yang dilakukan dan berpengaruh terhadap program BTS Biskita Transpakuan Kota Bogor tersebut, kemudian membuat moda tansportasi ini berhenti beroperasi sementara sejak tanggal 1 Januari 2025 lalu.
Berdasarkan data BPTJ yang diterima Radar Bogor, Biskita Transpakuan Kota Bogor menorehkan data jumlah penumpang yang cukup baik. Pada sejumlah koridor Biskita Transpakuan telah mrnjadi transportasi primadona bagi warga.
Selama 3 bulan terkahir (Oktober-Desember 2024), tercatat ada 243.912 orang penumpang di kooridor 1 dengan load factor (keterisian) sebesar 58-71 persen.
Untuk koridor 2 tercatat ada 391.452 orang penumpang dengan load factor 107-119 persen.
Kemudian pada koridor 5 terdapat 181.878 orang penumpang, dengan load factor 42-52 persen. Dan untuk koridor 6 jumlah penumpangnya sebanyak 83.002 dengan load factor 16-25 persen.
Pj Wali Kota Bogor Hery Antasari memastikan penghentian operasional Biskita Transpakuan hanya bersifat sementara, bukan permanen atau selamanya.
Ia menyebut, penghentian operasional ini disebabkan adanya persiapan untuk penganggaran kembali program BTS Biskita Transpakuan di tahun 2025 oleh Kemenhub melalui Ditjen Integrasi Transportasi Multimoda.
Hery sadar kebijakan ini berdampak pada pelayanan masyarakat yang terganggu. Oleh karena itu pihaknya menyiapkan sejumlah opsi untuk menanggulangi kondisi ini.
"Kami akan segera rapatkan untuk kami ambil keputusannya. Banyak langkah opsi darurat yang akan kami lakukan untuk membantu masyarajat. Terlebih minggu depan sudah mulai masuk sekolah," ucapnya.
Beberapa solusi yang dirancang antara lain mengerahkan kendaraan kepala dinas untuk disiagakan membantu masyarakat.
"Kami juga akan membahas kemungkinan penggunaan anggarab Belanja Tidak Terduga (BTT) dan pengggunaan bus sekolah," imbuh Hery.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga