RADAR BOGOR - Para remaja putri atau pelajar di sekolah-sekolah bakal jadi sasaran pencegahan stunting.
Mereka akan diikutsertakan ke program tes hemoglobin (HB) dan diberikan tablet tambah darah dan suplemen gizi.
Program dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor ini adalah respon untuk menanggulangi stunting. Mereka tidak hanya ingin fokus pada balita namun juga dengan pencegahan sejak remaja.
Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, menegaskan stunting bukan hanya masalah kurang gizi pada balita, tetapi juga berakar sejak masa remaja.
Remaja putri yang mengalami anemia memiliki risiko lebih tinggi melahirkan anak stunting di masa depan.
Oleh karena itu, intervensi sejak dini menjadi langkah krusial dalam memutus rantai stunting di Kota Bogor.
“Kami tidak bisa hanya berfokus pada bayi dan balita saja. Stunting bisa dicegah sejak remaja dengan memastikan kadar hemoglobin mereka cukup sebelum memasuki usia pernikahan dan kehamilan,” ujar Jenal usai memberikan bantuan makanan tambahan kepada anak-anak stunting di RW 6, Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Bogor Selatan, Selasa (18/3/2025).
Dalam upaya ini, Pemkot Bogor menginstruksikan Dinas Kesehatan untuk aktif melakukan tes HB bagi remaja putri di sekolah-sekolah dan komunitas.
Program ini juga diintegrasikan dengan edukasi mengenai pola makan sehat, konsumsi protein, serta pentingnya zat besi bagi pertumbuhan dan perkembangan remaja.
"Kita membutuhkan kerja terbaik dari Dinas Kesehatan untuk mengidentifikasi kondisi ibu hamil dan anak remaja yang berisiko," ungkapnya.
Jenal Mutaqin juga mengusulkan agar anggota DPRD Kota Bogor menjadi bapak asuh bagi anak-anak stunting.
Inisiatif ini dapat menambah dukungan bagi keluarga yang membutuhkan bantuan pemenuhan gizi dan akses kesehatan.
Lebih jauh, Pemkot Bogor menekankan distribusi bantuan bagi anak-anak stunting ke depan akan dilakukan secara lebih terukur dan berbasis data.
Sehingga dapat memberikan dampak maksimal bagi mereka yang benar-benar membutuhkan.
“Stunting memiliki kondisi yang berbeda-beda. Tidak semua anak stunting membutuhkan intervensi yang sama," ungkapnya.
Kepala Puskesmas Pamoyanan, Husnul Khatimah, menekankan anemia pada remaja putri bukan sekadar masalah kesehatan individu, tetapi juga berdampak pada kualitas generasi mendatang.
Menurutnya, perempuan dengan kadar hemoglobin rendah berisiko tinggi mengalami komplikasi saat kehamilan dan melahirkan bayi dengan gangguan pertumbuhan.
Mereka sendiri sudah melakukan tes HB di beberapa sekolah sebagai langkah awal. Lalu mereka juga mendistribusikan tablet tambah darah ke anak sekolah.
"Kita ingin memastikan mereka tidak mengalami kekurangan zat besi, yang bisa berdampak pada kesehatan janin jika nanti mereka hamil,” jelasnya.
Program ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang Pemkot Bogor dalam menekan angka stunting.
Selain intervensi pada remaja, Pemkot juga memperluas cakupan program kepada calon pengantin dan ibu hamil, dengan menekankan pentingnya asupan gizi yang cukup sejak sebelum kehamilan. (uma)
Editor : Alpin.