RADAR BOGOR - Kota Bogor memiliki peran yang sangat strategis, sehingga pembangunannya harus berjalan maksimal.
Lalu seperti apa pembangunan yang ideal di Kota Bogor? Pj Wali Kota Bogor Hery Antasari memberikan tanggapannya saat podcast bersama Radar Bogor.
"Gini saya 10 bulan di sini (Kota Bogor), mungkin saya mempelajari karakter kota, sumber daya, modal sosial, modal keuangan dan kondisi faktual," jelas Hery Antasari.
"Dalam 3 bulan pertama, saya sudah pahamlah, sudah tahu, mungkin enggak A sampai Z-nya tapi kurang lebih gambaran picture besarnya saya sudah dapatkan, meskipun banyak kendala," sambungnya.
"Saya kan sambil laksanakan tugas sebagai PJ Wali Kota itu kan juga enggak bisa sekaligus, sambil belajar mempelajari itu sambil jalan, plus juga seremonial, saya enggak punya wakil jadi ke sana sini," kata dia.
Namun, kata dia, 3 bulan pertama dirinya mempunyai gambaran umum meskipun pasti tidak akan setara dengan yang sudah lama menjabat seperti pak Bima Arya dan Wali Kota Bogor terpilih pak Dedie A Rachim yang pasti sudah sangat paham.
"Kalau gambaran besar saya sebagai orang profesional, nah dari sudut pandang penataan kota dari sudut pandang pembangunan kota, saya melihat Kota Bogor ini adalah kota yang sangat potensial dari segala sisi, tapi dibarengi dengan keterbatasan" tuturnya.
"Potensial dari sisi apa? yang pertama geolokasinya sudah jelas, artinya lokasi strategis karena berdekatan ada di berbatasan dengan ibukota negara itu kan strategis di dalamnya ada Istana Negara apalagi sekarang banyak difungsikan oleh pemerintah pusat, artinya ada objek vital nasional yang berpengaruh langsung tidak langsung kepada pengembangan kota pasti itu," paparnya.
Kemudian yang ketiga, kata Hery Antasari, adalah kota yang sangat kaya dengan budaya.
"Karena pusat sejarah sudah berbicara ya, pusat dari kerajaan Pajajaran dan lain sebagainya adalah di kota Bogor," jelasnya.
kemudian, Kota Bogor merupakan pusat dari berbagai aktivitas ekonomi kreatif.
"Ekonomi kreatif apa yang enggak ada? dari 17 sektor ekonomi kreatif di Kota Bogor ada semua. Ada broadcasting, kuliner ada, craft ada, apa yang enggak ada? sok diabsen satu-satu hampir semua ada di kota Bogor," ungkap Hery.
Sebagai kota metropolitan yang berdekatan dengan Daerah khusus Jakarta atau aglomerasi dan heterogen, Kota Bogor punya semua.
"Kota lain mungkin enggak punya, hanya sebagian saja dari ekonomi kreatif yang dimiliki, kalau sektor pedagangan jasa sudah jelas lah, sebagai kota besar kota metropolitan yang seperti ini ada di pulau Jawa pasti Kota Bogor punya segalanya untuk pedagangan jasa hotel, restoran itu sudah pasti," paparnya.
Menurut dia, yang mungkin sulit adalah lahan pertanian yang luas.
Kemudian, pengembangan industri padat lahan pasti tidak punya karena lahan sebagai kota di mana-mana pasti masalahnya industri akan terbatas.
Di luar itu semuanya, sambung dia, Kota Bogor memilikinya.
"Nah itu itu sebagai modal ya, itu modal fisik modal ekonomi," kata dia.
Bicara modal sosial, Hery mengaku kagum yakni keberagaman, guyub dan lain sebagainya sehingga Kota Bogor sudah lengkap dengan segala keunggulannya.
Belum soal bicara cuaca dan lain sebagainya yang luar biasa.
Dengan segala keunggulannya, ada juga pasti kendalanya yang perlu ditekan menjadi satu keunggulan.
"Kendala-kendala tantangan yang perlu jadi keunggulan karena kan kadang-kadang tantangan dan weaknesses itu kalau kita pandang sebagai weaknesses akan menjadi tetap menjadi weaknesses. tapi kalau kita pandang itu sebagai tantangan challenge maka menjadi keunggulan," papar Hery.
Hery Antasari mencontohkan, Kota Bogor tidak mempunyai lahan sehingga ketika akan mengembangkan sesuatu yang memerlukan lahan cukup akan sedikit mengalami kesulitan berkaitan dengan pembiayaan.
"Kalau sudah ada biaya, pengadaan lahannya, ongkos social engineering-nya juga mahal," ucapnya. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim