RADAR BOGOR - Menjadi seorang mualaf tentu bukan persoalan mudah, seperti yang dialami Rati Kekasih Hani. Sebelum bersyahadat dirinya terus dikelilingi lingkaran tanya soal kebenaran ajaran Islam. Inilah kisah perjalanan Ratih hingga menjadi seorang mualaf.
Rati menceritakan sejak lahir sebenarnya ia berasal dari rahim muslim. Ibunya beragama Islam dan ayahnya mualaf. Namun, setelah menikah, sang ayah ketika itu kembali menjalani agama sebelumnya sebagai nasrani.
Ia mengatakan, sang ayah masih sering bulak balik ke gereja dan mengajak anak-anaknya, termasuk dirinya. Bahkan ayahnya termasuk nasrani yang taat. Sehingga atas dasar itulah, sejak kecil agama yang dianut oleh Rati adalah katolik.
Karena tidak ada kesunggugan hati untuk menjadi seorang muslim, akhirnya ibu dan ayahnya Rati bercerai. Namun Rati tidak tinggal dengan keduanya. Ia dibesarkan oleh ayah dan ibu angkatnya.
“Mereka beragama muslim, nah dari situlah saya mulai mengenal tentang ajaran ajaran Islam, bagaiamana seorang muslim sholat berdoa dan lain-lain,” ujar Rati kepada Radar Bogor, Selasa (25/3/2025).
Meski begitu Rati mengaku tidak sama sekali tertarik untuk pindah agama. Padahal kedua orang tua angkatnya itu sudah sering mengajakanya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.
Rati mengaku perceraian kedua orang tuanya membuat ia skeptis dengan ajaran Islam. Saat itu ia berfikir ajaran Islam menyukai perpisahan karena telah memudahkan dua orang tersayangnya untuk berpisah.
Hingga di tahun 2009, saat Rati memasuki usia 27 tahun, ayah dan ibu angkatnya kembali mengajak Rati untuk memeluk Islam. Awalnya ia risih dengan ajaran tersebut dan menantang sang ayah untuk bisa menjawab dua pertanyaan darinya.
Pertama alasan Islam membolehkan perceraian, yang kedua alasan orang Islam tidak boleh memakan babi. Jika sosok kepala rumah tangga itu mampu menjawab dua pertanyaannya, Rati menjanjikan ia akan memeluk Islam.
“Tidak disangka mereka berhasil menjawab dua pertanyaan saya, akhirnya di hari itu juga ayah ibu langsung memanggil ustaz untuk membimbing saya membaca syahadat,” kisahnya.
Perjuangan belum selesai. Baru jadi mualaf, dua tahun keimanan Rati langsung diuji. Ayah angkatnya meninggal dunia. Saat itu Rati mengaku fikirannya kalut karena harus membiayai ibu angkat dan adik angkat yang masih duduk di bangku SD.
Imbasnya Rati dirinya hampir saja kembali ke agama sebelumnya. Ia merasa aneh, sebab sejak dirinya menjadi muslim masalah terus datang menyelimuti. Entah itu dari faktor eksternal maupun internal atau lingkungan rumah.
“Tapi karena saat itu saya sudah kerja di Daarul Quran maka saya sering berkonsultasi dengan ustaz akhirnya saya bisa sampai sekarang. Buat teman-teman jangan ragu dengan ajaran Islam, yakin Islam adalah rahmat bagi seluruh alam,” pungkasnya.(rp1)
Editor : Eka Rahmawati