RADAR BOGOR – Sebagai upaya mendorong diversifikasi pangan dan mengurangi ketergantungan pada kedelai impor, Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) bekerja sama dengan Rumah Pangan Nusantara (RPN) dan Narasa Indonesia, menggelar Focus Group Discussion (FGD).
Kegiatan yang didukung penuh oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bogor itu, berlangsung di Gedung Negara Karesidenan Bogor pada Kamis (13/3/2025).
FGD bertajuk 'Mendukung Pemanfaatan Pangan Lokal – Kacang Koro Pedang untuk Peningkatan Produksi, Konsumsi, dan Promosi Tempe Kacang Koro Pedang dan Tempe Kacang Campuran Koro-Kedelai di Kota Bogor' itu, menghadirkan berbagai pemangku kepentingan dari sektor pemerintah, akademisi, pelaku usaha, hingga komunitas pangan.
Mendorong Ketahanan Pangan Lokal
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen GAIN dalam mendukung ketahanan pangan dan gizi melalui pemanfaatan sumber daya pangan lokal yang berkelanjutan. Inisiatif ini juga menjadi tindak lanjut dari Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi Kota Bogor.
Kacang koro pedang, yang mengandung 23,6% protein dan 57,3% karbohidrat, dinilai memiliki potensi besar sebagai bahan baku alternatif untuk tempe yang kaya nutrisi dan lebih ramah lingkungan.
Menjawab Tantangan Produksi dan Suplai Bahan Baku
Sejak didirikan pada 2021 oleh Dr. Ir. Agus Somamihardja, M.M., RPN telah aktif mempromosikan tempe koro pedang melalui berbagai inisiatif, termasuk pengenalan kepada pemangku kepentingan, pelatihan pembuatan tempe bagi pengrajin, serta kolaborasi dengan institusi pendidikan dalam penelitian dan pengembangan produk berbasis kacang koro pedang.
Namun, produksi tempe koro pedang masih menghadapi kendala, terutama dalam suplai bahan baku. Pada 2023, RPN hanya mampu memproduksi sekitar 9.943 keping atau setara 1,9 ton, jauh di bawah kapasitas terpasang sebesar 7,5 ton per tahun.
Salah satu penyebab utama adalah minimnya petani yang menanam kacang koro pedang akibat terbatasnya akses benih dan ketidakpastian pasar.
Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan strategi yang mencakup kemitraan dengan petani, penguatan rantai pasok, serta kebijakan pendukung yang memastikan keberlanjutan produksi.
Devina Sandriati, S.TP, Direktur Narasa Indonesia, menegaskan pentingnya membangun ekosistem bisnis pangan berbasis kacang koro di Kota Bogor guna meningkatkan keberlanjutan industri ini.
“Kacang koro memiliki kandungan protein, karbohidrat dan serat yang tinggi serta lemak rendah, cocok dikonsumsi oleh semua usia. Dengan pemanfaatan yang lebih luas, kacang koro dapat menjadi alternatif maupun komplementer terhadap sumber protein nabati lain di Indonesia,” ujarnya.
Sinergi untuk Masa Depan Pangan Berkelanjutan
Bersamaan dengan program di Bogor, GAIN juga bekerjasama dengan Rumoh Pangan Aceh untuk menggali potensi budidaya hingga pengolahan pangan berbasis kacang koro.
Program ini menargetkan pengelolaan lahan seluas 8 hektar untuk budidaya kacang koro serta pembangunan rumah produksi skala kecil guna mendukung produksi tempe koro di Aceh.
Upaya ini diharapkan dapat memastikan keberlanjutan produksi serta membangun ekosistem bisnis berbasis kacang koro yang dapat diterapkan di berbagai daerah.
FGD ini bertujuan untuk mengidentifikasi peluang dan tantangan dalam budidaya, pengolahan serta pemasaran tempe berbahan dasar kacang koro pedang. Sebelumnya sudah dilakukan FGD yang sama dengan Rumoh Pangan Aceh.
Ibnu Budiman S.Si, M.Sc., Ph.D, Environment Manager GAIN Indonesia, menyampaikan diversifikasi pangan berbasis kacang koro pedang tidak hanya mendukung ketahanan pangan lokal, tetapi juga berkontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan karena kacang-kacangan lokal merupakan pangan bernutrisi yang ramah lingkungan.
Acara ini turut melibatkan berbagai instansi, seperti Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bogor, akademisi dari IPB University, pelaku usaha, dan koperasi pangan.
Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan dapat menghasilkan langkah konkret dalam pengembangan industri tempe alternatif di Indonesia.
Sebagai tindak lanjut dari FGD ini, GAIN, RPN, beserta Narasa Indonesia akan terus berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan untuk memastikan implementasi yang efektif dari program diversifikasi pangan ini.
Harapannya, inovasi pangan lokal seperti tempe koro pedang dapat menjadi bagian dari solusi dalam membangun sistem pangan yang lebih inklusif, sehat, dan berkelanjutan di Indonesia. (***)
Editor : Yosep Awaludin