Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Komunitas GPSN Gelar Buka Puasa Bersama, Ajang Silaturahmi dan Konsolidasikan Pelestarian Golok

Fikri Rahmat Utama • Minggu, 16 Maret 2025 | 08:09 WIB
Foto bersama pegiat budaya dan Wali Kota Bogor Dedie A Rachim usai menggelar Bukber GPSN.
Foto bersama pegiat budaya dan Wali Kota Bogor Dedie A Rachim usai menggelar Bukber GPSN.

RADAR BOGOR – Komunitas Golok Pedang Sepuh Nusantara atau GPSN menggelar buka puasa bersama di Graha Pena Radar Bogor, Sabtu (15/3/2025).

Acara bukber GPSN ini dihadiri para pegiat budaya dari Bogor, Karawang, Bekasi, Tangerang, Cianjur, Sukabumi, hingga Jakarta.

Selain sebagai ajang silaturahmi, kegiatan ini menjadi forum konsolidasi GPSN untuk memperkuat gerakan pelestarian golok di Indonesia.

Ini merupakan tahun ke 10 kegiatan ini dilaksanakan dengan tema yang berbeda setiap tahunnya.

Dewan Pembina GPSN, Gatut Susanta, menegaskan komunitasnya terus mendorong pengesahan golok sebagai warisan budaya UNESCO.

Saat ini, baru Golok Banten dan DKI Jakarta yang diakui secara resmi. Tahun ini, pihaknya menargetkan pengesahan Golok Jawa Barat agar semakin banyak daerah yang mengakui warisan ini secara formal.

"Jika sudah ada tiga provinsi yang mengesahkan, peluang untuk mendapatkan pengakuan yang lebih luas akan terbuka lebar," jelasnya.

Menurutnya, pelestarian golok tidak hanya sebatas simbol, tetapi harus didukung oleh dokumentasi sejarah dan literasi yang kuat.

Kolaborasi antar pegiat budaya menjadi faktor penting agar warisan ini tetap lestari dan mendapat pengakuan secara nasional maupun internasional.

"Semangat kebersamaan menjadi kunci utama dalam menjaga eksistensi budaya lokal. Seluruh pendanaan acara ini pun berasal dari patungan anggota komunitas, tanpa menggunakan dana APBD maupun APBN," jelasnya.

Wali Kota Bogor, Dedie Rachim, yang turut hadir dalam acara tersebut, mengapresiasi upaya para pegiat budaya dalam menjaga warisan leluhur.

Ia menegaskan pelestarian budaya tidak cukup sebatas seremoni, tetapi harus diwujudkan dengan bentuk karya nyata.

Dedie menyoroti pentingnya museum sebagai pusat dokumentasi dan edukasi budaya.
Untuk itu, Pemkot Bogor berencana membentuk tim kurator yang akan mengelola benda-benda bersejarah agar dapat dipamerkan kepada publik.

"Saya para pelestari budaya yang memiliki koleksi pusaka di rumahnya bersedia menghibahkan atau menitipkan benda-benda bersejarah ke museum, agar tidak kosong," ujarnya.

Menurutnya, koleksi museum bisa mencakup berbagai benda pusaka seperti keris, golok, kujang, dan artefak lain yang memiliki nilai budaya tinggi.

Ia mencontohkan Museum Sribaduga di Bandung sebagai model pengelolaan yang bisa diterapkan di Bogor.

Dedie juga menekankan pentingnya literasi dalam pelestarian budaya. Menurutnya, banyak pengajuan warisan budaya yang gagal diakui karena minimnya referensi tertulis.

Oleh karena itu, ia mengajak budayawan dan akademisi untuk lebih aktif mendokumentasikan sejarah dan tradisi melalui penelitian serta publikasi.

"Kita tidak ingin warisan budaya kehilangan konteks sejarahnya hanya karena kurangnya referensi," ungkapnya.

Ke depan, Dedie berharap Bogor bisa menjadi pusat kajian budaya Sunda yang kuat. Para pegiat budaya termasuk GPSN diharapkan dapat berkontribusi dalam membangun narasi sejarah yang lebih solid.

"Kita tentu ingin agar budaya lokal bisa diakui secara nasional maupun internasional," bebernya. (uma)

Editor : Yosep Awaludin
#bogor #GPSN #buka puasa bersama