RADAR BOGOR - Suasana di Vihara Dhanagun, Jalan Suryakencana, Kota Bogor, terasa berbeda pada Rabu (19/3/2025).
Di antara aroma dupa yang khas Vihara Dhanagun, terdengar lantunan Hadroh memenuhi halaman vihara.
Puluhan anak yatim duduk rapi, menanti waktu berbuka puasa. Mereka tersenyum saling bercerita satu sama lain, lalu para tokoh agama dan masyarakat juga terlihat hadir memenuhi halaman.
Buka puasa bersama di Vihara Dhanagun bukan sekadar acara tahunan. Selama sepuluh tahun terakhir, kegiatan ini menjadi simbol kebersamaan di Kota Bogor.
Tahun ini, panitia memilih tema Merajut Kebersamaan di Bulan Ramadan, menegaskan berbagi tak mengenal sekat agama maupun suku.
Hetty Yasin Rahardja, Ketua Panitia, mengatakan tahun ini acara difokuskan untuk anak-anak yatim berusia 5 hingga 12 tahun. Mereka sengaja memilih umur tersebut karena berbagai alasan.
“Sebelumnya kami membantu anak-anak di atas 12 tahun, tetapi kali ini kami ingin memberi perhatian khusus kepada yang lebih muda. Lalu Anak-anak di bawah lima tahun sebaiknya tetap di rumah karena malam hari tidak baik bagi mereka," katanya.
Acara ini tak hanya tentang berbuka puasa. Sejumlah donatur turut berpartisipasi, mulai dari individu hingga komunitas. Mereka ingin berbagi ke sesama apalagi saat ini bulan penuh berkah.
“Banyak pihak yang membantu, termasuk donatur pribadi dan vihara,” ujar Hetty.
Tak kurang 400 anak yatim hadir dalam acara ini. Menurutnya ini adalah momen untuk berbagi sehingga semakin banyak yang bisa diberikan maka semakin baik.
"Mudah-mudahan tahun depan kita diberikan rezeki lebih banyak sehingga bisa buat lagi dan lebih banyak yang diundang," bebernya.
Kegiatan ramadan di Vihara Dhanagun ini terbagi dalam dua tahap. Pertama hari ini bersama anak yatim dan nanti tanggal 23 bersama 200 anak spesial atau difabel.
"Ini merupakan wujud dari kepedulian dan kasih sayang kami kepada terhadap anak-anak yatim yang membutuhkan bantuan dan perhatian," ungkapnya.
Menjelang azan magrib, suasana kian hangat. Sejumlah tokoh agama duduk berdampingan. Ada Ketua MUI Kota Bogor, KH. TB. Muhidin, Romo Mikael M. Susanto dari Kuskupan Bogor, berbagai tokoh masyarakat juga hadir menjadi bentuk toleransi yang sudah mengakar di Kota Bogor.
KH. TB Muhidin menegaskan bahwa kebersamaan seperti ini harus terus dijaga.
Sebab sudah 10 tahun digelar sehingga menjadi simbol toleransi dan kerukunan umat beragama.
"Mudah-mudahan tahun depan tetap bisa berlangsung dengan lebih banyak donatur dan dukungan,” katanya.
Sementara itu, Romo Mikael menyampaikan apresiasinya terhadap Vihara Dhanagun. Kegiatan ini memberikan contoh keteladanan dalam membangun toleransi.
Baginya, kepedulian terhadap anak yatim bukan hanya tanggung jawab satu agama, melainkan semua pihak. Kepedulian itu adalah wujud cinta kasih antar sesama manusia.
“Paus kami selalu mengingatkan bahwa agama-agama lain bukan pesaing, melainkan mitra dalam bekerja untuk kebaikan bersama," jelasnya.
Ketika azan berkumandang, suasana hening sejenak. Para tamu mengambil takjil, anak-anak menikmati hidangan yang telah disiapkan.
Setelahnya mereka sholat magrib berjamaah. Lalu mereka kembali duduk bersama, berbincang, dan berbagi cerita.
Malam semakin larut, tetapi kehangatan di Vihara Dhanagun masih terasa. Di antara perbedaan, ada cinta yang menyatukan.
Ramadan kali ini, sekali lagi, menjadi pengingat bahwa kebersamaan selalu lebih besar dari perbedaan. (uma)
Editor : Alpin.