Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Perjalanan Hijrah Ustadz Bertato Bayu Chandra Bahari, Berubah Setelah Terguncang Akibat Kematian Ibunda

Fikri Rahmat Utama • Selasa, 18 Maret 2025 | 11:40 WIB
Ustadz Bayu Chandra saat memberikan tausiyah di Masjid Al-Muslimun di Bantarjati, Kota Bogor.
Ustadz Bayu Chandra saat memberikan tausiyah di Masjid Al-Muslimun di Bantarjati, Kota Bogor.

RADAR BOGOR - Ustadz Bayu Chandra, yang dulu terjerumus dalam dunia malam dan narkoba, kini menjalani perjalanan hijrah. Dia aktif mengajarkan agama dan mendampingi mereka yang ingin berubah.

Malam itu, Masjid Al-Muslimun di Bantarjati, Kota Bogor, terasa kedatangan tamu spesial. Dialah Ustadz Bayu Chandra Bahari, atau yang akrab disapa Ustadz Bayu.

Malam itu Minggu (16/3/2025) giliran Ustadz Bayu Chandra memberikan kultum di hadapan jamaah sebelum menunaikan ibadah Tarawih.

Seorang pria berbadan tegap, dengan tato memenuhi tubuhnya, melangkah menuju mimbar. Gamis hitam panjang membalut tubuhnya yang kekar, sementara senyum tak pernah lepas dari wajahnya.

Tatapannya menyapu ruangan, seakan membaca pikiran mereka yang masih terheran-heran dengan sosoknya. Namun, saat ia mulai berbicara, suara tegas dan penuh keyakinan itu menghapus keraguan.

Di balik penampilannya yang tak biasa bagi seorang ustadz, tersimpan kisah hijrah penuh liku. Bayu Chandra bukanlah seorang santri sejak kecil yang meniti jalan dakwah tanpa rintangan.

Sebaliknya, ia pernah terjebak dalam dunia malam, narkoba, dan kehidupan yang jauh dari nilai agama.

"Saya dikenal sebagai Ubay, Ustadz Bayu, atau Ustadz Tato. Saya pernah jadi tato artis, anak motor, dan sempat tenggelam dalam dunia narkoba serta human trafficking," ujarnya, mengenang masa lalu.

Bayu lahir di keluarga yang taat beragama. Ibunya seorang dosen di Universitas Al-Azhar dan Muhammadiyah Sukabumi, sementara ayahnya kepala sekolah di sebuah pesantren.

Sejak kecil, ia sudah mendapat pendidikan agama, bahkan menimba ilmu di beberapa pesantren ternama. Namun, setelah lulus, dunianya berubah drastis.

"Begitu keluar dari pesantren, rasanya seperti kuda lepas dari kandang. Saya bebas tanpa kontrol, dan akhirnya terjerumus dalam kehidupan malam," katanya.

Tahun 2010 menjadi titik awal kejatuhannya. Setelah berselisih dengan keluarga, ia meninggalkan rumah dan pindah ke Bogor. Di kota itu, ia semakin larut dalam dunia hitam. Narkoba bukan hanya menjadi konsumsi pribadi, tetapi juga barang dagangan.

"Saya tidak hanya pemakai, tapi juga bandar. Bahkan, pernah terlibat dalam dunia gelap lainnya, termasuk perdagangan manusia," ungkapnya.

Namun, semua berubah pada Jumat pagi di tahun 2016. Kabar duka itu datang. Ibunya meninggal dunia. Saat itu, ia masih dalam pengaruh sabu. Dengan langkah gontai, ia pulang ke Sukabumi. Sesampainya di rumah, ibunya sudah terbujur dalam kafan.

"Saya tidak bisa melakukan apa-apa. Semua ilmu agama yang dulu saya pelajari terasa sia-sia. Dan yang paling menyakitkan, ibu saya tidak sempat melihat saya berubah," kenangnya sambil menahan air mata.

Kesedihan itu mengguncang kesadarannya. Tahun berikutnya, ia memutuskan melakukan perjalanan spiritual—touring motor dari Bogor ke Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara Barat.

Dalam perjalanan, ia berusaha kembali shalat lima waktu, meski tak mudah. "Bali jadi ujian terberat. Godaannya luar biasa. Tapi saya berusaha tetap teguh," katanya.

Setelah kembali dari perjalanan itu, ia mencari bimbingan dan mulai belajar agama dari awal. Namun, hijrah bukanlah jalan yang mudah.

Saat pertama kali kembali ke masjid, tatapan curiga menyambutnya. Ada yang buru-buru mengunci kotak amal saat melihatnya datang. Bahkan, gerbang masjid langsung dikunci saat dia keluar.

"Saya paham, penampilan saya bikin orang ragu. Tapi saya tidak bisa menutupi tubuh saya dengan helm setiap kali ke masjid, kan?," ujarnya sambil tersenyum.

Uang yang ia peroleh dari dunia hitam pun habis dalam sekejap. Namun, bukannya menyesal, ia justru bersyukur.

"Harta haram itu memang tidak berkah. Allah SWT menghabiskannya untuk saya, agar saya bisa memulai lembaran baru," katanya.

Seiring waktu, ia terus membuktikan hijrah bukan sekadar ucapan. Kini, ia aktif mengajar di Masjid An-Nur, Kompleks Cilendek Indah, Kota Bogor.

Ia juga menjadi pembina di komunitas hijrah Sahabat Sejalan, tempat mantan preman dan anak motor belajar agama tanpa rasa malu.

"Di komunitas ini, semua orang diterima apa adanya. Kami bukan orang saleh, tapi kami ingin menjadi lebih baik," bebernya.

Selain mengisi kajian, Bayu juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Ia pernah membina dua yayasan rehabilitasi narkoba dan mendampingi mereka yang ingin keluar dari dunia gelap.

"Yang terpenting bukan bagaimana masa lalumu, tapi bagaimana kau menata masa depanmu," ujarnya.

Kini, Ustadz Bayu Chandra menjalani hidupnya dengan semangat dakwah. Ramadhan menjadi momen kesibukannya.

Selain mengisi kajian dan menjadi imam tarawih, ia juga mendampingi para pemuda yang ingin berubah.

"Dulu, orang bertato sering dikucilkan di masjid. Tapi sekarang, stigma itu mulai pudar. Banyak yang melihat niat baik di balik hijrah," jelasnya.

Ia bangga melihat semakin banyak orang dengan latar belakang sepertinya kini aktif di masjid. Ada yang menjadi marbot, pengurus, bahkan guru ngaji. "Saya hanya ingin bermanfaat. Kalau saya bisa berubah, siapa pun bisa," pungkasnya.

Dari gelapnya dunia malam, ia menemukan cahaya iman. Kini, Ustadz Bayu Chandra berusaha menjadi lentera bagi mereka yang ingin kembali ke jalan yang benar. (uma)

Editor : Yosep Awaludin
#bogor #Bayu Chandra #ustadz