Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Mengenal Kie Lin, Kesenian Mirip Barongsai yang Cuma Ada di Kota Bogor

Reka Faturachman • Minggu, 2 Februari 2025 | 17:27 WIB
Kesenian Kie Lin saat tampil di Vihara Buddhasena Kota Bogor.
Kesenian Kie Lin saat tampil di Vihara Buddhasena Kota Bogor.

RADAR BOGOR - Momen Imlek menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk melihat atraksi kesenian Kie Lin di Kota Bogor.

Nuansa khidmat dan sakral begitu terasa kental saat atraksi kesenian Kie Lin Kota Bogor berlangsung.

Meski tampak mirip, ternyata kesenian Kie Lin Kota Bogor dan Barongsai sangatlah berbeda. 

 

Kesenian yang juga diperagakan dua orang dan diiringi alunan musik khas Tionghoa ini memiliki tempo lebih lambat.

Berbeda dengan Barongsai yang memiliki gerakan lebih cepat dan diwarnai gerakan akrobatik.

Koordinator Bidang Ritual Perguruan Silat Persatuan Gerak Badan (PGB) Bangau Putih, Patrick Alfonsus (17) menerangkan, hal itu lantaran, atraksi Kie Lin yang diperuntukan khusus untuk ritual berbeda dengan Barongsai yang kebutuhannya sebagai pertunjukan.

"Kie Lin ini merupakan salah satu hewan mitologi yang berasal dari kepercayaan Tionghoa. Kie Lin punya tugas khusus yakni sebagai tunggangan Dewa Dewi yang turun ke Bumi," jelas Patrick.

Jika Barongsai terlihat cerah dan penuh pernak pernik, berbeda dengan Kie Lin yang tampak lebih sakral dengan warna hijau gelap serta corak gelombang putihnya.

Selain gerakan, musik pengiring Kie Lin juga terdengar lebih khidmat. Patrick mengungkapkan instrumen tambur pada atraksi Kie Lin memang khusus diciptakan oleh seorang Guru Besar. 

"Musik ini biasa dibawakan oleh 6 orang yang memegang alat musik berbeda. Sementara untuk Kielinnya sama seperti Barongsai 1 pasang (2 orang) kepala dan buntut," terang dia.

Kie Lin biasa tampil pada momen-momen tertentu saja. Pada rangkaian acara Tahun Baru Imlek, Hari Ulang Tahun Dewa Dewi, dan peresmian vihara.

"Pada rangkaian perayaan Imlek kami tampil di momen Ce Lak (Ulang tahun Kie Lin), malam Ce Kao (pemandian Kie Lin di Sungai Ciliwung), Cap Si (mengantar rupang dari Klenteng Pan Kho ke Vihara Dhanagun, dan Cap Go Meh," beber Patrick.

Meski sudah berusia tua, kesenian Kie Lin kini banyak dilakoni oleh anak-anak muda.

Hal ini lantaran bagian dari regenerasi dan upaya pelestarian kesenian tersebut. 

Patrick sadar banyak kesenian yang akhirnya mati karena tidak ada insan yang meneruskan. Oleh karena itu ia dan rekan-rekan sebayanya sangat tertarik untuk belajar dan melesetarikan Kie Lin.

"Kie Lin ini hanya ada di Bogor saja se-Indonesia. Kalau bukan kami yang mrnjaga siapa lagi? Kami harap di tangan kami Kie Lin bisa terus berlanjut dan berkembang," harap dia.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
#kota bogor #Kie Lin #barongsai