RADAR BOGOR - KH Sholeh Iskandar salah satu sosok penting dalam peradaban islam di Bogor. Keberaniannya saat melawan Belanda hingga kepiawaiannya dalam berdakwah sebagai ulama, membuat namanya melekat di hati masyarakat.
KH Sholeh Iskandar lahir pada tanggal 22 Juni 1922 di wilayah Bogor bagian barat, percisnya di Desa Situ Udik Kabupaten Bogor. Dia berasal dari keluarga para pemuka agama. Ayahnya saja ulama tersohor di Banten yakni Haji Tubagus Arfin.
Oleh karena itu, pengetahuan tentang ilmu agama KH Sholeh Iskandar sudah tidak diragukan lagi. Ditambah sejak tahun 1932, ulama ternama di Bogor ini sedari muda banyak menyambangi Pondok Pesantren untuk menambah khazah keislamannya.
“Termasuk di Pesantren Cantayan Sukabumi di bawah asuhan Kyai Haji Ahmad Sanusi,” beber Rektor Universitas Ibn Khaldun Bogor, Prof Endin Mujahidin.
Kedalaman ilmu agamanya tidak membuat dia anti pati tentang kehidupan sosial. Tetapi bekal ilmu agama itulah yang justru menjadi modal dan pendorong utama mengapa Sang Kiai begitu getol dalam melawan penjajahan Belanda dan kebatilan.
Selepas dirinya mengenyam pendidikan, KH Sholeh Iskandar langsung tancap gas untuk melawan praktik kejahatan. Pada tahun 1936 dia pulang kampung halamannya, namjn kondisinya justru membuag dirinya terkejut.
“Warga saat itu dipaksa membayar pajak yang tidak adil kepada kolonial Belanda, ini rupanya telah berlangsung sejak tahun 1912. Pajak yang tinggi dan aturan-aturan yang tidak adil membuat masyarakat semakin miskin dan banyak yang mati kelaparan,” jelas Prof Endin.
Prof Endin menyebut, kondisi itu membuat sang Dai itu menjadi geram. Hati kecilnya langsung memberontak melihat kejahatan nampak terjadi di depan matanya. Dan korbannya adalah orang terdekatnya.
Akhrinya pada tahun 1937 KH Sholeh Iskandar mendirikan organisasi pemuda bernama Syubbanul Muslimin. Organisasi ini menjadi kalal besarnya untuk memberikan perlawanan kepada para penjajah belanda.
“Organisasi ini mengajak masyarakat untuk menolak membayar pajak kepada kolonial Belanda dan melawan perlakuan sewenang-wenang,” ujar Prof Endin.
Prof Endin menyebut langkah taktis KH Sholeh Iskandar mendirikan organisasi itu cukup berhasil. Dalam waktu dua bulan, Syubbanul Muslimin meluas ke desa-desa lain seperti Pamijahan, Cigamea, dan Ciasmara.
Singkat cerita semakin banyak warga yang berteriak untuk melakukan penolakan akhirnya Masyarakat kampung halamannya bisa bernafas lega.
“KH. Sholeh Iskandar meninggal 1 dunia pada tanggal 22 April 1992 di usia 70 tahun, Banyak orang yang datang untuk melepas kepergiannya termasuk tokoh masyumi dan tokoh pergerakan lainnya,” pungkasnya.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga