RADAR BOGOR – RS PMI Kota Bogor menggelar seminar berteman kenal dan cegah kanker untuk hidup lebih sehat dan bahagia.
Kegiatan memperingati World Cancer Day atau Hari Kanker Sedunia yang jatuh pada 4 Februari lalu ini digelar di Kalla Ballroom, RS PMI Kota Bogor, Sabtu (22/2/2025).
Seminar RS PMI Kota Bogor menghadirkan tiga narasumber ahli yang membahas tiga topik berbeda pula mengenai kanker.
Pertama dr. Ni Putu Merylinda membahas skrining dan deteksi dini kepada pasien kanker.
Kedua dr. Heldrian Dwinanda membahas mitos dan fakta pengobatan kanker. Ketiga dr. Arieska Felicia membahas nutrisi sehat untuk mencegah kanker.
Sebanyak 150 orang penyintas kanker hadir dalam seminar ini. Selain mendapatkan materi mereka juga saling tanya jawab dengan penyakit dan masalah yang muncul selama menjadi penyintas.
dr. Ni Putu Merylinda sendiri menekankan pentingnya skrining dan deteksi dini kanker.
Menurutnya, kanker yang ditemukan lebih awal memiliki peluang sembuh yang lebih tinggi serta dapat menurunkan angka kematian akibat kanker.
"Skrining dilakukan pada populasi sehat untuk mendeteksi kanker sebelum ada gejala, sedangkan deteksi dini berarti mendiagnosis kanker saat seseorang sudah menunjukkan tanda atau keluhan," katanya.
Ia menegaskan deteksi dini dapat membantu masyarakat menghindari keterlambatan dalam pengobatan.
Misalnya, jika seseorang merasakan benjolan di payudara, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.
"Hal ini untuk memastikan apakah benjolan tersebut jinak atau ganas,” ungkapnya.
dr. Putu menjelaskan usia untuk melakukan skrining berbeda tergantung pada jenis kanker seperti kanker payudara bisa dilakukan pemeriksaan mandiri sejak usia 20 tahun, pemeriksaan klinis, mammografi atau USG mulai usia 40 tahun.
Kanker serviks lewat tes pap smear atau HPV DNA sejak usia 30 tahun. Kanker kolorektal, pemeriksaan kolonoskopi mulai usia 50 tahun.
Dan kanker paru dilakukan skrining dengan low-dose CT scan terutama bagi perokok berat di atas usia 40 tahun.
"Jika seseorang memiliki riwayat keluarga dengan kanker atau faktor risiko tertentu seperti kebiasaan merokok, skrining dianjurkan dilakukan lebih awal," jelasnya.
Menurutnya selama bertugas di Bogor kasus kanker di sini cukup tinggi. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang kurang memahami pentingnya deteksi dini.
“Banyak pasien, terutama dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, yang lebih memilih pengobatan alternatif daripada medis," ujarnya.
Ketika didiagnosis kanker, masyarakat sering kali takut menjalani kemoterapi atau biopsi karena mitos yang beredar.
Seperti anggapan kemoterapi pasti menyebabkan kematian atau bahwa biopsi bisa membuat kanker menyebar.
Menurutnya, edukasi tentang kanker harus terus dilakukan agar masyarakat lebih sadar akan pentingnya pemeriksaan kesehatan.
“Pengetahuan yang lebih baik, diharapkan mereka bisa lebih cepat mengambil tindakan jika ada gejala mencurigakan,” ungkapnya.
Sebagai dokter yang fokus pada hematologi-onkologi, dr. Ni Putu Merylinda berharap semakin banyak masyarakat yang memahami manfaat skrining dan deteksi dini.
Semakin cepat kanker ditemukan, semakin besar peluang untuk sembuh.
"Jadi, jangan ragu untuk melakukan pemeriksaan sejak dini,” pungkasnya.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga