RADAR BOGOR - Masa jabatan Hery Antasari sebagai Pj Wali Kota Bogor tinggal menghitung hari. Kurang dari sepekan lagi ia akan menyerahkan amanah itu ke pundak Wali Kota baru, Dedie Rachim. Sejumlah pesan dan ambisi yang tertahan dititipkan Hery.
Sejak dilantik pada 20 April 2024 lalu, Hery Antasari sudah menakrifkan dirinya untuk tidak banyak membuat gebrakan di Kota Bogor.
Hery Antasari hanya ingin melanjutkan segala pencapaian dan rencana kerja yang telah disusun Pemerintah Kota Bogor sepeninggal Wali Kota Bima Arya.
Dia sadar, tidak banyak langkah yang bisa dilakukan karena masuk tepat di tengah-tengah anggaran 2024.
Tugas lain yang menjadi fokusnya hanyalah memastikan dua pesta demokrasi di awal dan akhir tahun berjalan dengan aman dan damai.
Meski begitu, di tengah masa jabatan, ide dan gagasan muncul dan membuat Hery Antasari gereget untuk mewujudkannya.
Terlebih karena latar belakang tata kota yang ia punya dari almamaternya di Institut Teknologi Bandung dan The University of Queensland.
“Ide banyak sekali. Misalnya membangun Refuse Derived Fuel (RDF), memperbaiki teknologi transportasi, hingga sarana prasarana pemerintahan. Tapi karena waktu yang terbatas dan banyak pertimbangan, saya tidak bisa masuk ke sana,” ujar dia.
Akhirnya ia pun hanya dapat menitipkan ambisi tertahan itu pada Wali Kota Bogor baru nanti, Dedie Rachim. Upaya komunikasi dalam masa transisi pun telah gencar dilakukan.
Bukan saja di rapat-rapat formal, Hery Antasari telah membicarakan titipannya itu pada Dedie dalam pembicaraan informal.
Beberapa persoalan lain yang sempat menjadi perbicangan masyarakat pun dititipkan Hery pada Dedie Rachim. Misalnya pengelolaan pengangkutan sampah, pendidikan, dan kelanjutan Biskita Transpakuan.
Dia pun berharap banyak bagi perkembangan Kota Bogor. Karena ia melihat kota ini memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan.
Selain karena lokasinya yang strategis dekat dengan Ibu Kota, memiliki Istana Negara yang difungsikan Pemerintah Pusat, dan memiliki akses yang bagus.
Kota Bogor juga memiliki kekayaan budaya, menjadi pusat sejarah, pusat industri kreatif, dan keberagaman yang guyub.
“Pentahelix di Kota Bogor itu bukan omong kosong. Ditandai dengan banyaknya helaran yang diinisiasi oleh warga, bahkan tanpa dukungan APBD sepeserpun. Seperti Bogorku Bersih oleh Radar Bogor, Festival Merah Putih (FMP) oleh Bogor Sahabat, dan terakhir Bogor Street Festival Cap Go Meh (BSF CGM) kemarin,” kata Hery.
Fenomena ini betul-betul membuat dia terkesan dengan Kota Bogor. Kolaborasi ini penting menurut dia dalam sebuah wilayah.
Karena dalam APBD, banyak urusan yang menurutnya tidak bisa terfasilitasi maksimal karena keterbatasan anggaran yang selalu defisit.
“Kalau di wilayah lain masyarakatnya harus didorong agar mau terlibat. Bahkan mereka tidak percaya dengan pemerintah. Tapi Kota Bogor berbeda, masyarakatnya bergerak dengan sendirinya,” ucap dia.
Kemesraan dalam unsur Pentahelix ini diharapkan Hery bisa terus dirawat dan dijaga oleh seluruh stakeholder di Kota Bogor.
Dia juga ingin agar warga Kota Bogor bisa mendukung kepemimpinan Dedie Rachim beserta wakilnya Jenal Mutaqin.
Terakhir, Hery memohon maaf kepada seluruh stakeholder atas segala kesalahan dan kekurangan dia selama menjabat sebagai Pj Wali Kota Bogor.
“Terima kasih atas dukungan dan doanya selama ini. Selama saya di Kota Bogor saya bisa mendapat banyak saudara dan ilmu. Semoga bisa mengakhiri jabatan ini dengan husnul khotimah,” tutup Hery Antasari. (***)
Editor : Yosep Awaludin