RADAR BOGOR - PCNU Kota Bogor menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) di Pondok Pesantren Salafiyah Terpadu Al UM, Pagentongan, Loji, Bogor Barat, Rabu (27/2/2025).
Konfrecab ini dihadiri para pengurus, kader, serta tokoh NU dan tokoh masyarakat, yang berlangsung satu hari dengan agenda utama pemilihan pemimpin baru PCNU kota Bogor.
Ketua Panitia Konfercab NU Kota Bogor, Ade Mulyana menyampaikan acara diawali dengan pembukaan, sidang komisi, serta pemilihan Ketua atau Rois Syuriah PCNU dan Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Bogor.
"Insyaallah seluruh rangkaian acara akan selesai pada pukul 18.00 WIB," katanya.
Dalam Konfercab kali ini, PCNU Kota Bogor mengusung tema Berjuang Bersama Umat untuk Indonesia Maslahat dan Kota Bogor Beres.
Ade berharap tema ini menjadi komitmen bagi para pengurus PCNU yang terpilih untuk lebih menjalin kebersamaan dalam memimpin Nahdlatul Ulama di Kota Bogor.
"Besar harapan kami agar NU hadir di tengah masyarakat dengan memberikan maslahat dan manfaat, baik bagi warga Nahdliyin maupun masyarakat Kota Bogor secara umum," ungkapnya.
Terkait pemilihan Ketua Tanfidziyah, Ade mengungkapkan bahwa ada lima calon yang memenuhi persyaratan administratif, di antaranya memiliki sertifikat PDPKNU dan PMKNU (Pendidikan Menengah Kader Penggerak Nahdlatul Ulama).
Namun, hingga saat ini belum diketahui siapa saja yang akan maju dalam pemilihan.
"Yang terpenting bagi kami sebagai panitia adalah Konfercab ini berjalan aman dan lancar. Siapa pun yang terpilih nanti, kita dukung bersama," katanya.
Pemilihan Ketua Tanfidziyah dan Rois Syuriah ini akan menentukan kepemimpinan PCNU Kota Bogor untuk periode 2025–2030.
Ade berharap kepengurusan yang baru dapat membawa NU ke arah yang lebih baik serta memberikan manfaat bagi umat.
"Kami menginginkan sosok ketua yang mampu menjadi nahkoda yang membawa NU ke arah yang lebih baik, serta melahirkan kebijakan yang bermanfaat dan maslahat bagi umat," ujarnya.
Ketua PCNU Kota Bogor H Edi Nurokhman berpesan untuk pengurus baru harus menjadi pengurus yang mampu dan mau mengurus, bukan justru yang harus diurus.
Selama ini, sering kali dia melihat pengurus yang justru membutuhkan bimbingan dan perhatian lebih.
"Ini menjadi masalah tersendiri. Bagaimana kita bisa melayani umat jika kita sendiri masih harus diurus?" pungkasnya.
Pengurus yang terpilih harus siap mewakafkan diri baik dalam bentuk harta, tenaga, maupun waktu demi berkhidmat kepada NU. Selain itu, dia menegaskan pentingnya menjaga tradisi Konfercab setiap lima tahun.
Tidak boleh ada pengurus yang dipilih dalam Konfercab, kemudian di tengah jalan harus diganti atau dilakukan pemilihan ulang.
"Kita harus mempertahankan tradisi kepemimpinan lima tahun ini, karena Konfercab adalah forum konstitusi yang harus melahirkan pengurus yang kredibel," jelasnya.
Terakhir, Edi memberikannya pesan yang bisa menjadi pedoman bagi pengurus yang terpilih. Pesan ini disebut sederhana tetapi memiliki makna mendalam.
"Pesannya: untuk apa menjadi pengurus jika tidak melakukan apa-apa?" ungkapnya.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga