Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Tak Ingin Tinggal Diam, Pengamat Tranportasi Minta Pemkot Siapkan Konsep Biskita Bogor Raya

Fikri Rahmat Utama • Minggu, 12 Januari 2025 | 20:58 WIB
Sejumlah armada BisKita Trans Pakuan, Kota Bogor.
Sejumlah armada BisKita Trans Pakuan, Kota Bogor.

RADAR BOGOR - Pengamat transportasi dan tata kota, Yayat Supriatna menilai, kabar soal dilanjutkannya subsidi Biskita Transpakuan oleh Kemenhub tak bisa membuat Pemkot Bogor tenang-tenang saja.

Pemkot, kata pengamat transportasi itu, mesti mulai melakukan persiapan untuk peralihan pengelolaan Biskita Transpakuan Bogor pada 2026 nanti.

Komunikasi dengan DPRD harus mulai dibangun, untuk mencari potensi anggaran untuk membiayai Biskita Kota Bogor. Serta, lanjut pengamat transportasi itu, harus dibuat payung hukum atau perwali untuk pencarian dana di luar tarif atau subsidi ini.

Dia mencontohkan seperti pemanfaatan halte-halte untuk menjadi warung atau cafe mini. Ini bisa dibuat agar halte yang ada termanfaatkan secara optimal. Penumpang pun bisa menunggu dengan nyaman dan tenang.

Selain itu halte-halte juga bisa digunakan sebagai media pemasangan iklan. Banyak perusahaan pasti akan tertarik untuk memasang iklan karena halte ramai dikunjungi penumpang yang naik contohnya di sepanjang Jalan Sudirman.

"Kita belajar dari Transjakarta yang halte-haltenya itu ikonik. Ada kafenya atau tenant di atas, bisa menghasilkan uang, penumpangnya nyaman," ujarnya.

Dirinya menyebut banyak cara untuk bisa mendapatkan keuntungan dari pengelolaan Biskita nantinya. Pemkot bisa juga melakukan sharing pembiayaan atau membuat konsorsium dengan perusahaan swasta. Ini semua tinggal menunggu langka konkret untuk dijalankan.

"Jadi saya justru mempertanyakan kalau misalnya Perumda Transportasi Pakuan (PTP) diberi kelola, bisa nggak menghasilkan keuntungan?" cecarnya.

Selain itu, dia juga meminta agar Pemkot Bogor mulai mengkonsep Biskita Bogor agar menjadi Biskita Bogor Raya. Ini opsi yang cukup masuk akal untuk menggantikan subsidi dari pemerintah pusat nantinya.

Pemkot melakukan kerja sama dengan Pemkab Bogor dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat agar bisa patungan membangun moda transportasi yang terintegrasi.

Biskita bisa beroperasi selain untuk warga Bogor, namun juga warga Kabupaten Bogor serta wisatawan yang berkunjung ke Puncak.

"Misalnya kerjasama itu, provinsi mendanai 50%, sisanya Kota Bogor 25% dan Kabupaten Bogor 25%, atau skema lain yang menyesuaikan kemampuan anggaran," sebutnya.

Perluasan wilayah ini disebut selain meringankan biaya operasional dari masing-masing wilayah, bisa juga menambah keuntungan karena semakin banyak penumpang yang naik. Skema pembiayaan patungan ini sudah dilakukan di Bandung Raya dan Kalimantan Selatan.

"Bisa juga dilakukan dengan membuat perusahaan bersama sehingga dikelola lewat perusahaan itu. Saham-saham nya dari masing-masing Kota dan Kabupaten Bogor dan Provinsi Jawa Barat," jelasnya.

Dia juga minta agar Kemendagri untuk mendorong pengintegrasian wilayah ini. Kemendagri disebut bertanggungjawab agar melakukan pembinaan kepada daerah untuk mengembangkan transportasi dengan saling bekerjasama.

Baca Juga: Penampakan Istana Bogor Menarik Perhatian, Kini Pintu Masuk Kembali Dikerumuni Warga Untuk Berswafoto Setelah Dikunjungi Perdana Menteri Jepang

"Kemendagri bisa membantu pembuatan payung hukum untuk hal ini. Apalagi saya dengar pak Bima Arya Wamendagri ingin membanggil daerah yang memiliki Biskita," pintanya.

Konsep Biskita Bogor Raya ini disebut sangat berdampak besar bagi kedua daerah. Sebab bila trayek Cibinong atau Bubulak sampai ke Ciawi dan seterusnya bisa terwujud maka permasalahan macet Puncak Kabupaten Bogor dan dalam Kota Bogor bisa teratasi.

Selain itu, dirinya juga menyoroti tarif yang dikenakan untuk Biskita. Tarif Rp4 ribu untuk umum dan Rp2 ribu untuk lansia, Disabilitas, dan anak sekolah dinilai perlu divariasikan dengan tarif lain.

Konsep tarif tak hanya untuk anak sekolah dan umum, bisa dilakukan dengan tarif mingguan untuk pekerja dan ASN. Saat ini untuk umum disebut masih terlalu murah padahal pekerja kantoran dan ASN bisa dikenakan tarif khusus.

"Saat ini peruntukan Biskita kebanyakan pelajar makanya tidak nutup operasional. Penumpang dari pekerja kantoran dan ASN mesti didorong untuk naik biskita," sebutnya.

Ini terlihat saat bus pengganti beroperasi yang ternyata difokuskan untuk anak sekolah. Bus pengganti ini juga dinilai hanya untuk darurat sehingga tak bisa diharapkan sebagai pengganti Biskita.

"Mulai sekarang kajian soal moda transportasi Biskita harus sudah dilakukan agar saat peralihan di 2026 sudah matang," jelasnya.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
#bogor #Biskita #pengamat transportasi