RADAR BOGOR - Di bulan Ramadhan tahun ini, Kota Bogor menjadi saksi lahirnya sebuah perhelatan akbar. Perhelatan itu bernama Bogor ICMI Islamic Festival (BIIF) 2025 yang resmi digelar pada Sabtu (8/3/2025).
Festival Islami terbesar pertama di Kota Bogor ini diinisiasi ICMI Orda Kota Bogor. Festival ini digelar sembilan hari, mulai 8 hingga 16 Maret 2025 mendatang.
Bukan sekadar festival keagamaan, Bogor ICMI Islamic Festival hadir dengan semangat kebersamaan, mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk lintas agama. Semua pihak diajak berbagai kegiatan yang mengedepankan nilai-nilai keislaman dan kepedulian sosial.
Ketua ICMI Orda Kota Bogor, Arief Rachman Badrudin menuturkan lewat BIIF ini mereka ingin menghadirkan festival Islam yang terbesar.
Sebab Kota Bogor memiliki sejumlah festival besar seperti FMP dan BSF CGM namun belum ada festival Islami berskala besar.
"BIIF mengangkat tema celebrate live together. Festival ini akan menjadi wadah bagi umat Muslim untuk mengekspresikan budaya dan nilai-nilai agamanya," ungkapnya.
Mereka ingin menghadirkan sesuatu yang bukan hanya bersifat seremonial, tetapi juga memiliki dampak sosial yang luas. Sehingga
Selama sembilan hari, BIF akan menghadirkan berbagai kegiatan menarik.
"Ada berbagai jenis kegiatan mulai dari Festival Film, Book Fair, hingga lomba seni Islami seperti Kosidah Hadroh, Marawis, dan Kiraatul Kutub," sebutnya.
Di sore hari, festival ini juga akan menjadi ajang berbagi dengan adanya pembagian 12 ribu paket takjil yang disebar di enam kecamatan.
Semua ini, kata Arief, bertujuan agar Ramadan tahun ini tidak hanya menjadi momen spiritual tetapi juga mempererat solidaritas sosial.
Namun, BIF bukan sekadar ajang hiburan dan perayaan. Di balik kemeriahannya, ada satu misi besar yang ingin diusung. Misi tersebut membangun kesadaran masyarakat terhadap isu kesehatan, khususnya stunting.
ICMI memperkenalkan Gerakan Umat Beragama Peduli Stunting (Gemah Penting). Gerakan ini melibatkan para tokoh agama untuk menjadi agen perubahan di komunitas masing-masing.
"Selama ini penanganan stunting di Kota Bogor telah berjalan melalui beberapa program. Namun, peran komunitas keagamaan belum sepenuhnya dimanfaatkan," ujarnya.
Mereka ingin mengikutsertakan tokoh agama dalam penanganan stunting. Tokoh agama akan diberi pelatihan agar bisa memahami stunting dan cara pencegahannya, lalu menyebarkan informasi ini ke komunitas masing-masing.
"Inilah yang ingin kami ubah. Tokoh agama memiliki peran besar dalam menyampaikan pesan kepada jamaahnya," ungkapnya.
BIF 2025 bukan hanya tentang festival Islami. Ini adalah ajang pertemuan gagasan, solidaritas, dan kepedulian.
Bagi ICMI, festival ini bukan sekadar acara tahunan, melainkan awal dari sebuah gerakan besar yang akan terus berkembang.
"Tahun ini adalah permulaan. Insya Allah, tahun depan lebih besar, lebih meriah, dan lebih bermakna," pungkasnya.
Festival ini mendapat sambutan positif dari Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim. Tak hanya rangkaian kegiatan namun juga kolaborasi lintas agama dalam penanganan isu sosial seperti stunting dinilai langkah baik untuk warga kota.
"Kota Bogor adalah kota toleran. Ketika masyarakat dari berbagai latar belakang bisa bersatu untuk mengatasi masalah sosial, itu menjadi bukti nyata bagaimana keberagaman bisa menjadi kekuatan," ujarnya.
Selain stunting, Dedie juga menyinggung masalah sampah, yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi Kota Bogor.
Ia menyoroti kota belum memiliki tempat penampungan sampah sehingga harus mengeluarkan biaya besar untuk membuang sampah ke kabupaten lain.
Menurutnya, persoalan ini perlu diselesaikan dengan pendekatan berbasis teknologi dan kolaborasi lintas sektor. Peran akademisi dan komunitas keagamaan sangat penting untuk membangun kesadaran masyarakat.
"Kita harus mulai dari kesadaran sederhana, seperti tidak membuang sampah sembarangan, terutama ke sungai dan saluran air," tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Dedie mengajak ICMI dan komunitas agama untuk turut serta dalam gerakan Bogor Bersih. Ini bertujuan mengedukasi masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan.
"Islam itu mengajarkan kebersihan. Jadi ini juga bagian dari syiar kita," tambahnya.
Di penghujung acara, Dedie membagikan sebuah kisah yang ia temukan di media sosial. Kisah itu tentang seorang anak Kristen yang ikut berbuka puasa bersama teman-temannya di bulan Ramadan.
Baginya, ini adalah gambaran nyata toleransi dan kebersamaan tumbuh secara alami di tengah masyarakat.
"Kita mungkin berbeda agama, berbeda suku, tetapi kita punya satu tujuan: membangun Kota Bogor yang lebih baik, lebih bersih, lebih peduli terhadap sesama," katanya. (uma)
Editor : Yosep Awaludin